Sempat Minder, Suprapno Bakar Ratusan Puisi

Sempat Minder, Suprapno Bakar Ratusan Puisi
Peluncuran Buku

PortalMadura.Com, Kediri – Buku kumpulan puisi “Tentang Bulan yang Jatuh” karya Suprapno diluncurkan di kantor Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia, Pare, Kediri, Minggu (23/8/2015). Sebanyak 30-an peserta mengikuti acara itu sekaligus berdiskusi seputar proses kreatif pengarangnya.

Peserta terdiri dari kalangan pelajar, mahasiswa dan umum yang datang dari Malang, Kediri, Jombang dan Nganjuk. Secara resmi, buku “Tentang Bulan yang Jatuh” diluncurkan Sekjen FAM Indonesia, Aliya Nurlela.

Pada kesempatan tersebut, Suprapno (52) yang juga mengajak keluarganya di hari itu, berbagi cerita seputar proses kreatif menulisnya. Dia mengatakan, sebelum buku puisi itu lahir, ia telah menulis sekitar 400-an puisi.

“Tapi, saya sempat merasa minder, karena merasa puisi-puisi itu kurang bagus dan 370-an puisi pernah saya bakar,” kenang Suprapno yang juga mengatakan di saat itu ia belum memiliki motivasi dan rasa percaya diri untuk mempublikasikan karya-karyanya, dalam rilisnya, Senin (24/8/2015).

Menurut Suprapno, ia telah suka membaca sejak kecil. Waktu SMP dan SMA aktif menulis di mading sekolah, bahkan pernah mendirikan sanggar seni bersama teman-teman dan sanggar ini tercatat di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Surabaya.

Dia juga pernah menulis di media massa. Namun, setelah menikah dan bekerja, aktivitas menulisnya sempat vakum hampir 30 tahun. Dia mengaku termotivasi kembali menulis berkat ucapan istrinya yang mendorong untuk menulis (tidak hanya rajin membaca). Pada saat bersamaan ia membaca sebuah buku yang menginspirasinya untuk kembali menulis.

“Semangat saya muncul kembali ketika tahun 2013 mengenal FAM Indonesia. Bagi saya bergabung dengan sebuah komunitas kepenulisan sangat perlu,” katanya.

Sementara Sekjen FAM Indonesia, Aliya Nurlela yang telah menulis beberapa buku mengatakan, percaya diri adalah salah satu modal utama seorang penulis. Penulis tahu bahwa karyanya bagus atau tidak bagus kalau karyanya telah dipublikasikan.

“Berkat publikasi karya penulis akan dibaca orang dan mendapat penilaian. Baik-buruk penilaian diserahkan kepada pembaca, sebab pembaca adalah hakim,” kata Aliya Nurlela.

Menurut Aliya, semangat menulis yang dimiliki Suprapno harus ditiru generasi yang lebih muda. Kisah menulis Suprapno dianggapnya inspiratif sebab mau berkarya di usia yang tidak muda lagi.

Di sesi itu Aliya Nurlela juga berbagi kiat menulis, di antaranya jurus merampungkan tulisan. “Nulis saja dulu, jangan bersamaan mengedit. Mengarang dan mengedit adalah dua pekerjaan berbeda. Nulis dulu, setelah itu barulah melakukan editing,” ujarnya.(rel/choir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.