oleh

Rp4,5 M Dikembalikan ke Pusat, Disperindag Sumenep Gagal Realisasikan Program

PortalMadura.Com, Sumenep – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, gagal merealisasikan anggaran pemerintah pusat sebesar Rp4,5 miliar.

Dana tersebut untuk pembangunan pasar tradisional di wilayah Kecamatan Batuan, Sumenep. Anggaran itu akhirnya harus dikembalikan pada pemerintah pusat.

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Jelang Liga 3 Jatim 2021, Madura FC Masih Butuh Empat Laga Uji Coba

Gagalnya pembangunan pasar tersebut memaksa mahasiswa Sumenep turun jalan, hari ini, Jumat (1/10/2021).

Mereka yang mengatasnamakan Gerakan Perjuangan Demokrasi Rakyat (GPDR) “ngeluruk” Kantor Disperindag Sumenep, di Jl. Urip Sumoharjo.

Pengunjukrasa juga mempersoalkan pasar tradisional di Kangayan yang menguras anggaran hingga Rp 1,5 miliar. Namun, hingga saat ini, keberadaan pasar Kangayan tidak terurus dengan baik.

“Pasar tradisional Kangayan gak keurus, Batuan malah mangkrak. Disperindag lagi ngapain?,” kata korlap aksi GPDR, Dimas Wahyu Abdillah, saat aksi.

Disperindag Sumenep, kata dia, gagal menjalankan program yang seharusnya sudah dapat dinikmati masyarakat. Saat ini, pasar tradisional Kangayan justru hanya menjadi lokasi swafoto para remaja setempat.

“Disperindag benar-benar tidak becus. Dan bahkan buta terhadap kepentingan ekonomi rakyat,” tudingnya.

Keberadaan pasar tradisional Kangayan dan Batuan sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk menyambung hidup. “Malah yang Batuan mangkrak dan di Kangayan sudah dibangun tapi tidak terurus,” katanya kembali menegaskan.

Masyarakat di dua kecamatan tersebut menjadi korban ketidak mampuan Disperindag Sumenep dalam menjalankan program dan merealisasikan anggaran dengan baik. “Ini bukti pejabat tidak becus,” tandasnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sumenep, Agus Dwi Saputra mengakui anggaran pasar Batuan mencapai Rp 4,5 miliar yang bersumber dari DAK tidak terealisasi. Dan anggaran pasar tradisional Kangayan sebesar Rp 1,5 miliar.

“Memang tidak terealiasi (Pasar Batuan), tapi sudah dikembalikan semuanya ke pusat,” terangnya.

Sedangkan pembangunan pasar tradisional Kangayan yang anggarannya bersumber dari APBD tahun 2020 sudah terealisasi. Namun, hingga hari ini belum ada pedagang yang menempati pasar tersebut.

Ia menjelaskan, pembangunan pasar tradisional Kangayan pernah dilakukan audit oleh Badan Pengawas Keuangan (BPK).”Saat diaudit, ada temuan sekitar Rp 36 juta lebih,” terangnya.

Para mahasiswa mengakhiri aksinya dengan membakar keranjang sebagai wujud kekecewaan terhadap kinerja Disperindag Sumenep. Aksi mahasiswa ini mendapat pengawalan ketat dari aparat kepolisian setempat.(*)

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar