Rektor Unija: Terlalu Lebai Kalau Harus Demo, Itu Alumni!

Avatar of PortalMadura.com
Rektor Unija: Terlalu Lebai Kalau Harus Demo, Itu Alumni!
Rektor Unija, Sumenep, Sjaifurrachman

PortalMadura.Com, Sumenep – Demo yang mengatasnamakan mahasiswa Unija dan keberatan terhadap biaya wisuda seharga Rp750 ribu pada masa pandemi dinilai terlalu lebai oleh pihak rektorat.

Rektor Unija, Sumenep, Sjaifurrachman, Jumat (20/11/2020) juga menyebutkan, yang keberatan dengan cara menggelar aksi demo, statusnya bukan lagi mahasiswa tetapi alumni.

“Mereka sudah selesai yudisium di fakultasnya masing-masing. Mereka calon wisuda, tinggal menunggu pengukuhan saja,” terangnya.

“Rp750 ribu dirasa berat?. Saya pikir tidak la. Apalagi akreditasi Unija Baik Sekali. Ijazahnya kan sudah nasional. Kalau masih berat kan bisa dicicil. Terlalu lebai la, kalau harus demo,” sambungnya.

Pihaknya mengaku masih banyak yang perlu dikerjakan dan tidak perlu mengurus hal-hal yang tidak substantif. “Di data kita, mereka sudah masuk atau dilaporkan sebagai alumni,” kembali menegaskan.

Awalnya, kata dia, biaya wisuda diputuskan Rp850 ribu. Namun, karena ada enam orang yang audensi mewakili masing-masing fakultas dan meminta biaya wisuda diturunkan, pihaknya merespon dengan baik sehingga diputuskan Rp750 ribu.

Baca Juga:  Perempuan Sumenep Didorong Ikut Pulihkan Ekonomi dan Bangkit Lebih Cepat

Bahkan, keputusan untuk melangsungkan wisuda pada masa pandemi juga atas kesepakatan perwakilan mereka. “Kita sudah menanyakan karena situasinya pandemi, tapi mereka mau. Artinya, kemauan mereka sendiri untuk melaksanakan wisuda pada masa pandemi,” tandasnya.

Sebenarnya, pihaknya sudah berusaha dan mengajukan izin untuk melaksanakan wisuda seperti sebelum masa pandemi, tetapi izin itu ditolak oleh kepolisian dan ada larangan dari Satgas Covid-19.

“Kita kan harus patuh. Itu sudah aturan pemerintah pada masa pandemi. Kegiatan harus dilakukan daring. Bahkan pada semester genap ini, pelaksanaan pembelajaran, baik akademik dan non akademik harus dilakukan daring,” terangnya.

“Masalah puas tidak puas itu, ya tidak bisa seperti itu. Karena itu kebijakan dan sudah menjadi keputusan,” sambungnya.

Baca Juga:  SAI dan PDI Perjuangan Gelar Operasi Katarak Gratis, Jadi Agenda Tahunan

Ia juga meragukan aksi demo yang hanya dilakukan segelintir orang alumni. Buktinya, kata dia, dari 925 calon wisudawan dan wisudawati, justru yang mendaftar banyak atau lebih dari separuh.

“Memang keputusan itu tidak mungkin memuaskan semuanya,” ucapnya.

Namun, jika tetap keberatan mengikuti wisuda tahun ini, pihaknya mempersilakan untuk mengikuti wisuda tahun depan dengan ketentuan tetap mengikuti wisuda yang akan datang.

“Cuma kalau ikut tahun depan [wisuda], ijazah juga tidak bisa dikeluarkan sekarang. Itu syarat administrasi yang harus dipenuhi,” pungkasnya.

Sebelumnya, pada Kamis (19/11/2020) siang, aksi mengatasnamakan mahasiswa Unija keberatan dengan biaya wisuda daring yang mencapai Rp750 ribu per mahasiswa. Mereka mendesak pihak rektorat meninjau ulang.

Baca Juga:  3 Atlet Petanque Sumenep Ikuti Seleksi Kejurnas Junior U-16

Orator aksi, Muhammad Sholeh menyampaikan, calon wisudawan merasa sangat terbebani. Bahkan, jika tetap harus membayar Rp750 ribu, maka pelaksanaan wisuda harus dilakukan secara luring.

Selain itu, mereka meminta transparansi pengelolaan keuangan wisuda. Dan menuntut biaya wisuda daring diturunkan menjadi Rp500 ribu.(*)

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.