oleh

Pergunu : Waspada, Bahan Ajar Kurikulum 2013 Ada Yang Menyimpang dari Ajaran Islam

PortalMadura.Com, Sumenep – Kasus buku guru mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) untuk kelas VII Madrasah Tsanawiyah yang menyebutkan salah satu item pada panduan jawaban “Berhala sekarang adalah makam parawali” mengusik kalangan pendidik terutama organisasi profesi, Pergunu Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Pergunu Sumenep menilai munculnya kasus ini nyata telah menyinggung dan mendeskreditkan umat Islam Indonesia yang kebanyakan gemar ziarah pada makam parawali.

“Kita semua mahfum bahwa masyarakat muslim Indonesia gemar ziarah kubur, termasuk pada makam yang dianggap wali, tapi ternyata tradisi luhur ini malah dinodai oleh tim penyusun buku kurikulum 2013 Kemenag,” tandas Imam Suhairi, Ketua II Pergunu Cabang Sumenep, dalam rilisnya yang diterima Redaksi PortalMadura.Com, Rabu (17/9/22014).

Untuk itu pihaknya meminta kepada Menteri Agama RI selain menarik peredaran buku yang telah terlanjur terdistribusikan ke lembaga MTs seluruh Indonesia, juga mendesak untuk mengevaluasi keberadaan tim penyusun buku Kemenag, karena selama ini sering kebobolan.

“Kami minta Kementerian agama RI menarik seluruh buku yang telah beredar dan melakukan revisi, sekaligus mengevaluasi keberadaan tim penyusun buku Kemenag, karena dulu juga pernah ada tulisan soal ujian Madrasah Aliyah(MA) di beberapa daerah yang mendeskreditkan mantan Presiden RI, Gus Dur,” tegas Mantan Sekum PMII Sumenep ini.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Pergunu sebagai organisasi profesi di kalangan nahdiyyin akan terus merapatkan barisan dengan memperkuat tatanan nilai-nilai keislaman ahlussunnah wal jamaah khususnya di kalangan guru-guru NU.

“Kita akan melakukan penguatan internal, khususnya kepada para guru yang berhaluan ahlussunnah wal jamaah agar mereka lebih kuat dalam memahami nilai-nilai keaswajaan, sehingga dapat diaplikasikan di tempat mereka mengajar,” lanjut Imam.

Selain itu, pihaknya meminta kepada para guru, khususnya guru-guru madrasah yang merupakan basis guru-guru NU untuk lebih waspada menerima bahan ajar dari siapapun, baik penerbit umum maupun dari pemerintah, karena bisa saja disusupi faham-faham yang bertentangan dengan kehidupan keberagaman yang telah lestari di Indonesia.

“Yang jelas kami minta kepada teman-teman guru, khususnya guru-guru yang berhaluan aswaja di madrasah atau sekolah-sekolah untuk lebih waspada terhadap bahan ajar apapun dan dari manapun, karena era keterbukaan seperti sekarang ini sangat mungkin untuk disusupi ajaran menyimpang, kalau hal itu terjadi, para guru untuk tidak segan-segan melaporkan pada Pergunu Sumenep, dan akan ditindaklanjuti,” pungkasnya.(rls/htn)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.