Pembinaan Khatib di Sumenep, Densus 88 Gandeng Pemkab dan Kemenag

Avatar of PortalMadura.com
Penulis: HartonoEditor: Putri Kuzaifah
    Bagikan:

PortalMadura.Com, Sumenep – Direktorat Pencegahan Densus 88 Anti Teror Polri melakukan pembinaan khatib wasathiyah di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, Sabtu (28/5/2022).

Kegiatan dilaksanakan bersama Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep dan pihak Kantor Kementerian Agama setempat. Ada 75 khatib yang hadir di lantai 2 ruang rapat Graha Arya Wiraraja, Pemkab Sumenep, Jl. dr. Cipto.

Pemateri yang dihadirkan, Ketua Aswaja Center PWNU Jatim KH. Ma’ruf Khozin, Eks Napiter Ust. Mukhtar, dan Mantan Bupati Sumenep KH A Busyro Karim. Undangan lainnya, Forkopimda Sumenep.

Ketua Panitia AKBP Moh. Dofir yang menjabat sebagai Kanit I Kontra Ideologi Ditpencegahan Densus 88 AT Polri menjelaskan, pembinaan khatib itu dalam rangka mencegah paham intoleransi dan radikalisme.

“Jadi, penguatan Islam wasathiyah untuk Indonesia damai,” kata Moh. Dofir.

Kegiatan pembinaan khatib wasathiyah di Sumenep merupakan yang kelima setelah di Pamekasan, Bangkalan, Palu dan Poso.

Menurut Dofir, pembinaan khatib sangat strategis, karena mereka terjun langsung di lingkungan masyarakat untuk mencegah paham intoleransi dan radikalisme.

Penyebab tumbuhnya intoleransi itu, akibat rendahnya pengetahuan beragama, tidak terbuka tentang pengetahuan, mengedepankan norma agama tanpa melibatkan norma sosial serta banyaknya penyebaran isu kebencian.

Baca Juga:  Ini Jadwal Samsat Keliling di Sumenep Bulan Juli 2022

Sedangkan radikalisme merupakan paham yang dibuat oleh seorang atau sekelompok yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.

“Penyebaran radikalisme dilakukan melalui media sosial, kajian-kajian, hubungan kerabat, perkawinan, buku dan tulisan, organisasi masyarakat, dan bisa tempat pendidikan,” ujarnya.

Jika khatib tidak ada yang melakukan kontrol dalam menyampaikan materi, maka menjadi ancaman yang serius bagi negara.

“Maka polri bersinergi dengan kementerian agama, tokoh agama dan instansi terkait untuk menumbuhkan Islam yang damai dan cinta tanah air,” katanya.

Ia mengatakan, para khatib Jumat memiliki peran sentral sebagai agen narasi agama yang moderat, bahwa khatib memiliki otoritas dalam menasehati dan mengarahkan jemaah salat Jumat agar menghindari pemikiran dan perilaku yang menciderai persaudaraan beragama, persaudaraan berbangsa, dan persaudaraan kemanusiaan.

Khatib Jumat dinilai sangat efektif dalam meredam berita-berita hoaks, ujaran kebencian, dan adu domba antar sesama elemen bangsa. Khatib juga bisa memberikan dukungan maksimal kepada pemerintah dan ulama.

Khatib salat Jumat memiliki peran penting yakni menyampaikan pesan kedamain, bisa diterima semua pihak karena netral dan berintregritas serta keteladanan bagi umat.

Baca Juga:  Produktivitas Gol Tim Al Istikmal vs Al Amin

Maka kualitas maupun kuantitas serta pentingnya seorang khatib memahami metode yang baik, pendalaman materi keagamaan yang mumpuni serta mampu beraktualisasi dengan kebutuhan umat.

Melalui pembinaan khatib, pihaknya mengharapkan para khatib kedepannya lebih bisa membumikan materi khatbah di tengah kerinduan spiritual jemaah.

Sementara, Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep Edi Rasyadi mengatakan, pembinaan khatib oleh Densus 88 sangat bagus dengan kondisi keberagaman di Sumenep.

“Ini cukup bagus dan perlu dilaksanakan di sejumlah tempat, baik di tingkat kecamatan maupun di tempat lain. Ini baru pertama kali di Sumenep,” katanya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.