oleh

Rektor Tolak Tuntutan AMUG Unija Sumenep

SUMENEP (PortalMadura) – Menanggapi tuntutan mahasiswa yang meminta pihak rektorat merubah perkuliahan dari sistem paket yang diterapkan bagi mahasiswa baru pada sistem kredit semester (SKS)-program lama, Rektor Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep, Alwiyah teguh pendirian.

Rektor yang suka senyum ini, mengaku tidak bisa memenuhi tuntutan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Menggugat (AMUG), sebab kebijakan tersebut sudah berlaku sejak dua tahun yang lalu.

“Kebijakan ini sudah dicantumkan pada brosur penerimaan mahasiswa baru. Jadi tidak mungkin dirubah,” tegas Rektor Unija, Senin (06/01/14).

Pihaknya mengaku tidak keberatan jika mahasiswanya menggelar unjuk rasa, tetapi jangan sampai mengganggu aktifitas mahasiswa yang lain. Beberapa hari terahir ini, aksi yang dilakukan mahasiswa justru mengganggu aktifitas kampus.

“Silahkan demo, tapi jangan mengganggu aktifitas mahasiswa yang lain. Kalau sampai mengganggu, kami pasti bersikap tegas,” katanya.

Pihaknya juga meminta, jika mahasiswa mau tunduk terhadap aturan Unija, silahkan untuk melanjutkan kuliahnya, tetapi kalau tidak bisa mengikuti aturan Unija, silahkan mengundurkan diri.

“Kalau mau patuh dengan aturan silahkan, jika tidak mau patuh, ya silahkan mengundurkan diri,” tandas rektor cantik ini.

Bahkan, dirinya sempat menyampaikan di hadapan pendemo, jika kebijakan dan keputusan yang selama ini diterapkan di kampus Unija tidak ada kepentingan apapun, kecuali untuk kemajuan Unija dalam usaha menuju Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

iklan hari santri

Kondisi Unija, kata dia, sangatlah tepat bila menjadi negeri. Asal semua elemen bisa mendukung program yang telah dijalankan. “Apapun kebijakan saya, bukan untuk saya pribadi. Tapi, untuk 4 ribuan mahasiswa yang kulia di Unija,” ucapnya.

Menurut dia, para mahasiswa yang demo dan menginginkan dirinya harus lengser dari Unija tidak ada masalah. Asal ada fakat dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

“Kalau saya korupsi atau melakukan tindakan yang dinilai merugikan Unija, saya akan mundur. Selama ini, apa yang saya kerjakan hingga meninggalkan kewajiban keluarga demi Unija, tujuannya hanya ingin mengantarkan Unija lebih baik. Target saya, Unija harus menjadi negeri,” paparnya.

Bahkan, dia juga menyayangkan ketika mahasiswa melakukan aksi demo sampai mengganggu aktifitas kampus. Padahal, masih banyak garapan lain untuk memajukan Unija.

“Kapan pun saya terbuka pada mahasiswa maupun elemen lain. Selama mau bersama-sama untuk memajukan Unija, saya siap untuk melakukan kerjasama dan bertemu,” tandasnya.

Dia juga mengaku sering mengajak mahasiswa untuk dialog atau diskusi. “Saya pikir tidak perlu demo, karena saya siap untuk berdialog sama mereka, kapan pun. Saya selalu terbuka, baik di rumah, atau di kantor. Bahkan, jika diperlukan dimana pun asal semuanya untuk kemajuan Unija,” tandasnya dengan raut wajah berapi-api.(arif/htn)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.