oleh

Mondokkan Anak Sekaligus Titipkan Sapinya

PortalMadura.Com, Pamekasan – Pondok pesantren Al-Fatih Desa Klampar Kecamatan Proppo, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, menerapkan sistem pesantren terintegratif.

Apa itu? Para wali santri tidak perlu bingung untuk membiayai putra-putrinya untuk mondok di pesantren tersebut, cukup menitipkan satu sapi kepada pengasuh. Sapi yang dititipkan kepada pengasuh tersebut bukan otomatis hilang, melainkan akan dikembalikan dalam kurun lima tahun.

Bahkan, satu sapi milik wali santri tersebut akan dikembalikan kepada pemiliknya dalam jumlah yang lebih banyak. Yakni 3 sampai 4 ekor sapi dalam lima tahun. Sebab, sapi-sapi milik orang tua santri tersebut dikelola melalui koperasi pondok pesantren.

“Alhamdulillah, Pesantren Al Fatih sudah menyediakan lahan guna dimanfaatkan buat memelihara sapi dari wali santri. Konsekuensi positifnya, kebutuhan makan harian santri dijamin oleh pesantren,” kata Pengasuh Pondok Pesantren Al Fatih, KH. Ilzamuddin, Minggu (25/4/2021).

Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) Kabupaten Pamekasan itu menambahkan, lahan yang disediakan saat ini cukup untuk 200 ekor sapi tanpa ngarit. Pesantren juga melakukan perluasan lahan untuk akses roda empat untuk kepentingan pengangkutan sapi.

“Pesantren Al Fatih juga memiliki lahan pertanian. Hasil pertanian inilah yang membuat pesantren berdaya, tidak perlu beli beras, jagung, dan sayuran. Semuanya sudah tersedia,” terangnya.

Dikatakan, kotoran sapi dari peternakan pesantren dimanfaatkan untuk pupuk pertanian milik pesantren juga. Sehingga kotoran sapi tidak terbuang sia- sia, namun diolah menjadi pupuk kandang.

“Itulah yang dinamakan pertanian terintegratif. Kami juga menginisiasi penanaman porang, jagung dan rumput gajah. Pupuknya dari kotoran sapi. Limbah pertanian tersebut bisa untuk pakan sapi,” urainya.

Dia melanjutkan, pertanian terintegratif itu tidak hanya memenuhi kebutuhan makan harian santri atau berkaitan dengan investasi para wali santri saja. Melainkan pertanian integratif menjadikan tanah tidak bergantung pada pupuk kimia. Melalui pemanfaatan pupuk kandang, tanah menjadi subur dan sehat kembali.

“Kita tentu mengakui betapa pupuk kimia membuat tanah rusak, petani juga punya ketergantungan tinggi terhadap pupuk kimia tersebut. Biaya pertanian menjadi membengkak,” lanjut dia.

Pertanian terintegratif, lanjut kyai Ilzam bisa menekan biaya produksi petani dan petani mandiri. Pihaknya berusaha agar pertanian terintegratif juga menjadi tradisi aktif dalam kehidupan warga Nahdliyin.

Penulis : Marzukiy
Editor : Desy Wulandari

Komentar