PortalMadura.com–Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada penutupan perdagangan Senin (12/1), menyentuh level Rp16.855 per dolar AS, atau turun 36 poin (0,21%) dari posisi sebelumnya di Rp16.819 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah dominasi sentimen global yang terus menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Taufan Dimas Hareva, Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX), menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terutama dipengaruhi oleh kekuatan dolar AS yang masih kokoh. “Dolar AS ditopang oleh tingginya imbal hasil US Treasury dan sikap investor global yang cenderung berhati-hati,” ujarnya kepada ANTARA.
Meski muncul isu tentang potensi intervensi pemerintah AS terhadap Federal Reserve (The Fed), pasar menilai hal tersebut belum memberikan dampak signifikan terhadap kebijakan moneter AS. Investor pun masih menunggu sinyal lebih jelas mengenai kemungkinan penurunan suku bunga, sehingga dolar AS tetap menjadi aset safe haven pilihan.
Di sisi domestik, data terbaru menunjukkan penjualan eceran tumbuh 1,5% secara bulanan (month-to-month), mencerminkan daya beli masyarakat yang relatif stabil. Namun, Taufan menilai sentimen positif ini belum cukup kuat untuk menahan tekanan eksternal. “Dalam jangka pendek, pergerakan nilai tukar lebih dipengaruhi oleh faktor global dan arus modal,” tambahnya.
Otoritas moneter, melalui Bank Indonesia, telah melakukan langkah-langkah stabilisasi di pasar valuta asing untuk meredam volatilitas. Langkah tersebut berhasil membatasi gejolak, namun belum mampu membalikkan tren pelemahan rupiah selama tekanan global masih dominan.
Kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia juga mencatat pelemahan serupa, bergerak ke Rp16.853 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.834 per dolar AS.
Menatap ke depan, Taufan memperkirakan pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada tiga faktor utama: dinamika dolar AS, arah kebijakan The Fed, dan perkembangan sentimen risiko global. “Selama ketidakpastian global masih tinggi dan The Fed belum memberi sinyal dovish yang jelas, rupiah kemungkinan tetap berada dalam tekanan,” pungkasnya.





