oleh

Pesan Idul Adha “Umat Muslim Butuh Pengorbanan”

Redaksi (PortalMadura) – Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar. Bagi umat muslim diluruh antero muka bumi, saat ini merayakan Idul Adha yang sering disebut Idul Kurban. Kalimat Idul Kurban bila diartikan sederhana adalah berkorban. Namun, nilai dibalik kurban itu membutuhkan sebuah pengorbanan dan keikhlasan umat muslim. Hal ini yang kadangkala tidak setiap umat muslim mudah melakukannya, tetapi memerlukan kebeningan hati dan keimanan yang luar biasa.

Dikisahkan, perjalanan Nabi Ibrahim (as) penuh dengan pengorban, mulai dari korban perasaan, korbannjiwa dan harus terpisah dengan istri dan anaknya. Bahkan, diperintahkan untuk menyembeli putranya sendiri. Semua itu, dilakukan dengan penuh ikhlas berlandaskan Imam kepada Allah.

Memetik dari yang disampaikan Khotib Masjid Agung Kota Sumenep, K Drs Moh Syamrawe, menyampaikan, bahwa Nabi Ibrahim itu telah mengorbankan semuanya, baik jiwa maupun raganya. “Hasilnya, tentu semua umat muslim akan merasakan apa yang dialami Nabi Ibrahim. Itu semua gambaran bagi umat muslim untuk selalu berkorban demi melaksanakan perintah-Nya,” ujar Syamrawe dalam khotbahnya.

Tanpa ada pengorbanan, kata dia, maka tidak akan mudah mendapatkan kesuksesan. Sekalipun berdoa pada Allah tetapi tidak mengorbankan dirinya baik dalam bentuk fisik maupun keimanan dalam hatinya, mustahil kesuksesan atau doanya akan diterima disisi-Nya. “Apapun yang akan kita lakukan tanpa ada pengorbanan, maka hasilnya juga tidak akan maksimal. Lebih-lebih urusan dengan sang pencipta,” katanya.

Menurut dia, ada hal sederhana yang bisa dilakukan setiap umat muslim tetapi berat untuk dilaksanakan, yakni bersodakoh. Banyak umat muslim mengeluarkan zakat tetapi bersodakoh apa adanya. “Jika ingin sukses maka bersodakohlah dengan barang atau apapun bentuknya yang sangat dicintai. Maka, hasilnya juga akan mendapatkan yang berlipat ganda disisi-Nya,” ungkapnya.

Melalui perayaan Idul Adha, kata dia, tanamkan kepekaan sosial, rasa kebersamaan dan tumbuhkan keimanan dalam setiap detak jantung. Jadikan momentum memperbaiki sikap untuk selalu baik dan toleransi kepada sesama. Sudah banyak contoh dan gambaran hidup dimuka bumi ini. Hidup yang dihiasi dengan iman dan keikhlasan, maka hidupnya juga akan penuh kedamaian dan mendapat rahmat dari Allah. “Semoga hati dan prilaku umat muslim kembali seperti bayi yang baru lahir. Selain tidak berdosa juga mudah ditulis dengan kebaikan-kebaikan,” tandasnya.(tim redaksi)

-
-

Komentar