oleh

Pangeran Anggasuto Dinilai “Dewa Penyelamat”

PortalMadura.Com, Sumenep – Bagi masyarakat Pinggir papas, Karang Anyar, Kabupaten Sumenep, dan masyarakat Madura pada umumnya, utamanya masyarakat yang berpenghasilan garam, nama Pangeran Anggasuto sudah tidak asing lagi.

Bahkan oleh petani garam, Pangeran Anggasuto sudah dianggapnya sebagai dewa penyelamat dan memberi makan para petani garam. Siapa sebenarnya Pangeran Anggasuto dan mengapa sampai “didewakan”?

Pangeran Anggasuto, merupakan seorang tokoh yang sangat terkenal pada zamannya. Cerita masyarakat setempat, selain sakti mandraguna, Anggasuto juga memiliki keistimewaan yang jarang dimiliki orang lain.

Hingga pada suatu waktu, Pangeran Anggasuto yang berdomisili di sekitar pemakaman Asta Buju’ Gubang, Kampung Kolla, Desa Kebun Dadap Barat, Kecamatan Saronggi, kedatangan tamu tentara kerajaan Bali, yang ingin meminta perlindungan karena akan dibunuh.

Oleh mereka, Pangeran Anggasuto dianggapnya orang sakti yang dipercaya mampu menolong dan menyelamatkan. Dengan keluhuran budi pekertinya yang welas asih, Pangeran Anggasuto mau menolong dan menyelamatkan nyawa mereka dari ancaman pembunuhan, dengan syarat mereka harus mengamalkan ilmu Anggasuto, yakni mengubah air laut menjadi garam.

iklan hari santri

“Cerita yang berkembang secara turun-temurun memang begitu, leluhur kami berguru ilmu menjadikan air laut menjadi garam kepada Pangeran Anggasuto,sehingga tiap akan memulai bertani garam, atau usai panen Pertama dan panen Kedua, diadakanlah acara nyadhar ke Asta (pemakaman, red) Anggasuto,” kata Buk Kiftiye (50), warga Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget, Sumenep.

Dikatakan, Tentara Bali yang diselamatkan oleh Anggasuto, dengan tekun mengamalkan ilmu membuat air laut menjadi garam, sebagaimana yang diajarkan oleh Anggasuto. Akhirnya lama kelamaan, tentara Bali yang tinggal di Desa Pinggi Papas dan sekitarnya, menggantungkan kebutuhan hidupnya pada pembuatan garam.

Namun sebelum mereka memulai pekerjaannya membuat garam, tentara kerajaan Bali terlebih dahulu sowan ke kediaman Anggasuto, di Kecamatan Saronggi. Hal itu tidak hanya dilakukan sebelum mereka akan bertani, melainkan setelah usai panen garam. Dan hingga saat masih kental, dan masyarakat petani garam menyebutnya “Nyadhar” yang artinya bernadar untuk kesuksesan taninya.(dien/htn)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.