Penemuan 11 Kitab Kuno Berbahan Kapas di Sumenep

Avatar of PortalMadura.com

PortalMadura.Com, Sumenep – Kitab kuno berbahan kapas ditemukan warga Sumenep, Madura, Jawa Timur. Umurnya diprediksi lebih dari 300 tahun silam.

Ada 11 kitab yang saat ini ada di tangan Hanafi, warga Dusun Tarogen, Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, Sumenep.

Belasan kitab itu masih utuh dan ditemukan di sejumlah rumah warga di wilayah Kecamatan Bluto dan Batuan, Sumenep.

“Dua kitab di rumah warga Desa Aengbaja Kenek [satu bertuliskan carakan], dua kitab lainnya di Torbang [tauhed dan fiqih], Batuan dan tujuh kitab di rumah warga Desa Pagar, Bluto,” terang Hanafi pada PortalMadura.Com, Rabu (1/6/2022).

Sebagian di antara kitab kuno tersebut, membahas cara beribadah dan muamalah, tentang sifat keesaan Allah, brimbon dan ilmu kanuragan.

“Ada satu kitab bertuliskan aksara jawa atau carakan. Saya tidak tahu apa isinya. Dan ada satu kitab Alquran kecil, umumnya disebut stambul,” katanya.

Baca Juga:  SAI dan PDI Perjuangan Gelar Operasi Katarak Gratis, Jadi Agenda Tahunan

Kitab bertuliskan aksara jawa itu diprediksi pada era Sultan Agung atau Sultan Mataram. Namun, isinya belum ada yang mampu menterjemahkan.

Benda lain yang terlihat unik yang ditemukan bersamaan dengan kitab-kitab kuno tersebut adalah 3 buah kayu berwarna coklat kehitaman. Masing-masing kayu itu terdapat garis yang membentuk kota-kotak segi 4.

Bila dijumlahkan, kotak di masing-masing kayu berjumlah 75 dan bertuliskan ada titik 3, ada yang titik 1, gambar kerucut dan tulisan silang.

Penemuan 11 Kitab Kuno Berbahan Kapas di Sumenep
@portalmadura.com

Sementara, salah satu guru sejarah di Sumenep M. Hairil Anwar yang berkunjung ke lokasi mengasumsikan, kitab kuno yang bahan campurannya dari kapas, umumnya di era tahun 1.700 sampai tahun 1.800 masehi.

Baca Juga:  Rapat Paripurna DPRD Sumenep Dengarkan Pidato Kenegaraan Presiden RI

“Itu masih awal-awal baru ditemukannya kertas. Waktu itu, bangsa Eropa yang datang ke wilayah nusantara membawa kertas masih bercampur bahan kapas,” terangnya.

Kemudian era tahun 1.900 atau pada abat ke 20 sudah menggunakan kertas modern, seperti kertas buram yang dikenal saat ini. “Kalau sebelum-sebelumnya, memang masih menggunakan kayu atau daun lontar sebagai kertas,” katanya.

Hairil menambahkan, kitab kuno yang sudah menggunakan kertas buram menjadi petunjuk bahwa ada kitab yang sudah ditulis ulang atau turunan dari kitab sebelumnya.

“Koleksi kitab mas Hanafi itu, ada kitab yang sudah menggunakan kertas modern. Dan itu menjadi petunjuk, bisa saja ada kitab sebelumnya yang ditulis ulang (duplikat),” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.