Pemdes Batuputih Daya Dorong Musik Tradisional Tongtong Tumbuh dan Berkembang

Avatar of PortalMadura.com
Pemdes Batuputih Daya Dorong Musik Tradisional Tongtong Tumbuh dan Berkembang
Kepala Desa Batuputih Daya, Harno (@portalmadura.com)

PortalMadura.Com, Sumenep – Gebyar musik tradisional tongtong atau yang juga disebut musik sahur menggema di Desa Batuputih Daya, Kecamatan Batuputih, Sumenep, Jawa Timur, Sabtu (30/4/2022) malam.

Sejumlah grup musik tongtong berkumpul di lapangan desa setempat. Mereka bergantian memainkan musik tongtong sambil melantunkan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.

Pemerintah Desa Batuputih Daya sangat mengapresiasi dengan digelarnya gebyar musik sahur bernuasan Islami oleh para pemuda desa setempat.

“Kami sangat mengapresiasi dengan kegiatan yang positif ini. Dan alhamdulillah masyarakat juga antusias untuk menyaksikan,” kata Kepala Desa Batuputih Daya, Harno.

Pemerintah desa, kata dia, akan menfasilitasi sekaligus menetapkan menjadi kegiatan rutin tahunan pada bulan Ramadan. “Ini upaya untuk menjaga dan melestarikan seni budaya tradisional yang bernilai positif,” ujarnya.

Ada tiga grup musik tongtong yang sudah eksis. Tertua adalah Topeng Hitam. “Beberapa warga juga ada yang mengabarkan akan membuat grup lagi. Ini perlu kami support agar para pemuda memiliki kegiatan yang bermanfaat,” katanya.

Baca Juga:  DPC BMI Madura Raya Dilantik, Achmad Fauzi Targetkan PDI Perjuangan Menang di Pemilu 2024

Di luar bulan Ramadan, kata Harno, musik tradisional tongtong sudah mulai diterima diacara hajatan warga. “Jadi, sudah ada yang diundang untuk mengisi kegiatan pendidikan, seperti haflatul imtihan,” terangnya.

Pihaknya juga bersyukur dengan digelarnya gebyar musik tradisional tongtong, potensi Desa Batuputih Daya akan lebih dikenal daerah lain. Sebab, masyarakat yang hadir juga banyak dari luar Kecamatan Batuputih.

Baca Juga : Seni Musik Tradisional Islami Menggema di Batuputih Daya Sumenep

Perlu diketahui, Desa Batuputih Daya, Kecamatan Batuputih, Sumenep yang terletak pada ketinggian 250 meter dari permukaan laut, memiliki keterkaitan sejarah dengan lahirnya Kabupaten Sumenep yang sudah memasuki usia ke-673 pada tahun 2022.

Di salah satu wilayah Desa Batuputih Daya disebut-sebut menjadi keraton pertama Adipati Arya Wiraraja Sumenep, tepatnya di perbukitan Dusun Buras. Daerah tersebut hingga kini menjadi tempat sakral bagi sebagian warga.

Baca Juga:  Diduga Pelaku KDRT, Polisi Sumenep Ringkus Oknum Karyawan Perhutani

Bahkan, pada tahun 2018, Pemerintah Daerah Sumenep mewacanakan dijadikan objek wisata geopark bertaraf internasional.

Istilah geopark merupakan kepanjangan dari “geological park” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai Taman Geologi atau Taman Bumi.

Georpark merupakan konsep wisata baru. Konsep geopark sendiri mengacu pada pengembangan kawasan yang memberikan pengaruh terhadap konservasi, edukasi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Georpark diperkenalkan pertama kali oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2000-an dan geopark tidak hanya menjaga kelestarian alam, namun juga meningkatkan taraf hidup masyarakat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.