oleh

‘Sisi Gila’ Warga Madura Demam Irwan di Kontes D’Academy 2 Indosiar

PortalMadura.Com – Cukup menarik sebuah tulisan yang berjudul ‘Sisi Gila Demam Irwan’ diruang netizen kompasiana.com oleh Zeinul Ubbadi, Selasa (21/4/2015).

Dalam tulisan itu menceritakan bahwa ia pernah bertemu dengan temannya yang lumayan ‘berpendidikan’. Ia pun membahas Demam Irwan yang sekarang sedang melanda Madura dan ‘daerah-daerah jajahannya’, seperti Probolinggo, Jember, dan Bondowoso.

Mereka sepakat, bahwa tayangan D’Academy 2 Indosiar kering substansi. “Yang disuguhkan pada pemirsa bukanlah hiburan berupa pentas musik atau kompetisi adu suara, namun hanya dagelan yang dangkal layaknya komedi,” tulis Zeinul.

“Coba kita liat,” kata Zeinul menirukan salah satu temannya yang lumayan ‘berpendidikan’ tersebut.

“Empat penyanyi tampil dalam acara yang durasinya mencapai 7 jam, dari pukul 5 sore hingga pukul 12 malam. Apa ini tidak gila. Padahal masing-masing hanya tampil 10 menit. Selebihnya, dagelan berupa komentar yang sebenarnya tidak benar-benar untuk menilai kualitas suara si penyanyi, tapi lebih cenderung untuk mempermainkan emosi penonton saja, agar tetap stay di depan televisinya, Gila,” begitu komentar yang pernah ia dengar dari temannya.

Tetapi, betapa pun acara ini dicerca, mereka diam-diam tetap menonton juga, atau paling tidak ikut bercerita tetang penampilan terakhir Irwan. Mereka mengatakan “ini gila” tapi di saat yang sama mereka terlihat tidak mampu keluar dari kegilaan yang disadarinya itu.

Zeinul yang memposting tulisannya pada pukul 08:50 Wib itu akhirnya berkesimpulan, bahwa sebenarnya setiap orang memiliki ‘sisi gila’. Sekali pun kadarnya tidak sama. Atau bagi orang yang lumayan berpendidikan, mereka bisa lebih mengendalikan ‘sisi gila’-nya itu.

“Akhirnya saya juga harus berkesimpulan, bahwa saya musti angkat topi bagi Produser dan Tim Kreatif D’Academia. Mengapa? Mereka berhasil menemukan sisi gila setiap orang itu dan mengeksploitasinya habis-habisan. Di mana-mana nama Irwan menggema tak terbendung. Bahkan mungkin lebih populer dari calon-calon bupati di Madura,” ujarnya.

Menurut Zeinul, kegilaan terhadap Irwan juga dapat dijumpai di warung, terminal, sawah. Bahkan, anak-anak sekolah di kelasnya masing-masing membicarakan Irwan saat guru mereka tak memperhatikan.

Pelajar pun rela begadang, terkantuk-kantuk hanya untuk menunggu komentar Saiful Jamil tentang lagu yang dibawakan Irwan.

Mereka yang biasanya tidur jam 9 malam, kini memaksakan diri melek hingga jam 12 malam. Tidak jarang diantara mereka akhir-akhir ini harus terlambat datang ke sekolah karena bangun kesiangan.

Ibu bapaknya tak sempat membangunkannya, karena mereka pun ikut begadang manggut-manggut di depan televisi.

Satu hal yang mungkin perlu menjadi catatan bagi televisi, sambung Zeinul, bahwa tidak semua hal yang disukai pemirsa bisa begitu saja disuguhkan dan dieksploitasi untuk mendapatkan rating dan iklan.

“Tanggung jawab moral untuk mencerdaskan bangsa tetap harus menjadi pertimbangan utama,” tegasnya.

Amatan Zeinul, ada satu hal baik dari tayangan D’Academy 2 Indosiar, yaitu beralihnya tema pembicaraan ibu-ibu di pasar dan di warung-warung, dari semula ngerasani tetangga, kini jadi membicarakan Irwan, Saiful Jamil, Inul, Ramzi, Soimah dan Ivan Gunawan. Mereka bercerita tentang sesuatu yang mereka sudah sama-sama tahu.

“Ya lumayan lah,” tutupnya.(Hartono)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.