Pemasaran Online Vs Offline, Mana yang Lebih Efektif?

Rewriter: Putri KuzaifahRujukan: Idntimes.com
Pemasaran-Online-Vs-Offline,-Mana-yang-Lebih-Efektif
Ilustrasi (xendit.co)
    Bagikan:

PortalMadura.Com – Pemasaran merupakan kegiatan untuk memperkenalkan, menginformasikan dan menyampaikan nilai suatu produk. Pemasaran ini tidak lain agar pelanggan tertarik dengan produk yang ditawarkan sehingga memperoleh keuntungan yang diharapkan.

Selain itu, dengan kegiatan pemasaran konsumen bisa mendapatkan kepuasan dari produk tersebut. Sekadar diketahui, pemasaran terdiri dari dua jenis, yaitu pemasaran online dan offline. Pemasaran online merupakan kegiatan pemasaran yang dilakukan melalui media daring.

Sedangkan pemasaran offline, lebih dikenal sebagai pemasaran konvensional, mengandalkan media massa untuk menyampaikan informasi. Tujuan pemasaran offline adalah lebih untuk meningkatkan awareness brand. Meski teknologi terus berkembang, pemasaran offline juga masih banyak digunakan oleh brand.

Tak hanya itu, pemasaran online dan offline juga mempunyai berbagai perbedaan mendasar. Berikut ini perbedaannya sebagaimana dilansir PortalMadura.Com, Rabu (9/3/2022) dari laman Idntimes.com:

Jumlah Modal

Jumlah modal yang dikeluarkan untuk kedua model pemasaran tersebut sangat berbeda. Untuk pemasaran offline biasanya akan menghabiskan budget lebih besar karena menggunakan media massa sebagai media kampanye. Sebagai catatan, harga untuk satu kali tayangan iklan di acara televisi bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Selain itu, ada juga biaya untuk mencetak brosur, menyiarkan secara langsung, bertemu tatap muka dan sebagainya yang pasti memakan banyak budget dan tenaga.

Sedangkan dalam pemasaran online, budget yang dikeluarkan tidak sebesar pemasaran konvensional karena dilakukan melalui media daring. Meskipun dilakukan melalui iklan digital (FB Ads, Google Ads, TikTok Ads, Twitter Ads, dan sebagainya), budget yang dikeluarkan tidak sebanyak iklan di media massa. Hal ini karena pada sistem pemasaran offline tidak membutuhkan marketing kit fisik seperti brosur, baliho, videotron, dan sebagainya.

Baca Juga:  Menparekraf Letakkan Batu Pertama Rumah Kemasan UMKM Halal di Sumenep

Namun perlu dicatat, dalam pemasaran online, brand harus mengkombinasikan strategi iklan, optimasi media sosial, SEO, website, dan lain-lain yang tidak banyak menghabiskan anggaran pemasaran dengan hasil yang sama.

Jangkauan Pemasaran

Jangkauan pemasaran kedua metode pemasaran ini juga cukup berbeda. Pada pemasaran offline, jangkauan pemasarannya sangat terbatas karena dibutuhkan kehadiran fisik dari seseorang yang berperan sebagai sales atau media fisik untuk publikasi produk yang dipasarkan. Alhasil, tujuannya hanya sampai pada mereka yang merasakan kehadirannya secara fisik.

Sedangkan pemasaran online dilakukan melalui media internet, di mana orang dapat mengakses bahkan tanpa harus bertemu dengan pihak yang memasarkan. Pemasaran online dapat dilakukan melalui media sosial ataupun media daring lainnya. Jangkauan dari pemasaran ini tak terbatas, bahkan bisa sampai ke luar negeri.

Waktu

Pemasaran digital sangat terikat dengan waktu, di mana pesan akan tersampaikan hanya ketika brand menjalankan kampanye. Misalnya, penyebaran informasi akan terjadi ketika sales menawarkan produknya atau membagikan brosur yang berisi informasi brand.

Sedangkan pemasaran digital akan terus berjalan bahkan ketika brand tidak melakukan aktifitas apapun. Itu karena pemasaran digital terus berjalan selama konten pemasaran masih ada di internet. Orang bisa kapanpun mengakses content marketing tanpa brand harus bergerak sendiri.

Jenis Produk

Dalam hal jenis produk, ketika melakukan pemasaran offline, penjual harus memiliki produk untuk ditampilkan kepada pembeli secara langsung. Hal ini bertujuan agar pembeli dapat mengetahui produk yang akan dibeli secara detail.

Sedangkan pada pemasaran online, produk cukup ditampilkan melalui gambar dengan disertai deskripsi yang mendukung. Penjual juga bisa membuat konten video agar pembeli dapat melihat detail dari produk secara lebih lengkap.

Baca Juga:  Menparekraf: Packaging Produk UMKM Sumenep Butuh Ditingkatkan

Jumlah Produk

Pada bisnis offline, penjual tidak dapat menampilkan jumlah produk kecuali jika sudah menghitung stok. Hal ini sedikit menyulitkan ketika pembeli ingin membeli barang dalam jumlah yang banyak.

Sedangkan pada bisnis online, data jumlah produk biasanya akan ter-update secara otomatis pada sistem ketika terjadi pembelian. Hal ini memudahkan pembeli dalam mencari informasi tentang jumlah barang yang tersedia.

Cara Pembelian

Pada bisnis online, cara pembelian cenderung dilakukan melalui tools atau link pada konten marketing. Penjual biasanya langsung menyebutkan cara pembelian pada konten iklan atau konten pada media sosial.

Sedangkan pada pemasaran offline, untuk pembelian biasanya langsung dilakukan di toko fisik milik penjual. Namun ada juga beberapa tenaga pemasaran yang menawarkan langsung produk untuk dijual di tempat.

Selain itu, mengingat dalam pemasaran online pelanggan harus mengakses toko secara langsung untuk melakukan transaksi, maka toko offline umumnya perlu membuka cabang untuk menambah jangkauan pelanggan.

Cara Mencari Barang

Pada bisnis online pencarian barang menjadi lebih mudah karena terdapat katalog yang dapat diakses kapanpun dan dimanapun. Orang akan lebih mudah mencari barang-barang yang mereka butuhkan.

Pada bisnis offline, orang harus mendatangi toko atau perwakilan brand untuk mencari barang yang mereka butuhkan. Hal ini tentu saja menghabiskan waktu yang lebih banyak untuk mencari suatu produk.


Ikuti Berita Kami Lainya di Google Berita

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.