oleh

Penjelasan Pakar Farmasi Tentang Chloroquine dan Avigan, Obat Impor Pemerintah untuk Atasi Covid-19

PortalMadura.Com – Penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia kian hari terus bertambah.

Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di covid19.go.id, tercatat per Ahad (22/3/2020) kemarin pukul 15:52 WIB, ada total 514 kasus positif Covid-19 (meningkat 64 kasus dari hari sebelumnya).

Dari jumlah itu terdapat korban meninggal sejumlah 48 orang yang mengatrol prosentase Case Fatality Rate (CFR) atau tingkat kematian akibat Covid-19 di Indonesia sebesar 9,3% (sebelumnya 8,4%).

Prosentase tersebut adalah yang tertinggi di dunia, sekaligus berada di atas rata-rata CFR secara global yang berada di angka 4,2%.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah menyatakan kebijakan untuk mengimpor dua juta Avigan dan tiga juta Chloroquine sebagai langkah percepatan penanganan wabah Covid-19 pada Sabtu (21/3/2020).

Terkait efektivitas penggunaan kedua jenis obat itu dalam melawan Covid-19, dikonfirmasi pada Ahad (22/3/2020) malam, Prof. Dr. H. Maksum Radji, M.Biomed, Apt yang merupakan Guru Besar Farmasi Universitas Indonesia (UI), sekaligus salah seorang peneliti terbaik UI menjelaskan cara kerjanya.

Chloroquine, dalam penjelasannya, telah digunakan sejak 1940-an sebagai anti-malaria. Namun, berdasarkan berbagai laporan, Chloroquine juga dianggap memiliki potensi dalam mengatasi infeksi virus SARS-CoV-2 (penyebab Covid-19).

Dalam sebuah penelitian di Perancis yang diterbitkan 20 Maret 2020 di International Journal of Antimicrobial Agents menyatakan, Chloroquine digunakan untuk pengobatan 42 pasien Covid-19 yang di rumah sakit. 26 pasien diberi Hydroxychloroquine, sedangkan 16 pasien lainnya dilakukan perawatan rutin.

“Hasilnya, 20 dari 26 pasien yang diberikan Hydroxychloroquine, kondisinya membaik,” ujar pria kelahiran Bangkalan 70 tahun lalu itu.

Menurutnya, cara kerja chloroquine untuk dalam kasus SARS-CoV-2 berbeda dengan cara kerjanya sebagai anti-malaria karena hal mendasar, bahwa malaria disebabkan oleh mikroparasit dan bukan oleh virus.

“Efeknya beda, antara melawan mikroparasit dengan virus, misalnya dia (chloroquine) akan mengganggu kemampuan virus memasuki sel,” jelas Pembina Pondok Babussalam Socah, Bangkalan itu.

“Tapi,” lanjutnya, “cara kerjanya (chloroquine) secara pasti masih belum diketahui,” imbuh Maksum.

Menurut beberapa ahli, diperkirakan chloroquine dapat memblokir enzim yang terlibat dalam fusi antara virus dan sel paru-paru, sehingga menghambat proses replikasi virus.

“Jika memang efektif untuk menghambat, maka perlu ada kombinasi chloroquine dengan beberapa jenis obat atau antivirus untuk mengobati penderita Covid-19,” kata Maksum.

“Tapi sekali lagi, para ahli sepakat untuk adanya uji kliniks yang lebih besar terkait penggunaan chloroquine dalam pengobatan penderita Covid-19 masih sangat dibutuhkan, karena kita juga belum paham apakah aman, lalu efek sampingnya, dan sebagainya,” imbuhnya.

Sementara itu, terkait Avigan (Favipiravir atau Favilavir), Maksum mengatakan bahwa Avigan berkhasiat dalam melawan berbagai jenis virus ribonucleic acid (RNA).

Avigan adalah obat turunan dari senyawa pyrazinecarboxamide yang bereaksi melawan virus influenza, virus West Nile, virus demam kuning, flavivirus, dan alphavirus lainnya saat diuji cobakan pada hewan.

Avigan diuji klinik di China untuk pengobatan penyakit Covid-19 yang tengah mewabah.

“Mereka (China) menyarankan penggunaan Avigan untuk mengobati infeksi virus Covid-19 di Wuhan dan Shenzhen,” ujar Maksum.

Sebelumnya, pada 2014, Jepang menyetujui Avigan untuk mengobati wabah infeksi virus influenza karena obat antivirus yang sudah ada, yakni Tamiflu ternyata kurang efektif.

Namun, percobaan pada hewan menunjukkan potensi efek teratogenik, sehingga Kementerian Kesehatan Jepang, hanya menyetujui penggunaan yang terbatas dan dalam keadaan darurat saja.

Liying Dong dari Department of Pharmacology Qingdao University, baru-baru ini pada 2020 mempublikasikan bahwa dalam uji coba terhadap 80 subjek, Avigan memiliki reaksi yang lebih kuat melawan SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab Covid-19, jika dibandingkan dengan lopinavir/ritonavir.

Avigan menunjukkan hasil positif dalam uji klinis yang melibatkan 340 orang pasien di Wuhan dan Shenzhen, China.

Namun, kondisi paru-paru yang ditunjukkan oleh sinar-X memperlihatkan adanya perbedaan besar antara pasien Covid-19 yang diberikan Avigan dengan mereka yang tidak.

Pasien yang diberikan Avigan kondisi paru-paru meningkat 91%. Sedangkan yang tidak diberikan Avigan, paru-paru meningkat sebesar 62%.

Avigan juga dapat memperpendek durasi demam pasien berdasarkan uji coba di Wuhan, dimana rata-rata demam selama 4,2 hari menjadi hanya 2,5 hari.

Namun, dengan adanya efek teratogenik dari Avigan, maka obat ini harus digunakan dengan sangat hati-hati di bawah pengawasan ketat tim medis, dan kontraindikasi bagi pasien yang sedang hamil.

Bahkan, Pemerintah Korea Selatan tidak merekomendasikan penggunaan obat ini, dikarenakan masih kurangnya data klinis tentang efektivitas dan efek sampingnya.

Bagaimanapun, baik Chloroquine maupun Avigan memang masih belum memiliki ‘jam terbang’ dalam menaklukkan Covid-19 sehingga masih memerlukan uji klinik lebih lanjut dengan jumlah pasien yang lebih besar.

“Mencari tau efektivitas dan efek sampingnya, keamanan dalam penggunaannya,” tandas Alumnus Nara Institute of Science and Technology Biological Science, Jepang itu.

Oleh karenanya, Maksum mengimbau untuk tetap menjaga kebersihan, pola hidup sehat, dan social distancing sebagai upaya pencegahan penyebaran.

“Obatnya masih perlu diuji coba lebih jauh, langkah terbaik kita untuk ikhtiar saat ini ya ikuti imbauan pemerintah, jaga kebersihan dan social distancing dulu,” tegasnya.(*)

Penulis : Ubay NA
Editor : Nurul Hijriyah
Tirto.ID
Loading...

Komentar