“Samman” Tenggelam, Tradisi Unik Kini Muncul Kembali di Desa Juruan Laok Sumenep

Avatar of PortalMadura.com
Masroyu
Ach. Masroyu (Foto. google)
    Bagikan:

PortalMadura.Com, Sumenep – Tradisi “Samman” yang sempat tenggelam di tengah kehidupan masyarakat Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, khususnya di Desa Juruan Laok, Kecamatan Batuputih, kini kembali muncul.

Sekelompok warga yang setiap harinya sibuk dengan pertaniannya tiba-tiba mempunyai keinginan kuat untuk menghidupkan kembali tradisi “Samman“. Tempo dulu, tradisi ini cukup kuat dan berkembang di tengah kehidupan masyarakat di sana.

Bahkan kemunculannya dijadikan agenda tetap setiap malam Sabtu. Mereka berkumpul bergantian ke rumah para anggotanya. Pertama kali, Jumat malam lalu (2/2/2018) digelar, di salah satu rumah warga Dusun Kabbuan, Desa Juruan Laok.

“Bentuknya dijadikan perkumpulan. Satu pekan satu kali digelar dengan cara bergiliran,” terang Sekretaris Desa Juruan Laok, Batuputih, Sumenep, Ach. Masroyu, pada PortalMadura.Com, Selasa (6/2/2018).

Samman yang dihidupkan kembali oleh warga Desa Juruan Laok itu, menggunakan alat musik tradisional yang diiringi dengan bacaan bernuansa agamis.

Bagi generasi desa setempat, Samman adalah ibarat sebuah pertunjukan yang terkesan mengedepankan hiburan. Mereka tepuk tangan, berdiri berbentuk lingkaran sambil bergoyang.

Ingin tahu keunikannya?. Silahkan datang langsung setiap malam Sabtu ke Desa Juruan Laok, Batuputih, Sumenep.

Mengenal Samman

“Samman” sudah ada sejak pemerintahan Raja Abdurrahman di Sumenep (1810). Trilaksana (2003) mengatakan, pemerintahan Abdurrahman merupakan sumber sejarah yang kaya.

Abdurrahman sejak tahun 1212 (1836 M) telah mendalami Islam dan menuntut ilmu Tarekat dan Tasawuf, selain itu juga mendalami kejawen.

Dalam blog haeruzz, disebutkan, unsur tarekat atau tasawuf yang dipahami raja Abdurrahman itulah kemudian menjadi cikal bakal munculnya tradisi “Samman”.

Oleh karena itu, tradisi “Samman” adalah bentuk kegiatan tarekat, yang dikenal dengan tarekat Sammaniyah.

Boevier (2002:219) juga mengungkapkan, tradisi “Samman” berasal dari ratib (semacam kelompok tarekat) Sammaniyah yang didirikan Muhammad Samman.

Tarekat Sammaniyah dipengaruhi oleh tarekat Syadziliyah yang didirikan oleh Hasan Syadizili pada abab XIX. Tarekat Sammaniyah tersebar di daerah Turki, Afrika Utara, dan Asia.

Muhammad bin Abdul Karim as-Samman merupakan murid utama Hasan Syadzili.

Baca Juga:  Porprov Jatim, Cabor Angkat Besi Sumenep Borong 2 Medali Perak & Perunggu

Ajaran tarekat Sammaniyah tidak jauh berbeda dengan tarekat Syadziliyah. Selain pengikut Syadziliyah, Muhammad Samman juga penganut tarekat Qadiriyah dan Khalwatiyah (Solihin, 2002: 136).

Awalnya “Samman” tidak mengenal musik, tradisi “Samman” hanya mengenal tari, tepuk tangan, dan zikir.

Zikir adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada sang Khalik. Namun karena pengaruh tradisi lain seperti gambus, sekitar tahun 1970-an tradisi “Samman” akhirnya juga mengadopsi musik.

Sampai sekarang alat musik yang digunakan dalam “Samman” sangat sederhana, berupa gendang, jidor, simbal, dan kentungan kecil dari akar bambu.

Dalam perkembangannya tradisi “Samman” di Sumenep telah menyatu dengan kebudayaan asli Sumenep. Konsep tradisi “Samman” tidak hanya menjadi kegiatan ritual murni, tetapi juga berfungsi sebagai hiburan dan sarana komunikasi antar masyarakat setempat.

Selain itu, tradisi “Samman” nampaknya juga tidak lepas dari tradisi Hindu-Budha yang juga mewarnai budaya masyarakat, seperti pembakaran dupa atau kemenyan sebelum acara dimulai.

Perubahan sebuah tradisi seperti “Samman”, sebenarnya merupakan sebuah proses akulturasi seni yang wajar. Nasarudin (1994:03) berpendapat bahwa perubahan pola atau struktur seni tradisi dan sebuah sastra dapat dipengaruhi antara lain:

Pertama, perubahan corak hidup dan kemajuan sains dan teknologi. Masuknya kesenian modern mau tidak mau juga mempengaruhi konsep tradisi “Samman” di Sumenep.

Digunakannya alat-alat musik tambahan pada beberapa kelompok kesenian ini adalah sebuah bukti pengaruh kemajuan sains dan teknologi.

Dalam Tradisi “Samman” perubahan yang nampak adalah digunakannya alat musik sederhana berupa, gendang, jidor, simbal, dan kentungan kecil dari akar bambu.

Kedua, pengaruh kepercayaan lama seperti Hindu-Budha di Sumenep juga mempengaruhi pola pementasan tradisi “Samman”. Pembukaan acara dalam tradisi “Samman” dimulai dengan pembakaran dupa, agar tujuan pelaksanaan tradisi “Samman” berjalan lancar.

Pembakaran dupa sebenarnya budaya yang berasal dari tradisi Hindu yang dipakai dalam tadisi “Samman”.

Ketiga, status pemain atau orang yang terlibat dalam seni tradisi. Tradisi “Samman” sampai saat ini masih dipertahankan oleh sebagian anggota masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Sumenep. Tentunya perubahan antar generasi tersebut juga akan mempengaruhi konsep seni sastra ini.

Baca Juga:  Dua Tim Bola Voli Pasir Putra Sumenep Raih 2 Medali Perunggu

Perubahan struktur seni dan sastra di Sumenep sebenarnya tidak hanya terjadi pada tradisi “Samman”. Hadrah dan Gambus yang juga merupakan kesenian tradisi dan sastra yang masih bertahan di Sumenep nampaknya juga terkena imbas perubahan.

Keempat, perubahan sebuah seni tradisi juga dipengaruhi oleh kesadaran keagamaan. Kuatnya sikap keagamaan di Sumenep menjadikan seni tradisi yang berkaitan dengan keagamaan lebih bertahan daripada seni yang murni untuk hiburan atau tidak berkaitan dengan keagamaan.

Wayang Topeng dan ludruk merupakan contoh tradisi yang muatan keagamaannya tidak sekuat Hadrah, Gambus dan tradisi “Samman”. Oleh karena itu peminat tradisi Wayang Topeng dan Ludruk tidak sebanyak peminat tradisi “Samman” atau gambus.

Tradisi “Samman” bertahan hidup karena masyarakat Sumenep umumnya sangat religius, warga Sumenep membutuhkan sarana keagamaan seperti tradisi “Samman”.

Tradisi “Samman” memang sarat dengan muatan agamis karena lagu yang dibawakan berhubungan dengan ajaran keagamaan, seperti kisah sakaratul maut, siksa kubur, kebangkitan kubur, dan siksa neraka.

Tradisi “Samman” telah berlangsung lebih dari dua generasi (sejak tahun 1810). Tradisi ini bertahan dengan sistem arisan. Anggota tradisi “Samman” ini berjumlah 30 orang. Setiap orang yang bergabung dalam tradisi “Samman”, harus mengikuti arisan.

Anggota yang mendapat giliran arisan, juga menjadi penanggap tradisi “Samman”. Selain kegiatan rutin setiap minggu, tradisi “Samman” juga ditanggap dalam acara lainnya, seperti sunatan, selamatan desa, dan beberapa acara adat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.