oleh

Prediksi Potensi Dampak Ekonomi di Puncak Covid-19, Analisa Dr. Zakik di Madura

PortalMadura.Com, Bangkalan – Sejumlah pakar dan peneliti FKM UI memprediksi kasus Covid-19 di Indonesia akan mencapai puncaknya pada momentum lebaran, jika pemerintah tidak menerapkan langkah yang tegas dan kuat dalam pencegahannya.

Jika itu sampai terjadi, kemungkinan kepanikan akan terjadi di masyarakat dan berdampak cukup serius di berbagai sektor, utamanya sektor perekonomian.

Akademisi Ekonomi Pembangunan Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Dr. Zakik, Senin (20/4/2020) menyampaikan ulasannya soal prediksinya potensi dampak ekonomi yang akan muncul jika wabah Covid-19 mencapai puncaknya.

Pandemi Covid-19 dan Kebijakan Pemerintah

Kasus Covid-19 terus meningkat hingga hari ini, tercatat lebih dari 2 juta penduduk bumi terinfeksi. Di Indonesia sendiri kasus positif Covid-19 sudah mencapai lebih dari 6.000 kasus.

Sementara kebijakan dan keseriusan pemerintah untuk menangani Covid-19 dirasakan memang sedikit terlambat.

Seandainya, sebelumnya Indonesia sudah bisa melakukan langkah antisipatif sebelum Covid-19 masuk, dampak yang akan dirasakan mungkin akan bisa diminimalisir.

Pemerintah melalui Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani berdasarkan perkiraan BI, OJK dan LPS, memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan turun ke angka 2,3%, bahkan bisa mencapai negatif 0,4%, dari sebelumnya (sebelum darurat Covid-19) yang diperkirakan perekonomian Indonesia tumbuh 5,5%.

Artinya, kondisi pertumbuhan ekonomi atau perkembangan ekonomi di Indonesia sudah bisa dipastikan akan menurun, linear dengan ambruknya sektor-sektor lainnya.

Kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid-19 pada awalnya masih tampak gamang, sehingga terkesan tidak serius. Namun, ketika dampaknya mulai terasa dengan cepat ke semua daerah, akhirnya menjadi persoalan yang sangat serius dan dirasakan semua wilayah di Indonesia.

Kalau pemerintah sigap dan responsif, harusnya dengan segera dilakukan pengontrolan di wilayah-wilayah yang menjadi episentrum, seperti DKI Jakarta, serta memperketat akses keluar-masuk negara maupun daerah-daerah sejak awal sebagai langkah antisipatif, mungkin saja penyebarannya tidak akan seperti ini.

“Tapi, perlu juga untuk disadari bahwa permasalahan wabah Covid-19 adalah masalah kita bersama, maka kita semua harus bersatu padu dengan kedisiplinan, pshycal distancing, memakai masker saat keluar, dan menjaga kebersihan serta rajin mencuci tangan semoga wabah ini dapat kita hadapi dan segera kita lalui,” katanya.

Dampak Ekonomi

Dengan semakin meluasnya Covid-19, berdampak pada melambatnya perekonomian nasional. Imbasnya akan sangat luas. Salah satu contohnya, akan terjadi Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran.

“Itu menjadi beban serius yang harus ditangani oleh pemerintah. Pemerintah harus benar-benar fokus untuk penanganan Covid-19 sekaligus memastikan seluruh rakyat Indonesia tetap terpenuhi kebutuhan hidupnya,” tegas Zakik.

Anggaran pemerintah yang dialokasikan untuk penanganan Covid-19 ini pun fantastis, senilai Rp 405 triliun dan itu harus tepat sasaran. Jangan sampai malah menjadi ajang bancaan koruptor.

Praktik physical distancing membuat shock pada sisi produksi (supply) yang terlihat dari penutupan pabrik dan kegiatan produksi. PHK tidak terelakkan dan akan menurunkan daya beli masyarakat, akibatnya konsumsi barang menurun.

Jika shock berasal dari sisi konsumsi (demand), maka praktik physical distancing akan membuat keleluasaan untuk mengonsumsi barang akan menurun yang berimplikasi pada menurunnya permintaan barang tersebut.

Akibatnya, perusahaan tidak mendapatkan pendapatan yang maksimal dan cenderung menurun. Maka, perusahaan menurunkan biaya produksinya dan gelombang PHK terjadi.

Upaya utama yang perlu dilakukan untuk menanggulangi pandemi Covid-19, tentu yang harus diperhatikan adalah fasilitas dan alat kesehatan yang harus menjadi prioritas utama dari stimulus industri yang diberikan. Industri penyedia di dalam negeri perlu didukung melalui instrumen stimulus bagi industri ini.

Dampak Saat Covid-19 Mencapai Puncaknya

Kondisi darurat bencana non alam akibat wabah Covid-19 ini harus ditangani dengan sangat serius oleh pemerintah dengan partisipasi yang harus senantiasa dikondisikan agar masyarakat dapat mengerti dan menjaga diri terhadap penyebarannya. Apalagi menjelang Bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

“Dampak Ekonomi yang sudah dapat kita rasakan dengan kondisi ketidakpastian ini sudah jelas memukul berbagai sektor perekonomian,” ujarnya.

Ia pun memberikan contoh berapa banyak karyawan yang harus dirumahkan atau terkena PHK karena pabrik tidak bisa beroperasi maksimal sebab pintu ekspor dan impor antar negara ditutup.

Guru-guru honorer tidak bisa beraktivitas dan tidak mendapat honor karena program sekolah-sekolah diliburkan dan berubah menjadi daring (online) hingga batas waktu yang belum diketahui.

Belum lagi sektor pariwisata dan perhotelan, serta usaha kuliner. Juga termasuk nelayan dan perikanan, banyak yang tidak terdistribusikan akibat meluasnya dampak wabah Covid-19.

“Terlebih, bagi perusahaan yang berorientasi ekspor, tiba-tiba harus berhenti seperti sekarang,” urainya.

Secara makro ekonomi, indikator-indikator ambruknya perekonomian tampak berdasarkan nilai tukar rupiah yang terus melemah tajam, sementara pasar bursa pun meradang seiring laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi dalam. Pertumbuhan ekonomi pun diperkirakan akan melambat drastis, bahkan lumpuh.

“Bahkan, China pun akibat wabah Covid-19 memperediksi pertumbuhan ekonomi negaranya ambruk di angka negatif 6%,” ungkapnya.

Prediksi Dampak Ekonomi di Madura

Kondisi di Madura tentu tidak jauh berbeda. Apalagi, di Madura masih mengandalkan sektor pertanian yang sekitar 60% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), hal ini menunjukkan kondisi ekonomi sektor Madura juga sangat tergantung bergeraknya roda perekonomian dan akan sangat terpukul jika kasus Covid-19 benar-benar mencapai puncaknya dan memaksa kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) nantinya.

Sektor wisata dan sektor-sektor lain juga akan sangat tergantung dengan kondisi di sekitarnya. Saat ini, Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Gresik sedang menuju PSBB. Hal itu diyakini akan cukup berpengaruh bagi perekonomian di Madura, karena tentu akan menyulitkan lalu lintas perdagangan dan jasa.

Efek terdekat adalah bertambahnya orang miskin yang menggantungkan hidup dari penghasilan harian. Penghasilan harian mereka akan cukup terganggu.

Madura terkenal dengan pertanian subsistem yang hanya mengandalkan musim hujan, dan kebanyakan mereka adalah buruh tani, serta pekerja kasar lainnya seperti tukang, kuli, tukang becak, sopir angkot, dll.

Bidang-bidang profesi yang bergantung upah harian seperti itu pasti akan terpengaruh dampak meluasnya Covid-19 dan penerapan PSBB di daerah sekitarnya.

Upaya Pemulihan Ekonomi Pasca Covid-19

Beberapa kebijakan pemerintah yang mungkin dilakukan dalam menghadapi puncak pandemi Covid-19, antara lain:

1. Memastikan keterjangkauan dan kecukupan pasokan pangan sehingga seluruh masyarakat minimal terpenuhi kebutuhan dasarnya

2. Memberikan stimulus buat industri sehingga gelombang PHK massal dapat dikurangi atau dihindari

3. Mempercepat bantuan sosial seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai). Bantuan cash transfer ke masyarakat jauh lebih cepat dan langsung dirasakan dampaknya

4. Penanganan kesehatan masyarakat untuk selamat dari Covid-19 adalah prioritas paling utama. Artinya, harus menjadi concern pemerintah agar segera mampu melalui pandemi Covid-19.(*)

Penulis : Ubay NA
Editor : Salimah
Tirto.ID
Loading...

Komentar