oleh

Perempuan Kunci Tonggak Peradaban

Oleh : Putri Ambarwati*

Siapa yang terlintas dari pandangan kalian ketika mendengar kata “perempuan”? tentunya seseorang yang terlintas pertama kali adalah sosok ibu atau seorang perempuan yang kita cintai. Intinya perempuan adalah sosok yang identik dengan segala keindahannya. Lalu apa yang kalian pikirkan tentang seorang “perempuan”? seorang ibu rumah tangga dengan segala multitaskingnya dalam melakukan segala hal kah? seperti memasak, mencuci, mengurus keluarga, membersihkan rumah, dan mencuci piring. Atau ada hal lain? Seperti wanita karier mungkin.

Berapa banyak orang yang berpikir bahwa perempuan hanya bisa melakukan pekerjaan rumah saja. Duduk manis menunggu suami pulang bekerja dan melakukan kewajibannya sebagai istri. Tentu tak sedikit orang yang berpikir seperti itu, terutama jika dikaitkan dengan budaya dan perspektif masyarakat di daerah setempat yang berpendapat bahwa perempuan memang wajibnya mengurus rumah. Di sisi lain terdapat pepatah orang jawa yang mengatakan bahwa tugas utama perempuan adalah macak, masak, dan manak.

Masih ingat dengan acara Opera Van Java Trans7 kemarin? Waktu di bagian Najwa Shihab diajukan pertanyakan oleh Deni Cagur pada pilihan antara menjadi jurnalis atau ibu rumah tangga? Lalu ia menjawab “Mengapa perempuan harus memilih? Bukankah kita bisa mendapatkan keduanya. Pertanyaan seperti itu sejak awal sudah menempatkan perempuan seolah-olah tak berdaya. Setiap perempuan itu multiperan. Saya bisa menjadi ibu, istri, tetangga, dan jurnalis.”

Pertanyaan pilihan seperti itu secara tidak langsung mendiskriminasi seorang perempuan bahwa ia hanya memiliki satu pilihan antara ibu rumah tangga atau bekerja. Banyak masyarakat awam yang mengatakan bahwa perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi karena pada nantinya hanya akan menjadi ibu rumah tangga saja. Jadi percuma punya ijazah dan tidak bekerja. Kalimat tersebut sering terdengar di telinga para perempuan yang memutuskan untuk mengabdikan dirinya pada suami tercinta setelah menikah. Tapi ada juga kata-kata yang tak kalah sadis ketika perempuan memilih menikah dan berkarier seperti berpendapat bahwa ketika perempuan sudah menikah dan tetap berkarier, maka kasian sekali suami dan anaknya yang terlupakan dan tak terurus.

Segala hal yang menjadi pilihan perempuan di mata masyarakat selalu salah. Terlebih lagi ketika perempuan memilih menikah di usia yang tak lagi muda karena sibuk menuntut ilmu dan berkarier. Terkadang orang-orang berusaha menghentikan perempuan untuk melebarkan sayapnya lebih jauh dan terbang tinggi menggapai impiannya. Khususnya dalam menuntut ilmu. Banyak orang yang menyarankan kepada seorang perempuan setelah lulus S1 untuk segera menikah (dengan pria mapan/tampan) atau bahkan bekerja untuk mengumpulkan uang dan sukses.

Hal inilah yang menjadi tolak ukur kesuksesan perempuan di mata masyarakat. Pemikiran-pemikiran seperti ini telah terdoktrin dalam pikiran masyarakat bahwa pada dasarnya perempuan memang harus seperti itu adanya. Padahal ukuran menikah bagi seorang perempuan bukanlah di waktu yang cepat tapi di waktu dan dengan orang yang tepat. Hal ini bukan berarti perempuan tidak ingin segera berkeluarga, tapi ketakutan saat dilabel menjadi perawan tua atau perempuan akan sulit mendapatkan pasangan ketika ia bergelar lebih tinggi dari calonnya. Perspektif demikian bukanlah tolak ukur yang tepat untuk dijadikan sebagai alasan untuk menikah cepat.

Selain itu ukuran kesuksesan di mata perempuan bukanlah menjadi kaya raya. Ukuran kesuksesan bagi seorang perempuan sejati adalah bagaimana dirinya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang di sekitarnya. Tak banyak orang yang mengerti apa yang benar-benar perempuan inginkan. Masyarakat menganggap bahwa pilihan yang selama ini tertanam di dalam pikiran merekalah yang terbaik untuk perempuan. Padahal, pada kenyataannya perempuan ingin juga disetarakan dengan laki-laki, khususnya dalam hal menuntut ilmu. Sebagaimana yang Rasulullah sampaikan “Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan (HR. Ibnu Abdil Barr)”.

Dengan demikian, perempuan menuntut kesetaraan yang sama dengan laki-laki. Akan tetapi kesetaraan dalam hal ini tentunya dengan menempatkan perempuan pada kepemilikan peran dan kewajiban di tempatnya masing-masing. Bukan bermaksud ingin menyalahi atau melanggar batas kodrat atau fitrahnya sebagai seorang perempuan. Para perempuan pun harus memahami hal ini, bahwa Islam juga memang menyetarakan laki-laki dan perempuan. Namun, dalam dua tempat berbeda yang memang dikhususkan dalam masing-masing wadah, kecuali dalam hal menuntut ilmu. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat perempuan menyamai laki-laki. Perempuan tetaplah perempuan dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakuan yang lebih baik (Rohana Kudus)”.

Sangat jarang sekali orang-orang mendukung perempuan untuk mengejar impiannya lebih jauh. Orang-orang terdekatpun terkadang berusaha untuk mematahkan sayap-sayap para perempuan untuk terbang lebih tinggi menggapai mimpi dan cita-cita. Padahal kita tidak perlu mengkhawatirkan masalah rezeki entah itu dalam bentuk jodoh ataupun harta. Karena pada dasarnya Allah telah mengatur segalanya dengan baik, bahkan terkadang manusia mengambil alih dengan menjadi sok bijak dalam mengatur segala hal yang telah menjadi ketetapannya.

Lalu bagaimana pola pikir dan kehidupan perempuan jaman sekarang? Seorang perempuan adalah kunci peradaban sebagaimana yang telah dipesankan oleh Bung Hatta “Siapa yang mendidik satu laki-laki, berarti ia telah mendidik satu manusia. Sedangkan siapa yang mendidik perempuan, berarti ia mendidik satu generasi.” Perempuan adalah calon pendidik putra-putrinya kelak. Jadi, tidak ada salahnya apabila ia melanjutkan sekolah dan mendapatkan gelar tinggi, kemudian menikah. Maka ilmunya akan ia terapkan untuk mendidik anak-anaknya. Jika menikah, menuntut ilmu, kemudian berkarier, maka ia tidak hanya menerapkan ilmunya untuk keluarganya tapi juga untuk kemaslahatan ummat. Hal ini tentunya sesuatu yang luar biasa bagi jejak langkah perempuan.

Perempuan adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya kelak. Tidak ada salahnya jika perempuan melebarkan sayapnya untuk terbang jauh menggapai cita. Ilmu yang dimilikinya akan ia gunakan untuk membentuk dan membangun generasi peradaban untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. “Pondasi perbaikan bangsa adalah perbaikan keluarga, dan kunci perbaikan keluarga adalah perbaikan kaum wanitanya. Karena wanita adalah guru dunia. Dialah yang menggoyang ayunan dengan tangan kanannya dan mengguncang dunia dengan tangan kirinya (Hasan Al Banna).” Dengan hal ini dapat digambarkan betapa penting dan mulianya sosok seorang perempuan sebagai tonggak peradaban dan pencetak generasi emas di masa depan.(**)

*Penulis : Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas Muhammadiyah Malang.

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran untuk kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan diluar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com.”

Video Ustaz Nyabu di Madura, Berpendapat Tidak Haram

.
.
Tirto.ID
Loading...

Komentar