PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatat pelemahan signifikan pada Minggu pagi, 7 Juni 2026, menembus angka Rp18.095,70 per dolar AS.
Tren pelemahan ini telah berlangsung sepanjang pekan, bahkan mencapai rekor terendah baru di atas Rp18.000 per dolar AS.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 5 Juni 2026, rupiah di pasar spot Bloomberg berada di level Rp18.036 per dolar AS, menguat tipis 0,07% secara harian.
Baca Juga:
Namun, dalam sepekan terakhir, mata uang Garuda tercatat melemah 0,86% dari posisi Rp17.881 per dolar AS pada Jumat sebelumnya, 29 Mei 2026.
Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) pada Jumat, 5 Juni 2026, juga menunjukkan rupiah berada di level Rp18.039 per dolar AS.
Angka tersebut sama dengan penutupan perdagangan pada Kamis, 4 Juni 2026, yang juga merupakan level terburuk sepanjang sejarah saat itu.
Secara year-to-date, rupiah telah terdepresiasi sekitar 6,91% dibandingkan posisi awal tahun di level Rp16.725 per dolar AS per 29 Mei 2026.
Fluktuasi yang terjadi sepanjang tahun 2026 ini menggambarkan kerentanan sekaligus ketahanan posisi mata uang di pasar global.
Faktor Global Pemicu Pelemahan Rupiah
Berbagai sentimen eksternal menjadi pendorong utama pelemahan rupiah yang berkelanjutan.
Eskalasi geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik yang melibatkan Iran dan Israel, menciptakan ketidakstabilan pasar komoditas global.
Peristiwa seperti serangan AS di Pulau Qeshm Iran, dekat Selat Hormuz, jalur air vital untuk seperlima konsumsi minyak dunia, memicu kekhawatiran pasokan.
Kondisi ini menyebabkan kenaikan harga minyak global, yang berdampak langsung pada beban biaya impor energi Indonesia.
Selain itu, kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) di Amerika Serikat juga memiliki peran krusial.
Data inflasi AS yang masih tinggi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed mungkin akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Situasi ini menjadikan dolar AS aset yang lebih menarik (flight to quality), mendorong investor menarik modal dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.
Indeks dolar AS secara keseluruhan telah menguat luas terhadap banyak mata uang dunia, bukan hanya rupiah.
Kenaikan imbal hasil US Treasury juga turut memicu arus modal keluar dari pasar domestik, menambah tekanan depresiasi rupiah.
Secara umum, prospek perekonomian global pada tahun 2026 diprakirakan melambat dengan tingkat ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi.
Tekanan Domestik dan Respons Bank Indonesia
Faktor-faktor domestik juga berkontribusi terhadap tekanan pada nilai tukar rupiah.
Tekanan inflasi dalam negeri, yang sempat melampaui target Bank Indonesia, menggerus daya beli dan daya saing produk lokal.
Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada April 2026 tercatat 2,42% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya 3,48% (yoy), namun pada Februari 2026 sempat mencapai 4,76% (yoy), melebihi target BI 1,5%-3,5%.
Dinamika neraca perdagangan serta kebutuhan dolar musiman untuk pembayaran dividen dan pelunasan utang luar negeri turut membebani rupiah.
Kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan komitmen belanja pemerintah yang meningkat juga menyebabkan sentimen domestik tetap rapuh.
Menanggapi tekanan ini, Bank Indonesia (BI) secara konsisten melakukan langkah-langkah stabilisasi.
Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75% pada Februari dan Maret 2026, keputusan yang konsisten dengan fokus stabilisasi nilai tukar rupiah dan pengendalian inflasi.
BI secara aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing, baik melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
Struktur suku bunga instrumen moneter juga diperkuat, dengan kenaikan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing.
Misalnya, suku bunga SRBI dinaikkan menjadi 6,21%; 6,31%; dan 6,45% untuk tenor 6, 9, dan 12 bulan pada 13 Mei 2026.
BI juga menyesuaikan ambang batas tunai pembelian valuta asing terhadap rupiah tanpa transaksi dasar menjadi 25.000 dolar AS per pelaku per bulan, berlaku mulai Juni 2026.
Cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai 5,8 bulan impor dan di atas standar kecukupan internasional.
Proyeksi dan Harapan Stabilisasi Rupiah
Meskipun menghadapi tekanan berat, Bank Indonesia tetap optimistis terhadap prospek rupiah.
BI memperkirakan nilai tukar rupiah akan kembali stabil mulai Juli 2026 dan bergerak di kisaran target Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS.
Optimisme ini didasari oleh fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih kuat dengan pertumbuhan yang terjaga dan inflasi yang terkendali.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memproyeksikan rupiah pada semester II-2026 akan bergerak di kisaran dasar Rp17.300 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Dalam skenario yang lebih positif, jika konflik geopolitik mereda dan dolar AS melemah, rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp17.000 hingga Rp17.300 per dolar AS pada akhir tahun.
Namun, para analis juga mengingatkan bahwa stabilitas rupiah tidak hanya bergantung pada suku bunga, tetapi juga pasokan devisa yang memadai dan kepercayaan pasar terhadap arah kebijakan ekonomi yang konsisten.
Kebutuhan dolar AS musiman untuk pembayaran utang luar negeri dan impor energi masih berpotensi menciptakan tekanan periodik.
Meski demikian, langkah-langkah proaktif dari Bank Indonesia diharapkan dapat meredam gejolak dan menjaga stabilitas makroekonomi secara keseluruhan.
Publik perlu memantau perkembangan nilai tukar rupiah secara cermat mengingat dampaknya terhadap harga barang impor dan daya beli masyarakat.
Sektor riil dan pelaku usaha dihadapkan pada tantangan yang memerlukan adaptasi strategi di tengah fluktuasi mata uang ini.





