portalmadura.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatat tren negatif pada akhir perdagangan Senin (18/5/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah sebesar 71 poin atau merosot 0,4 persen ke level Rp17.667 per dolar AS, setelah sebelumnya bertengger di posisi Rp17.596.
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa kemerosotan nilai tukar rupiah kali ini dipicu oleh kombinasi dua faktor utama, yakni sentimen negatif dari dalam negeri (internal) serta tekanan geopolitik dan moneter dari luar negeri (eksternal).
Faktor Internal: Sorotan Terhadap Pidato Presiden Prabowo Subianto
Dari sisi domestik, Ibrahim menyebut pasar keuangan domestik sempat tersentak oleh pernyataan terbaru Presiden Prabowo Subianto. Dalam pidatonya, Presiden menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat di daerah tidak menggunakan mata uang dolar AS dalam aktivitas kehidupan sehari-hari, sehingga dampak pelemahan kurs tidak akan dirasakan secara langsung.
Presiden Prabowo juga menambahkan bahwa di tengah situasi global yang memicu kepanikan di berbagai negara, kondisi perekonomian Indonesia saat ini terpantau masih tetap stabil dan berada dalam keadaan baik.
Namun, pandangan tersebut menuai kritik tajam dari Ibrahim Assuaibi. Ia menilai anggapan bahwa masyarakat desa tidak mengenal dolar AS kurang tepat, mengingat pemerataan teknologi saat ini telah membuat masyarakat di pedesaan semakin cerdas dalam memantau perkembangan ekonomi nasional, bahkan banyak dari mereka yang terlibat dalam transaksi mata uang.
“Namun, sangat disayangkan di sekitaran Presiden, terutama Sekretaris Kabinet [Teddy Indrawijaya] tidak bisa mengarahkan pidato presiden sesuai dengan protokol yang sudah ada,” ujar Ibrahim dalam keterangan resminya, Senin (18/5/2026).
Menurut Ibrahim, Sekretaris Kabinet perlu segera melakukan pembenahan dan koreksi protokoler agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. Ia juga mengingatkan kembali pernyataan kontroversial Presiden sebelumnya yang sempat menyebut bahwa aktivitas bermain saham dikategorikan sebagai judi.
Faktor Eksternal: Risiko Inflasi AS dan Eskalasi Konflik Timur Tengah
Sementara itu, dari luar negeri, keperkasaan dolar AS kian kokoh akibat meningkatnya risiko inflasi global yang dipicu oleh tingginya harga minyak dunia. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi (higher for longer) dalam jangka waktu yang lebih lama.
Prospek kebijakan moneter ketat dari The Fed dinilai semakin kuat karena lonjakan harga energi secara nyata telah memperlambat kemajuan proses disinflasi, sehingga mendorong laju inflasi bergerak semakin jauh dari target sasaran 2 persen yang ditetapkan oleh The Fed.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik global semakin memanas seiring terhentinya upaya untuk mengakhiri konflik antara AS-Israel di Iran. Situasi memburuk setelah adanya laporan serangan drone terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Barakah di Uni Emirat Arab (UEA). Otoritas setempat menyatakan tengah menyelidiki dalang di balik serangan tersebut dan menegaskan hak penuh UEA untuk merespons tindakan yang mereka sebut sebagai aksi teroris.
Ketegangan kian meluas setelah Arab Saudi dilaporkan berhasil mencegat tiga unit drone yang memasuki wilayah udara Irak, seraya memperingatkan akan mengambil tindakan operasional yang diperlukan demi menjaga kedaulatan wilayahnya. Di tengah situasi yang semakin genting ini, Presiden AS Donald Trump dijadwalkan segera menggelar pertemuan dengan para penasihat keamanan nasional utama untuk membahas opsi tindakan militer terhadap Iran.
Langkah diplomatik pekan lalu antara Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping juga dinilai berakhir buntu tanpa ada indikasi kuat bahwa Beijing, selaku importir minyak terbesar dunia, akan membantu meredakan konflik di Timur Tengah. Secara terpisah, pemerintahan Trump dipastikan telah mengakhiri kebijakan pengecualian sanksi setelah perpanjangan satu bulan selesai, yang membuat negara-negara tertentu, termasuk India, kini dilarang membeli komoditas minyak Rusia yang diangkut melalui jalur laut.





