oleh

Model Pembangunan Bottom-Up, Kembangkan Ekonomi Kreatif

PortalMadura.Com, Bangkalan – Dinas Pemuda Olah Raga Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur saat ini mengembangkan pola pembangunan ekonomi kreatif sebagai akselerator peningkatan upaya pembangunan daerah.

Hal ini diungkapkan Drs. M. Gufron Jakfar,  Ka. Disporabudpar yang dimaksudkan untuk menciptakan kaukus-kaukus ekonomi yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat dengan produk unggulan tertentu.

“Tentu saja pola pengembangannya harus melihat faktor potensi ekonomi, sumber daya alam dan sumber daya manusia yang tersedia di komunitas masyarakat tersebut,” jelas Gufron, Minggu (10/8/2014).

Pemilihan sektor ekonominya-pun ditentukan oleh kesepakatan dalam komunitas yang dibentuk tersebut.  “Fungsi Disporabudpar hanyalah sebagai mediator dan fasilitator dengan memberikan pertimbangan visible terhadap kemungkinan-kemungkinan pengembangan ekonomi kreatid tersebut,” terang Gufron.

Artinya, lanjutnya, masyarakat juga harus diberikan pencerahan mengenai sumber-sumber potensi yang ada di Desanya untuk dieksplorasi pengembangannya.  “Jangan sampai masyarakat salah memilih sektor ekonomi yang bakal dikembangkan karena minimnya data potensi yang dimiliki mereka,” urainya.

Pasca pengembangannya-pun Disporabudpar akan terlibat aktif dalam proses pendampingan komunitas ekonomi kreatif ini.  “Singkat kata, upgrading skills, administrasi dan optimalisasi potensi sumber daya alam, menjadi tanggung jawab bersama. Dengan melibatkan Disporabudpar dan komunitas ekonomi kreatif,” ujar Gufron.

Beberapa komunitas ekonomi kreatif yang sedang dikembangkan saat ini adalah ekonomi kreatif batik tulis tanjung bumi di Kecamatan Tanjung Bumi, makanan laut olahan di Kec. Socah, sirup salak di Kecamatan Bangkalan, sangkar burung di Kecamatan Tanah Merah, krupuk udang di Kecamatan Kwanyar.

“Beberapa unit usaha ekonomi kreatif tersebut diharapkan mampu menciptakan titik-titik ekonomi masyarakat yang mendorong pada peningkatan pendapatan per kapita penduduk, daya beli masyarakat dan pendapatan asli daerah,” paparnya.

Kedepan, lanjutnya, diharapkan bermunculan komunitas-komunitas ekonomi kreatif baru di titik-titik yang lebih luas lagi.

“Selanjutnya koneksi relasi bagi distribusi penjualan produk-produk yang dihasilkan masyarakat menjadi sangat penting dilakukan.  Kami sudah menjalin link and match dengan beberapa perusahaan besar yang bersedia menampung hasil usaha kelompok ekonomi kreatif ini dengan beberapa klasifikasi yang harus dipenuhi,” ujarnya.

Misalkan jumlah minimal produksi yang dihasilkan, kualitas produksi dan kemasan produk.  “Ini menjadi pekerjaan rumah kami untuk terus melakukan upaya pendampingan kepada kelompok ekonomi kreatif masyarakat ini sehingga pada akhirnya nanti menghasilkan output yang layak jual.  “BahKan layak ekspor,” pungkasnya. (dit/htn)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.