Punya Asam Lambung, Tapi Ingin Minum Kopi? Ini Solusinya

Avatar of PortalMadura.com
Kopi Dingin
Ilustrasi
    Bagikan:

PortalMadura.Com – Penyakit asam lambung merupakan kondisi yang ditandai dengan nyeri pada ulu hati atau sensasi terbakar di dada akibat naiknya asam lambung menuju esofagus atau yang dikenal dengan kerongkongan.

Biasanya, seseorang yang menderita penyakit ini disarankan untuk tidak minum kopi. Sebab, minuman tersebut mengandung tingkat keasaman yang tinggi. Tapi Anda tidak perlu khawatir, bagi Anda penyuka kopi, ternyata ada jenis kopi yang masih bisa Anda nikmati walaupun memiliki asam lambung.

“Kopi dingin lebih baik buat penderita asam lambung karena zat yang menyebabkan asam lambung tidak ada atau berkurang, jadi enggak apa-apa, malah bagus,” kata dr Annisa Maloveny SpPD .

Asam yang ada dalam es kopi dibandingkan kopi panas lebih rendah, yang akhirnya membuat penderita refluks asam lambung masih bisa menikmati kafein dari secangkir kopi. Sebelumnya diketahui bahwa rata-rata kopi dingin memiliki kadar pH 6,31 yang berlawanan dengan versi panasnya yang mengandung pH 5,48 — pada skala pH, semakin rendah angkanya semakin asam sifat zat tersebut.

Baca Juga:  Bersama PDIP dan SAI, Pendaftar Operasi Mata Katarak Gratis Tembus 348 Orang

Kondisi ini terjadi lantaran air panas yang digunakan untuk menyeduh kopi akan mengeluarkan asam yang lebih pekat dari biji kopi. Sementara es batu akan lebih mengencerkan konsentrat kopi sehingga rasanya pun lebih “jinak”.

Kendati demikian, ada batasan umum yang harus dipatuhi untuk minum kopi. Menurut Annisa, konsumsi kopi orang dewasa tiga sampai dengan empat cangkir setiap hari. Jumlah ini lantaran batas konsumsi kafein harian sekitar 300-400 miligram.

Jika berlebih, kata Annisa, maka beberapa dampak negatif akan muncul, seperti insomnia, inkontinensia urine (buang air kecil yang terus menerus), meningkatnya tekanan darah, masalah menstruasi, dan risiko asam urat.

“Bahkan kelebihan kafein dalam jangka waktu panjang dapat mengakibatkan sejumlah permasalahan kesehatan yang lebih serius, seperti masalah lambung, terganggunya sistem kardiovaskular, kerusakan tulang, daya ingat terganggu, menurunnya kinerja mental, memicu produksi hormon cortisol dan yang paling parahnya dapat memengaruhi kesuburan wanita atau bahkan keguguran,” katanya. (kompas.com/Putri)

Baca Juga:  Ambunten dan Lenteng Tertinggi, PMK Merambah Kepulauan Sumenep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.