PortalMadura.com–Sebuah rumah warga di Dusun Tanjung Pagar, Desa Pagerungan Kecil, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, hancur total akibat diterjang angin kencang pada Kamis (22/1) pagi sekitar pukul 06.00 WIB. Peristiwa ini terjadi saat cuaca ekstrem melanda wilayah kepulauan tersebut.
Rumah milik Waris (36), yang terbuat dari kayu, roboh setelah tertimpa pohon besar yang tumbang akibat terjangan angin. Di dalam rumah tinggal Waris, istrinya Farida (35), seorang putri mereka, serta adik iparnya yang masih anak-anak. Beruntung, tidak ada korban jiwa. Namun, Waris mengalami luka di kepala saat berusaha melindungi anaknya dari reruntuhan.
Akibat kerusakan parah, keluarga tersebut terpaksa mengungsi sementara ke rumah kerabat terdekat. Warga setempat menggambarkan angin datang tiba-tiba dan berlangsung cukup lama, memicu kepanikan di permukiman.
“Anginnya sangat kencang. Tiba-tiba pohon itu roboh dan menimpa rumah. Bagian atap rusak parah,” ujar seorang warga.
Tak lama setelah kejadian, perangkat desa bersama warga langsung melakukan gotong royong membersihkan puing-puing pohon yang menimpa rumah. Proses evakuasi dilakukan secara manual karena keterbatasan sarana di wilayah kepulauan.
Menanggapi insiden ini, Anggota DPRD Kabupaten Sumenep Dapil VII Kepulauan, Syamsul Bahri, mendesak pemerintah daerah segera memberikan bantuan darurat. Ia menekankan bahwa warga kepulauan sangat rentan terhadap cuaca ekstrem.
“Pemerintah daerah harus segera hadir. Bantuan logistik dan material bangunan harus disalurkan agar korban bisa kembali tinggal dengan aman,” tegasnya.
Syamsul juga mendorong BPBD dan Dinas Sosial untuk segera melakukan pendataan cepat dan mengimbau masyarakat memangkas pohon berisiko di sekitar permukiman sebagai langkah mitigasi.
Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Sumenep, Ach. Laili Maulidy, mengakui telah menerima laporan awal dari tokoh masyarakat. Namun, ia menjelaskan bahwa bantuan resmi baru bisa diproses setelah ada laporan tertulis dari kepala desa yang diajukan melalui camat kepada bupati, lengkap dengan identitas korban.
“Setelah laporan resmi masuk, kami akan lakukan asesmen dan ajukan persetujuan ke Bupati, lalu diteruskan ke BPKAD,” jelasnya.
Laili menambahkan, respons BPBD saat ini terkendala keterbatasan personel dan transportasi akibat cuaca buruk. Apalagi, pihaknya juga sedang menangani sembilan titik bencana serupa di wilayah daratan Sumenep.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan bencana, terutama di wilayah kepulauan yang rentan terhadap perubahan cuaca ekstrem





