oleh

Pilkada Siapa Berani?

Oleh : Imam Hidayat (Dosen Fisip Unija)

Pemilihan kepala daerah merupakan hajatan publik yang sangat dinanti nanti banyak orang, rasa berdebar meggugah rasa pikir mencari pintu afiliasi dengan siapa akan mengatur strategi merebut kekuasaan atau mempertahankan kekuasaan, ada harapan soal masa depan menggapai hidup meraih status lebih mapan.

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Jelang Liga 3 Jatim 2021, Madura FC Masih Butuh Empat Laga Uji Coba

Soal pemilihan kepala daerah soal bargaining partai berikut juga siapa figur dibalik partai, rekomendasi yang sulit ditebak tanda konstalasi internal partai sangat sengit meski dibelakang banyak yang gigit jari. Ya ini soal politik bung jalannya selalu menarik penuh dengan intrik, pada dasarnya manusia tidak lepas dari politik “zoon politicon” (aristoteles).

Drama politik Sumenep cukup alot diperbincangkan, ada yang sibuk mencari kekuatan koalisi berikut juga mahalnya status sosial atau kegaduhan antara rekomendasi partai yang tidak turun ke kadernya manambah daftar refrensi pengamat mengkombinasikan dengan teori akademiknya.

Para pelaku politik, pengamat politik sampai penikmat politik berbondong bondong mengangkat bendera genderang, ingat dibelakang ada rakyat yang berharap masa depan yang lebih maju bukan semakin terbelakang.

Soal politik bukan soal kalah menang, mayoritas atau minoritas, salah atau benar tapi soal hajat masyarakat menginginkan perubahan ke arah yang lebih cerah. Masyarakat sudah cukup pintar memilih tanpa intervensi, memilih dengan refrensi visi misi perlu diinisiasi partai agar figur yang ditawarkan menambah kesempatan berfikir bagi pemilih siapa yang akan dipilih.

Kata teorinya pemilih ada yang rasional dan transaksional, maka tugas mesin partai merubah pemilih transaksional menuju rasional, bukankah ini yang digembor gemborkan figur partai disetiap pidatonya akan meniadakan politik transaksional meski tantangannya adalah membuang rasa takut kalah, tantangannya siapa berani?.

Melihat perkembangan calon pimpinan kepala daerah di Kabupaten Sumenep bisa dipastikan akan ada 2 kubu yang akan bertarung merebut hati pemilih, antara Fauzi-Eva dan Fattah Jasin-Ali Fikri mustahil akan keluar penantang baru mengingat porsi partai sudah tidak memungkinkan mengangkat figur baru, kedua kubu ini sama-sama memiliki figur pelengkap keterwakilan antara kelompok abangan, birokrasi dan sarungan. Namun, ini hanya identitas, karena demokrasi modern mengajarkan publik untuk lepas dari pengaruh identitas, melepas identitas untuk menghasilkan demokrasi yang lebih pantas menggapai pemerintahan yang berkualitas.

Negosiasi, konsolidasi dan koalisi terus digencarkan kedua kubuh, memilih restu seakan menjadi pintu pembuka untuk mendapat dukungan pemilih, ini politik tentu sah-sah saja tidak perlu bawa perasaan berlebihan.

Pertemuan dua kubu ini sangat menarik untuk diperbincangkan yang satu petahana akan terus mengatur siasat mempertahankan kekuasaannya, yang satunya non petahana akan terus mengganggu kenyamanan kekuasaannya, yang memiliki misi merebut kekuasaan.

Partai meracik jagoannya dengan kemasan terbaik, menyuguhkan dengan rasa penuh menarik mempersilahkan pemilih akan menjatuhkan pilihannya tampa ada paksaan, siapa berani tanpa uang, siapa berani atau takut kalah?.

Pemilu dengan segala tragedi dan drama partai adalah bumbu yang sengaja diseting untuk melancarkan siasat, yang keliru jika partai terhanyut dalam drama percaturan partai, penyebabnya publik semakin bingung harus percaya dengan siapa, antara partai dan kadernya tidak seiring menambah dugaan sementara mungkin saja ada figur yang lebih kuat dibalik partai, lantas tugas partai apa?.

Namun, pemilih tidak akan terhanyut dengan irama aneh partai, mereka akan tetap teguh terhadap pendirian meski ada sebagian mungkin ada yang mengharap imbalan, mungkin juga imbalan diambil tapi pilihan tetap teguh. Ini budaya yang perlu diubah oleh semua sektor yang terlibat, mau memulai untuk mengubah kebiasaaan buruk yang tidak perlu dipertahankan. Esiensi pemilu adalah untuk menghilangkan monopoli satu golongan mengubah ke situasi demokratis, menghasilkan calon pemimpin yang berkualitas untuk masa depan kota Sumenep, pertanyaannya adalah siapa berani mengubah, atau takut kalah?.(*)

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran untuk kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan di luar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com.”

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar