PT Garam Kalianget Akan Bangun Pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida

Penulis: HartonoEditor: Hartono
PT Garam Kalianget Akan Bangun Pabrik Soda Ash dan Amonium Klorida
Direktur Pengembangan PT Garam (Persero) Kalianget, Sumenep Arif Haendra

PortalMadura.Com, Sumenep – PT Garam (persero) Kalianget, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, akan membangun pabrik soda ash dan amonium klorida.

Soda ash merupakan bahan baku untuk, di antaranya pembuatan kaca, deterjen dan sabun. Sedangkan amonium klorida, salah satunya untuk bahan baku pupuk NPK.

Rencana tersebut disampaikan Direktur Pengembangan PT Garam (Persero) Kalianget, Sumenep Arif Haendra, beberapa waktu lalu.

Arif Haendra mengungkapkan, untuk menambah nilai lebih bagi Sumenep, maka perlu memanfaatkan hasil bumi dari Sumenep sendiri.

“Salah satunya garam diolah. Satu turunannya, berupa soda ash,” kata Arif sapaan Arif Haendra.

Indonesia, kata dia, setiap tahunnya membutuhkan 1 juta ton soda ash. “Selama ini masih impor,” ujarnya.

Sumenep dapat menyumbangkan soda ash itu kisaran 300 ribu ton pertahun bila dibangun pabrik soda ash dengan memanfaatkan bahan bagu garam dan gas dari Sumenep.

“Dari sini tentunya, industrialisasi akan berkembang, tenaga kerja dan lapangan kerja akan berkembangan serta ekonomi pasti berkembang,” ungkapnya.

Selain itu, posisi PT Garam tidak hanya menjadi perusahaan agrobis seperti saat ini, tetapi menjadi industri sesuai dengan visinya.

“Kita sudah lama mencanangkan bisnis ini untuk menghasilkan industri turunan dari garam yang selama ini hanya garam konsumsi,” ujarnya.

Analisa Ekonomi

Arif Haendra mengemukakan, satu pabrik dapat menghasilkan 300 ribu ton soda ash per tahun sekaligus menghasilkan amonium klorida sebanyak 175 ribu ton (bahan pupuk NPK).

Sedangkan kebutuhan bahan baku garam berkisar 361 ribu ton garam industri. “Kalau garam non industri butuh 400-420 ribu ton garam (garam belum dicuci),” sebutnya.

Hal tersebut membuktikan bahwa garam Indonesia bisa untuk industri. “Amoniakknya (amonium) dari mana? dari gas. Gas diolah menjadi amonia dan CO2 dipakai untuk bahan baku plus garam menjadi soda ash dan amonium,” urainya.

Dampak ekonomi pada lingkungan, kata dia, sudah dapat dipastikan membutuhkan tenaga kerja ribuan pada proses membangun pabrik.

“Kalau sudah beroperasi, butuh tenaga kerja antara 300-an sampai 400-an orang (kerja di dalam), belum tenaga kerja di luar pabrik. Implikasi ekonominya pasti banyak,” tandasnya.

Lokasi, Anggaran dan Kebutuhan Gas

Rencana pembangunan pabrik soda ash dan amonium klorida tersebut akan memakai lahan milik PT Garam yang ada di wilayah Kalianget, Sumenep dengan kebutuhan sekitar 6-8 hektar lahan.

“Kalau lahan sudah tidak ada masalah, lahan sudah ada milik PT Garam,” tegas Arif Haendra.

Sedangkan kebutuhan lainnya berupa pasokan gas 30-40 MMSCFD (juta kaki kubik). “Kami sudah melakukan komunikasi dengan pihak SKK Migas, dari EML saja sudah cukup. EML itu nantinya akan punya 6 bor,” katanya.

“Syukur-syukur kalau misalnya dapat dari sumber gas lainnya yang ada di Sumenep. Sebab, untuk sebuah investasi, harus ada jaminan kebutuhan gas itu tercukupi minimal 20 tahun kedepan,” katanya.

Kebutuhan infrastruktur lainnya, kata dia, dermaga di lahan PT Garam yang langsung menuju laut bebas. “Artinya, dermaga PT Garam harus menghadap ke laut dengan kapasitas 30 ribu sampai 40 ribu ton (kapal besar),” terangnya.

Dermaga tersebut akan tersambungkan dengan sebuah konveyor atau perlu mengaktifikan rel. “Jadi, pelabuhan itu perlu diperdalam lagi untuk bisa dilalui kapal besar,” katanya.

Kebutuhan investasi pada pembangunan pabrik soda ash dan amonium klorida tersebut diperkirakan mencapai Rp8 – Rp10 triliun. Dan pihaknya tidak mengharapkan dari anggaran APBN.

“Kami tidak akan menggunakan APBN, tapi sudah ada dua sampai tiga investor, baik dari dalam maupun luar negeri. Hanya saja, kami berharap investor lokal saja,” ungkapnya.

Para investor tersebut, kata dia, sudah siap untuk membangun pabrik jika PT Garam mendapat kepastian pasokan gas yang dibutuhkan.

PT Garam juga sudah siap, antara 20 sampai 30 persen dari kebutuhan anggaran itu. “Kalau kita bisa meyakinkan bank, ya bisa cuma 20 persen atau Rp2 triliun dari nilai aset PT Garam,” ucapnya.

Sedangkan untuk membangun pabrik tersebut membutuhkan waktu 30 bulan (kurang 3 tahun). “Dan kami sudah melakukan komunikasi pada semua pihak. Sebagai tindak lanjutnya, kami akan membuat forum untuk menjelaskan (presentasi) detailnya,” tandasnya.

Menurut dia, jika rencana tersebut mendapat kepastian pasokan gas dan support dari para pihak, maka Indonesia tidak perlu impor soda ash yang setiap tahunnya butuh 1 juta ton dan amonium klorida.

“PT Garam bisa mensupport 300 ribu soda ash, Petrokimia 300-an ribu dan Pupuk Kaltim juga 300-an. Kedepan Indonesia tidak butuh impor lagi,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.