oleh

Moms, Begini Cara Bikin Emosi Anak Remaja Anda Tetap Stabil

PortalMadura.Com – Pada dasarnya, untuk menstabilkan emosi anak remaja memang harus dibekali dengan kemampuan mengelola emosi sejak dini. Orang tua bisa menerapkan pola asuh yang memberi kesempatan kepada mereka untuk mengenali, memahami, mengendalikan, dan mengekspresikan emosi dengan benar.

“Ada sebagian orang tua yang cenderung ‘mematikan’ emosi anak daripada membantu anak mengenali dan mengatasi emosinya. Misalnya, saat anak marah dan menangis, orang tua hanya mengatakan, ‘Sudah, jangan menangis!’ Orang tua tidak membantu anak memahami emosinya—mengapa dia kesal atau sedih—dan tidak membantu anak mengetahui yang harus dilakukan jika merasa kesal, marah, atau sedih,” kata psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjodo.

Selain itu, saat remaja Anda menangis, tanyakan, apa yang membuatnya menangis?. Tawarkan pula solusinya. Misalnya dengan mengatakan, “Kamu sedih karena mainan rusak? Nanti Ibu benarkan. Kalau mainanmu sudah benar, kamu tidak sedih lagi, kan?” Anak harus paham, setiap emosi ada penyebabnya dan semua masalah ada solusinya.

Perlu orang tua ketahui, bahwa tontonan televisi, permainan, dan lingkungan luar rumah bisa ikut memberi andil dalam membentuk karakter anak yang temperamental.
“Sesuatu yang dikonsumsi berulang-ulang dalam jangka waktu lama akan memberikan nilai-nilai yang diserap anak dan diterapkan dalam perilakunya, termasuk nilai-nilai kekerasan,” ucap Vera.

Bahkan, saat anak sering menyaksikan tontonan yang mengandung unsur kekerasan, bisa jadi dia akan terpengaruh, tapi bisa juga tidak terpengaruh karena bimbingan yang tepat dari orang tua.

“Masa paling penting dalam pembentukan karakter adalah 5 tahun pertama sampai usia remaja, bergantung pada lingkungan seperti apa anak tumbuh dan berkembang. Ada juga orang tua yang ada di rumah tapi tidak sepenuhnya hadir untuk anak, sehingga anak lebih banyak menerima pengaruh dari luar rumah,” ujarnya.

Namun yang sering tidak disadari, terbentuknya karakter anak terkadang dipengaruhi orang tua sendiri. “Contoh langsung dari bagaimana orang tua mengekspresikan emosi dan bagaimana orang tua menyelesaikan konflik dengan orang lain juga akan dipelajari anak,” tuturnya.

Ketika orang tua sering merespons sesuatu dengan marah, anak akan meniru. Reaksi orang tua terekam dalam otak anak, sehingga anak menganggap marah adalah reaksi yang wajar ketika emosinya tersulut. Maka dari itu sebagai orang tua yang cerdas, Anda harus bisa menjadi contoh yang baik bagi remaja Anda. (tempo.co/Salimah)


Tirto.ID
Loading...

Komentar