oleh

Pelayanan Kesehatan Terkendala Kekurangan Dokter & Pustu

PortalMadura.Com, Sumenep –  Ironis sekali pelayanan kesehatan di kepulauan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.

Kabupaten yang ada diujung timur pulau garam Madura dan dikenal sebagai pemasok migas terbesar pada negara, hanya memiliki empat Pondok Bersalin Desa (Polindes) yang kondisinya tidak layak dan hanya ada dua orang dokter.

Padahal, Kecamatan Sapeken terdapat sembilan desa dan terhitung per 30 April 2014, jumlah penduduknya mencapai 51.227 jiwa. Idealnya, tenaga dokter di kecamatan tersebut, mencapai lima orang dokter.

Polindes yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat itu, hanya ada di Desa Sakala dan Desa Sabuntan. Sementara, lima desa lainnya belum memiliki Polindes.

Diakui oleh dr A Fathoni, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumenep, bahwa untuk membangun Puskesmas Pembantu (Pustu) maupun Polindes, dana yang disediakan pemerintah hanya sebesar Rp 125 juta untuk pembangunan satu Pustu atau Polindes.

“Kalau kita mengandalkan dana dari APBD yang hanya Rp 125 juta, tidak mungkin memenuhi kekurangan Polindes di desa-desa, karena anggarannya terlalu kecil. Jika dipaksakan, hasilnya tidak akan sesuai dengan standat pelayan kesehatan,” ujar Fathoni, Selasa (27/5/2014).

Menurut dia, untuk membangun Polindes yang  sesuai dengan spesifikasi dan lengkap, seperti, tersedianya ruang pelayanan, ruang observasi, kamar bersalin dan tempat tidur bidan, maka dibutuhkan dana sebesar Rp 200 juta lebih.

iklan hari santri

Untuk itu, pihaknya mengarahkan pembangunan Polindes agar menggunakan dana Program Nasional Pemberdayan Masyarakat (PNPM) Mandiri Perdesaan, yang jumlah dananya jauh lebih besar dibandinding dana dari APBD yang hanya Rp 125 juta. Sedangkan dana dari PNPM bisa mencapai Rp 200 juta lebih.

Dijelaskan, untuk wilayah Kecamatan Sapeken juga terdapat dua Puskesmas Pembantu (Pustu) yang tidak layak. Yakni, Pustu di Desa Sapangkor dan Desa Pagerungan Kecil. Pustu di Desa Sapangkor sedianya dibangun tahun lalu. Namun, karena ada kendala, lokasi pembangunan dipindah.

“Rencanya, pembangunan Pustu tersebut akan dilakukan tahun depan, kami bersama pihak legislatif sudah berkomitmen untuk melakukanya,” dalihnya.

Fathoni juga mengakui jika masih kekurangan tenaga medis yakni sekitar 50 orang dokter untuk wilayah Sumenep. Jumlah tenaga dokter yang tersedia hingga saat ini masih 52 dokter. Sedangkan pelayanan ideal yang harus diberikan satu dokter, harus berbanding dengan 10 ribu jumlah pendukuk.

“Perimbangannya, satu dokter banding 10 ribu jumlah penduduk. Jadi untuk memberikan pelayanan yang maksimal, masih dibutuhkan 50 dokter lagi, karena 52 dokter yang ada sudah disebar ke 30 rumah sakit atau pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang ada,” tandasnya.(udien/htn)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.