oleh

Orang Tua Korban, Tak Ada Firasat Sebelum Anaknya Meregang Nyawa di Tangan Siswanya Sendiri

PortalMadura.Com, Sampang – Insiden dugaan penganiayaan dan mengakibatkan seorang guru honorer meninggal dunia yang dilakukan seorang siswa SMAN I Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur seakan tak membuat percaya pihak keluarga korban.

Tak ada firasat apapun pada orang tua korban. Bahkan, sebelum kejadian, korban juga tidak pernah mengeluh apapun dan kehidupannya normal-normal saja. “Tidak ada firasat apapun, mas! kalau kami akan ditinggalkan. Jadi, kami harap penegak hukum memproses seadil-adilnya,” kata M. Satuman Ashari (50), orang tua Budi.

Budi adalah sapaan akrap Achmad Budi Cahyanto (bukan Cahyono) umur 27 tahun, merupakan tenaga honorer SMAN I Torjun, Sampang dengan memegang mata Pelajaran Kesenian. Korban diduga dianiaya oleh siswanya sendiri, berinisial MH kelas XI hingga berujung maut.

Penganiayaan itu terjadi pada saat jam pelajaran terakhir, Kamis (1/2/2018). Saat itu, pelaku tidak mendengarkan pelajaran dan justru mengganggu teman-temannya dengan mencoret-coret lukisan peserta didik yang lain.

Korban berusaha memperingati pelaku. Namun, bukan mengindahkan, melainkan tambah menjadi-jadi dan akhirnya korban menindak siswa tersebut dengan mencoret pipinya menggunakan cat lukis.

Tak terima dengan tindakan sang guru, pelaku tiba-tiba menghampiri korban dan menghajar membabi buta pada bagian kepala korban. Siswa lain dan para guru yang tahu peristiwa itu berusaha melerai.

Korban akhirnya mengadukan peristiwa tersebut kepada kepala sekolah setempat dan dilakukan mediasi. Dan korban mendapat izin pulang lebih awal. Sesampainya di rumah, korban merasa sakit leher hingga kepala pusing.

Karena semakin parah, pihak keluarga membawa korban ke RSUD Sampang dan akhirnya dirujuk ke RS dr Soetomo Surabaya. Sayang, sekitar pukul 21.40 WIB, Kamis (1/2/2018) pihak RSU dr Soetomo Surabaya menyatakan bahwa korban meninggal dunia.

Sejak mendapat kabar tersebut, Polisi Sampang bergerak cepat mengamankan pelaku.

M. Satuman Ashari juga meminta pihak sekolah ikut bertanggung jawab penuh atas peristiwa tersebut. Sebab, peristiwa itu terjadi ketika jam pelajaran berlangsung.

“Kami minta sekolah memback up penuh. Semua yang terlibat di dunia pendidikan lebih-lebih SMAN 1 Torjun bertanggung jawab penuh atas meninggalnya putra saya dengan tidak wajar,” katanya.

Menurutnya, kepergian putranya yang bersifat penyabar itu, membuat keluarga besarnya sangat kehilangan. Sebab sebelumnya tidak ada tanda-tanda akan meninggalkan keluarga dengan tidak wajar.

Almarhum meninggalkan seorang istri yang sedang hamil muda 5 bulan. (Isrok/Hartono)


Komentar