‘Salodur’ Yang Hilang, Kini Dimainkan Ibu-ibu Sumenep, Ini Filosofinya

    Bagikan:

PortalMadura.Com, Sumenep – Permainan tradisional yang bernuansa olahraga, menghibur dan unik banyak dijumpai di berbagai pelosok kampung di Indonesia.

Namun, permainan itu pelan-pelan ditinggalkan oleh anak-anak di zaman now ini. Bahkan, tak lagi terlihat di kehidupan masyarakat yang serbah canggih. Misalnya, permainan Garobak Sodor.

Permainan ini, sebagian masyarakat Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menyebutnya Salodur yang dimainkan dua tim. Masing-masing tim terdiri dari 5 orang.

Pada tahun 80-an, permainan ini masih ramai diperankan oleh muda-mudi yang hidup diperkampungan. Lebih-lebih pada malam hari di tengah keindahan sinar sang rembulan. Tempat yang digunakan adalah alam terbuka.

Untuk mengingatkan kembali permainan Salodur kepada anak-anak muda masa kini, ibu-ibu dari 4 desa di Kabupaten Sumenep berperan sebagai pemain dalam kemasan Festival Wisata 4 Desa, meliputi Desa Kaduara Timur, Desa Rombasan, Desa Larangan Perreng, dan Desa Sendang, Kecamatan Pragaan.

Pihak panitia menerapkan waktu pertandingan selama 2×7 menit. Jika seri ada tambahan waktu 5 menit. Untuk mendapatkan poin, pemain harus berhasil bergerak cepat sampai di finish, maka akan mendapatkan 2 poin bagi timnya. Bagi pemain yang berhasil menepuk atau menyentuh lawan akan mendapat 1 poin.

Cara Bermain Salodur

salodur
Ilustrasi lapangan permainan Salodur

Sebelum permainan Salodur dimulai, pihak panitia menentukan tim penyerang dan tim penjaga. Tim penyerang sebagai tim yang mendapat kesempatan bermain dari start – finish.

Sementara tim penjaga sebagai tim yang menjaga tim penyerang agar tidak berhasil mencapai finish. Dan berlaku sebaliknya bagi kedua tim.

Kelompok penjaga akan menjaga setiap garis (4 garis horizontal dan 1 garis vertikal. Ditandai garis merah dalam gambar).

Penjaga garis horizontal hanya boleh bergerak ke kiri dan kanan sesuai dengan posisi garis tempat berjaga agar tim penyerang tidak dapat melintas. Demikian juga dengan penjaga garis vertikal yang hanya boleh bergerak ke atas dan ke bawah.

Tim penyerang diminta menyebrangi lapangan dari satu sisi sebagai titik awal menuju ke sisi yang bersebrangan, dengan syarat tidak boleh sampai terkena tepukan atau sentuhan dari tim penjaga atau keluar dari garis batas lapangan.

Jika terkena sentuhan atau tepukan dari tim penjaga maka timnya akan dinyatakan kalah (tidak mendapat poin). Maka, tim penjaga akan berperan sebagai tim penyerang.

Filosofi Salodur

Filosofi dari permainan ini adalah bergerak bagaikan tombak para pahlawan di masa penjajahan yang bergerak untuk melepaskan diri dari para penjajah. Maka, permainan ini membutuhkan strategi agar bebas dari cegatan lawan untuk mencapai kemenangan.

Kecepatan dan kekompakan yang diawali dari kesatuan hati antar tim menjadi kunci keberhasilan kemenangan. Seluruh tim juga harus berada dalam keadaan sehat.

Penamaan Salodur

Permainan Salodur dikenal diberbagai daerah di Indonesia. Umumnya disebut Gobak Sodor atau yang dikenal dengan nama hadang, terobos, galasin atau gala asin.

Berbagai sumber menyebutkan, Gobak Sodor berasal dari Jogjakarta. Meski demikian di daerah lain juga ada permainan serupa dengan penamanan yang berbeda. Di Kepulauan Natuna dikenal dengan nama Galah, di Riau dikenal dengan nama Galah Panjang.

Di daerah Riau Daratan permainan ini dikenal dengan nama Cak Bur atau Main Belon. Sedangkan di Jawa Barat, nama permainan ini adalah Galah Asin, dan di Makasar disebut Asing.

Pengakuan Pemerintah

Permainan tradisional yang merakyat ini juga mendapat pengakuan dari Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Disebutnya sebagai permainan Gobak Sodor yang merupakan salah satu bentuk permainan olahraga tradisional milik Indonesia.(Berbagai sumber/Hartono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.