Rupiah Terus Tertekan: Sentuh Level Rp 17.700-an per Dolar AS Hari Ini, Apa Pemicunya?

Avatar of PortalMadura.com
Rupiah Terus Tertekan: Sentuh Level Rp 17.700-an per Dolar AS Hari Ini, Apa Pemicunya?
Rupiah Terus Tertekan: Sentuh Level Rp 17.700-an per Dolar AS Hari Ini, Apa Pemicunya?

PortalMadura.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada hari ini, Senin, 25 Mei 2026, bergerak di kisaran Rp 17.700-an per dolar AS di pasar valuta asing.

Berdasarkan data e-Rate BCA, kurs jual dolar AS tercatat pada Rp 17.770,00 dan kurs beli pada Rp 17.700,00 per dolar AS pada pukul 15:46 WIB.

Pelemahan ini melanjutkan tren negatif yang terlihat selama sepekan terakhir, di mana rupiah telah mengalami penurunan sekitar -0,607% terhadap dolar AS.

Secara lebih luas, rupiah telah melemah sebesar 2,12% dalam sebulan terakhir dan 8,97% selama 12 bulan terakhir.

Sentimen terhadap aset Indonesia masih rentan akibat berbagai hambatan global yang berkelanjutan.

Kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat menjadikan dolar AS sebagai aset yang lebih menarik dan aman bagi investor global.

Kondisi geopolitik global, termasuk meningkatnya konflik di Timur Tengah dan penolakan AS terhadap proposal perdamaian Iran, turut memperparah tekanan pada mata uang.

Kekhawatiran inflasi global juga memicu aksi jual di pasar keuangan, termasuk di Indonesia.

Di sisi domestik, menurunnya surplus neraca perdagangan Indonesia menjadi salah satu faktor yang menekan nilai tukar rupiah.

Cadangan devisa Indonesia terkikis, turun menjadi $146,2 miliar pada April 2026 dari $148,2 miliar pada bulan sebelumnya, menandai penurunan bulanan keempat berturut-turut.

Arus keluar modal asing dari pasar saham Indonesia juga mencapai IDR 3,2 triliun pada pekan lalu, dengan akumulasi arus keluar sebesar IDR 56,46 triliun sejak awal tahun.

Pelemahan rupiah berdampak pada kenaikan harga barang impor, yang selanjutnya meningkatkan biaya produksi dan memicu inflasi.

Sektor-sektor yang sangat bergantung pada impor bahan baku, seperti elektronik, farmasi, otomotif, dan industri mesin, menjadi yang paling terdampak.

Pemerintah dan Bank Indonesia terus memantau perkembangan pasar global guna menjaga stabilitas nilai tukar dan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Bank Indonesia juga telah menyiapkan tujuh langkah stabilisasi nilai tukar untuk merespons kondisi ini.

Meski demikian, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih terjaga di tengah tekanan global, dengan inflasi yang terkendali dan stabilitas fiskal yang terus dipertahankan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses