PortalMadura.com – Nilai tukar rupiah menunjukkan taji pada pembukaan perdagangan Rabu (1/4/2026) pagi. Mata uang Garuda berhasil bangkit dan meninggalkan level psikologis Rp17.000 per dolar AS yang sempat membayangi dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data perdagangan pagi ini pukul 09.19 WIB, rupiah berada di posisi Rp16.997 per dolar AS. Angka ini mencatatkan penguatan signifikan sebesar 64 poin atau sekitar 0,38 persen dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya.
Kondisi pasar di Asia terpantau bergerak variatif. Saat rupiah, yuan China (0,16%), peso Filipina (0,54%), dan won Korea Selatan (0,51%) menguat, mata uang lain seperti yen Jepang dan baht Thailand justru mengalami pelemahan tipis. Sementara itu, mata uang negara maju seperti euro, poundsterling, dan franc Swiss terpantau kompak berada di zona hijau.
Baca Juga:
Memperkenalkan Aplikasi Akulaku: Pilihan Tepat untuk Kebutuhan Belanja Online dan Finansial Anda
Sentimen Global Jadi Motor Penguatan
Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa penguatan rupiah kali ini didorong oleh optimisme pelaku pasar terhadap kondisi geopolitik global. Harapan akan adanya de-eskalasi konflik di Timur Tengah melalui pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran memberikan angin segar bagi aset-aset berisiko (risk-on), termasuk rupiah.
“Rupiah diperkirakan akan terus menguat terhadap dolar AS di tengah sentimen positif dari harapan meredanya perang di Timur Tengah,” ungkap Lukman pada Rabu (1/4).
Untuk pergerakan sepanjang hari ini, Lukman memproyeksikan nilai tukar rupiah akan berfluktuasi secara dinamis. Kurs diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar AS.
Kenaikan ini menjadi kabar baik bagi stabilitas ekonomi nasional, mengingat sebelumnya rupiah sempat tertekan akibat meluasnya konflik di Timur Tengah yang mendorong investor beralih ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS.





