oleh

Pastikan Keraton Arya Wiraraja, UNUD Bali Siapkan Tim Peneliti ke Batuputih

PortalMadura.Com, Sumenep – Universitas Udayana (UNUD) Bali dari Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya mempersiapkan tim peneliti untuk memastikan keberadaan Keraton Arya Wiraraja di Kecamatan Batuputih, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Hal tersebut terungkap dalam Seminar Nasional Kesejarahan di Pendopo Kabupaten Lumajang, Jawa Timur kerjasama Pemkab Lumajang dengan UNUD Bali, Sabtu (24/3/2018). Dalam seminar nasional itu, bertajuk “Menyambung Tali Sejarah dengan Tokoh Arya Wiraraja “.

“UNUD akan menindaklanjuti ke Batuputih. Mereka mempersiapkan tim,” terang Tadjul Arifien R, sejarawan Sumenep pada PortalMadura.Com, Senin (26/3/2018), yang juga menjadi narasumber utama pada acara tersebut.

Narasumber lain, adalah Dr. I Nyoman Wijaya, M.Hum (Dosen Sejarah UNUD Denpasar Bali), Zainollah Akhmad, S.Pd. (Dosen Sejarah, UNEJ Jember), dan Mansur Hidayat, S.S., MM (Penulis Sejarah Lumajang), dengan moderator Prof Dr Anak Agung Bagus Wirawan, dari Fakultas Sejarah UNUD Denpasar, Bali.

Seminar Nasional

Tadjul Arifien R mengatakan, sekalipun tidak ada situs penunjang seperti artefak, biota, material bangunan di Keraton Batuputih, Sumenep, namun dengan adanya tiga benda seperti, pohon nomè, tambiyu dan toladhân yang dipaparkan pada seminar nasional tersebut, menjadikan bukti yang cukup kuat untuk menunjang kebenaran bekas Keraton Arya Wiraraja di Dusun Burâs, Desa Batuputih Daya, Kecamatan Batuputih, Sumenep.

Video Tiga Saksi Bisu Bekas Keraton Arya Wiraraja di Batuputih

Dalam uraiannya, ada tiga benda saksi bisu yang diangkat yakni pohon nomè. Dijelaskan, bahwa pohon ini sebagai racun pemoles mata anak panah yang dijadikan sebagai senjata utama (amunisi) peperangan masa lalu, yang juga sebagai bahan kosmetik para putri raja.

Kedua, tambiyu (batu hitam berlubang) merupakan tempat minum kuda, yang kini airnya (dari hujan) dipercaya sebagai obat aneka penyakit (mitos yang diyakini masyarakat setempat).

Dan ketiga, toladhân (pangoladhân), tempat pemantau datangnya armada Tartar yang akan menyerang Singhasari (karena Prabu Kertanegara menyiksa utusan Kaisar Khu Bilai Khan).

iklan hari santri

Baca:  Tiga Saksi Bisu Keraton Arya Wiraraja di Batuputih, Satu Mematikan

Sedangkan analisa Arya Wiraraja berasal dari Karang Nangka, Kecamatan Rubaru (sesuai dengan Pararaton yakni Arya Banyak Wide babatangan buyuting Nangka), juga sulit ditolak, sekalipun dengan catatan ada pengkajian ulang.

Dalam makalah Antropolognya setebal 13 halaman dengan judul Arya Adikara Wiraraja Tonggak berdirinya Kerajaan Majapahit, juga dikupas tuntas tentang strategi politik dan perjalanan Arya Wiraraja dari Batuputih Sumenep sampai ke Tuban, Majapahit hingga Lamajang Tigang Juru.

Pria kelahiran Sumenep ini, juga mengupas tentang geonolog dan situs peninggalan Arya Wiraraja di Batuputih dan Sumenep, antara lain 5 buah Arca motif Hindu, termasuk Tari Gambu (pararaton : tari Sudukan Duwung) dan Topeng Dalang yang dibawa oleh Arya Wiraraja tahun 1269 sesuai dengan penelitian Soenarto Timur 1979-1980 dalam bukunya Topeng Dalang Jawa Timur.

Sedangkan pemateri dari Lumajang, Mansur Hidayat, juga menyampaikan Arya Wiraraja berasal dari Nangkaan Klakah Lumajang, juga sulit terbantahkan.

Pemateri dari UNUD Bali tetap seperti yang tertera dalam buku Siddhimantra Tattwa pada halaman 38, bahwa Arya Wiraraja dari Besakih, Karangasem Bali.

Seminar nasional tersebut dihadiri 150 peserta mahasiswa UNUD Bali, para pegiat sejarag tapal kuda, dan keturunan Arya Wiraraja. Seminar yang diinginkan dapat ditindaklanjuti di Sumenep itu, membahas tentang Arya Wiraraja Tonggak Pendiri Majapahit dan Adipati Sumenep 23 tahun hingga menjadi Raja Muda Majapahit Timur yang dikenal dengan Lamajang Tigang Juru.

PortalMadura.Com melansir dari cahayabaru.id, Ketua Panitia Seminar Nasional, Dr. I Nyoman Sukiade, M.Hum., yang meruppakan Kaprodi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Bali, dalam laporannya menjelaskan, bahwa acara tersebut merupakan bagian dari rangkaian latihan penelitian.

Selain seminar, sebelumnya juga telah dilaksanakan sosialisasi di SMAN 3 Lumajang. Acara itu bertujuan untuk menggali nilai sejarah di masa lampau untuk menemukan keterkaitan sejarah terutama Lumajang, Madura, dan sekitarnya. (Hartono)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.