oleh

Perbanyak Doa Saat Sujud Seperti yang Dianjurkan Rasulullah

PortalMadura.Com – Rasulullah merupakan utusan Allah SWT yang menjadi makhluk paling mulia di dunia dan patut diteladani seluruh umat Muslim. Mengikuti segala yang dilaksanakan Rasulullah juga akan mendapatkan pahala, atau yang lebih dikenal dengan sebutan sunah Rasulullah.

Maka dari itu, umat Islam harus mengikuti berbagai perintah dan anjuran Rasulullah. Salah satunya seperti anjuran Rasulullah untuk memperbanyak doa saat sujud dalam salat. Dilansir dari Okezone.com, Selasa (17/12/2019), sujud dalam salat termasuk posisi hamba yang paling dekat dengan Allah. Sebagaimana Rasulullah bersabda: “Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu” (HR Muslim No. 1111, dari Abu Hurairah).

iklan pilbup

Maksud dari hadis di atas adalah memperbanyak doa pada waktu sujud memang dianjurkan. Namun, tidak ada ketentuan dan anjuran untuk memperbanyak doa hanya pada saat sujud yang terakhir. Oleh karena itu, memperbanyak doa sesuai hadis tersebut, dapat dilakukan pada saat kapan saja setiap melakukan sujud.

Sebagian ulama pun tidak membenarkan jika hanya mengkhususkan pada sujud terakhir untuk memperbanyak doa, sehingga sujudnya lebih lama dibandingkan dengan sujud-sujud yang lain.

Syekh al-Utsaimin mengatakan: “Memperpanjang sujud terakhir ketika salat bukanlah termasuk sunah. Yang sesuai sunah Rasulullah adalah seseorang melakukan salat, antara rukuk, bangkit dari rukuk (iktidal), sujud, dan duduk antara dua sujud itu hampir sama lamanya”.

Al-Bara’ bin ‘Azib meriwayatkan hadis sebagai berikut: “Rukuk, sujud, bangkit dari rukuk (iktidal), dan duduk antara dua sujud yang dilakukan oleh Rasulullah, semuanya hampir sama (lama dan thuma’ninah)” (HR Bukhari No. 801 dan Muslim No. 471).

Selain itu, menurut salah satu dosen Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, Dr H Achmad Zuhdi Dh MFil I menjelaskan, jika ingin memperbanyak doa pada saat sujud, tidak perlu mengkhususkan pada sujud yang terakhir saja, tetapi dapat dilakukan pada saat sujud-sujud yang lain dalam salatnya.

Dr H Achmad Zuhdi melanjutkan, hal yang perlu diperhatikan bagi makmum ketika salat berjemaah adalah jangan sampai menyelisihi imam gara-gara memperlama dalam sujudnya. Hal ini bisa merusak salat jemaahnya.

Secara syariat, jika imam sudah selesai dari sujud terakhir maka selaku makmum hendaklah segera bangkit dari sujud untuk mengikuti imam ketika itu, tidak boleh menyelisihinya. Karena imam itu diangkat untuk diikuti. Rasulullah bersabda: “Imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah diselisihi” (HR Bukhari No. 722, dari Abu Hurairah).

Akan tetapi, hal yang menjadi perselisihan (beda pendapat) di kalangan ulama dalam hal memperbanyak doa pada saat sujud adalah tentang bacaan doanya. Lantas, apa yang dimaksud dengan memperbanyak doa itu?. Haruskah doa yang dibaca pada saat sujud itu sesuai dengan doa-doa sujud yang pernah diajarkan oleh Rasulullah?. Atau bolehkan membaca doa di luar itu, yakni doa sendiri sesuai dengan yang dikehendaki untuk kebutuhan hidup di dunia ini?.

Baca Juga: Bolehkah Sujud Syukur Tanpa Wudu?

Dalam hal ini ada tiga pendapat. Pertama, ulama Hanafiyah: doa yang dibaca itu harus sesuai dengan doa-doa sujud yang pernah diajarkan oleh Rasulullah, khususnya bacaan tasbih.

Kedua, ulama Hanabilah: doa yang dibaca itu boleh selain bacaan sujud yang diajarkan oleh Rasulullah, asal doa itu maktsur (berasal dari Alquran atau Alhadis yang sahih).

Ketiga, ulama Malikiyah dan Syafi’iyah: doa yang dibaca itu boleh dengan doa-doa yang lain sesuai yang dikehendaki asal tidak doa untuk suatu dosa dan pemutusan silaturahmi.

Syaikh Wahbah Al-Zuhaili mengatakan: “Ulama al-Hanafiyah berpendapat, orang salat ketika rukuk dan sujudnya tidak boleh membaca selain tasbih, ini menjadi pendapat mazhab. Adapun hadis tersebut bermakna pada salat sunah”.

Sedangkan, ulama Malikiyah menganjurkan doa ketika sujud, baik doa yang terkait dengan urusan dunia, agama atau akhirat, untuk dirinya atau orang lain, secara khusus atau umum tanpa batasan, bahkan dengan itu Allah SWT telah memberikan kemudahan.

Menurut ulama Hanabilah, tidak apa-apa berdoa dengan doa-doa dan zikir yang ma’tsur. Sedangkan ulama al-Syafi’iyah menguatkan kesunahan berdoa (apa saja) ketika sujud, (Al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu, II/84).

Rasulullah memberikan contoh doa yang dibacanya ketika sujud, yakni sebagai berikut: “Ya Allah ampunilah dosa-dosaku semua, baik yang halus atau yang jelas, yang awal dan yang akhir, dan yang terang-terangan dan yang tersembunyi” (HR Muslim No. 1112).

Nah, jika membaca doa tersebut maka sangat bagus dan Anda telah mengikuti sunah Rasulullah. Tetapi apakah dengan ini berarti membatasi doa-doa yang dibaca?. Bolehkah membaca doa lain sesuai kebutuhan?.

Imam Al-Nawawi (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, III/471), mengatakan bahwa doa-doa dalam sujud tersebut adalah mutlak dan tidaklah dibatasi. Doa apa saja yang termasuk maksud doa adalah boleh. Sebab Rasulullah melakukan berbagai doa yang berbeda dan berbagai tema. Hal ini menunjukkan bahwa hal itu tidak dilarang.

Dalam Sahihain (Bukhari dan Muslim), dari Ibnu Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda tentang doa akhir tasyahhud: “Kemudian hendaknya dia memilih doa yang disukai dan sesuai seleranya”.

Suatu saat Syekh Bin Baz (Fatawa Bin Baz, XI/64-65) ditanya tentang hukum membaca doa untuk urusan dunia pada saat sujud dalam salat fardu. Beliau menjawab: “Berdoa pada saat sujud dalam salat-salat fardu maupun sunah, baik untuk dirinya maupun orang lain yang dikehendaki adalah termasuk perkara yang disunahkan atau disyariatkan. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah: “Yang paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu”.

Seperti dilansir dari website PWMU, Syekh Bin Baz mengatakan, memperbanyak berdoa juga disyariatkan pada saat sujud dengan doa apa saja, baik urusan dunia ataupun urusan akhirat. Misalnya berdoa minta istri yang saleh, anak yang baik, rezeki yang halal, dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan beberapa hadis yang hampir sama maknanya seperti sabda Rasulullah: “Kemudian hendaknya dia memilih doa yang disukai dan sesuai seleranya”.

Dalam riwayat Imam Muslim, sebagaimana menjelaskan bab yang lalu, dari Abu Hurairah: “Kemudian dia berdoa untuk apa-apa yang nyata untuk dirinya” (Muttafaqun Alaih). Wallahu A’lam.

Rewriter : Salimah
Sumber : okezone.com
Tirto.ID
Loading...

Komentar