Pertarungan Elit Politik, Budayawan Khawatirkan Jadi Distorsi Budaya

Avatar of PortalMadura.Com
Pertarungan Elit Politik, Budayawan Khawatirkan Jadi Distorsi Budaya
Ibnu Hajar (portalmadura.com)

PortalMadura.Com, Sumenep – Pertarungan keras para elit politik menjelang Pemilu 2024 dikhawatirkan menjadi distorsi budaya di Indonesia, khususnya di Madura.

Budayawan Madura Ibnu Hajar menyampaikan, selama ini pertarungan elit politik melalui narasinya cukup keras dan yang perlu dihindari adalah jangan sampai masyarakat menjadi bar-bar.

“Saya khawatir menjadi distorsi budaya. Padahal, kita punya kultur santun dan kesopanan,” kata Ibnu Hajar dalam wawancara eksklusif dengan portalmadura.com, Selasa (12/9/2023).

Hiruk pikuk politik lima tahunan di Indonesia, kata dia, perlu dimaknai sebagai proses menuju demokrasi yang harus tetap memegang kesopanan dan budaya lokal.

Para tokoh agama perlu memberikan pencerahan pada umatnya. “Saya yakin, semua agama mengajarkan kesopanan. Maka perlu memberikan pencerahan bagi penganutnya,” ungkapnya.

“Kita jangan sampai pertarungan elit politik itu berdampak pada masyarakat. Toh, mereka ditingkat elit politik pada akhirnya berangkulan, tapi bagi masyarakat kita akan menyisakan luka lima tahunan,” sambungnya.

Sekecil apapun luka itu, kata dia, tetap akan meninggalkan luka selamanya. “Ini jangan sampai terjadi ditengah kehidupan masyarakat kita,” kembali menegaskan.

Warga Madura memiliki falsafah hidup tersendiri, yakni “bhuppa’ bhabhu’ ghuru rato” mengandung pengertian adanya hierarkhi figur yang harus dihormati dan dipatuhi, mulai dari bapak, ibu, guru, dan terakhir ratu.

Artinya, mereka lebih mendengarkan ucapan para pemuka agama, maka menjadi penting bagi tokoh agama untuk memberikan pencerahan cerdas bagi pengikutnya. “Tak mungkin tongkat bengkok itu memberikan bayangan lurus. Pepatah ini perlu kita pahami bersama,” ujarnya.

Pria kelahiran Sumenep ini yakin warga Madura yang religius tidak gampang terombang-ambing dengan situasi politik jelang Pemilu 2024.

Dengan kecerdasannya, warga Madura telah memiliki pijakan hidup yakni meskipun perahunya bagus, anginnya terlihat tenang dan ombak juga tenang, tapi bila nahkodanya bodoh, maka bagi orang Madura mustahil akan menjadi penumpangnya.

“Bodoh disini, fikliyah dan kauliyahnya (perkataan dan perbuatan),” tegasnya.

Menurut dia, sejumlah tokoh nasional yang sudah tampil ke publik untuk menjadi calon Presiden RI, semuanya orang nasionalis dan punya kecerdasan. “Hanya saja yang perlu menjadi pertimbangan adalah bagaimana prosesnya untuk menuju tujuan, harus tetap santun,” katanya.

Ia memintah agar proses untuk mencapai tujuan itu, ajaklah masyarakat pada kebaikan dengan cara yang santun dan berbudaya. “Jika tidak santun, bahasanya juga tidak santun. Tunggulah dan buktikan, mata sejarah akan mencatat,” tegasnya.

Awal Orda Baru, kata dia, kekuasaan menjadi panglima, dan Orda Baru meliter menjadi panglima. Saat ini, era Jokowi demokrasi menjadi panglima. “Mungkin pasca Jokowi, budaya menjadi panglima. Ini harapan kami,” pungkasnya.(*)

DAPATKAN UPDATE BERITA LAINNYA DI

google news icon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.