oleh

Program Penyerapan Gabah di Pamekasan Terancam Tak Berhasil

PortalMadura.Com, Pamekasan – Petani padi di Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur enggan menjual hasil panennya ke Bulog lantaran harga yang dipatok lebih rendah dengan harga pasaran. Akibatnya, program penyerapan gabah atau beras di wilayah itu terancam tidak berhasil.

Kantor Bulog Sub Divre IV Madura Pamekasan yang menaungi empat kabupaten, meliputi Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep ditarget bisa membeli beras petani sebanyak 15.000 ton atau setara dengan 30.000 ton gabah kering giling (GKG). Sementara Pamekasan sendiri ditarget sebanyak 4.000 ton beras atau sekitar 8.000 ton GKG.

“Saat ini tidak ada petani yang menjual gabah, karena disimpan untuk kebutuhan makan, kalau mau jual tunggu panen kedua nanti,” demikian laporan Kapten Inf Sumarhadi, salah satu Danramil jajaran Kodim 0826 Pamekasan dalam rapat koordinasi penyerapan gabah atau beras, Kamis (9/7/2015).

Selain persoalan harga yang murah, persyaratan yang berbelit juga membuat petani enggan menjual hasil panennya ke kantor Bulog. Kondisi itu harus menjadi perhatian pemerintah agar program ketahanan pangan berjalan sesuai harapan.

“Harga GKG yang ditetapkan pemerintah (Bulog) adalah Rp 4.650 perkilogram, sedangkan harga GKG dipasaran (tengkulak) wilayah Pamekasan antara Rp 5.000 hingga Rp 5.500 perkilogram. Perbedaan harga yang cukup besar inilah yang membuat para petani enggan menjual gabahnya ke Bulog,” terangnya.

Menanggapi persoalan tersebut Kurniawan Kabulog Sub Divre IV Madura Pamekasan berdalih, penetapan harga merupakan kewenangan pemerintah pusat. Pihaknya tidak dapat berbuat apa-apa atas permintaan petani yang menginginkan harga lebih tinggi dari harga yang dipatok sekarang.

“Kita hanya menjalankan perintah, semua keputusan ada di pemerintah pusat. Kualitas gabah menjadi penting karena ketika nanti diselep akan menentukan kualitas berasnya,” ujarnya.

Sementara itu, Dandim 0826 Letkol Arm Mawardi menyarankan agar Bulog fokus pada pemenuhan target penyerapan. Selain itu memberikan informasi kepada pemerintah pusat terkait kendala yang dihadapi di lapangan. Seperti harga yang murah dan faktor yang menghambat lainnya.

“Saya, sarankan ke pusat untuk penyesuaian harga GKG khusus wilayah Madura, sehingga target penyerapan bisa tercapai,” pintanya.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Pamekasan, hasil produksi padi petani selama satu tahun rata-rata sebanyak 120.000 ton lebih. Dari jumlah itu, sebagian besar tidak dijual, melainkan disimpan untuk kebutuhan makan sendiri. (Marzukiy/choir)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.