oleh

Studi : Inhaler untuk Asma Berdampak pada Pemanasan Global

PortalMadura.Com – Bagi penderita asma, kesehariannya tentu sering kali dibuat khawatir. Karena, kemunculan penyakit ini tidak bisa disangka-sangka atau secara tiba-tiba. Bahkan, bisa saja terjadi lebih dari sekali.

Biasanya, penyakit asma ditandai dengan kesulitan bernapas atau sesak napas, nyeri dada, batuk, maupun mengi. Saat itu terjadi, maka aktivitas yang dilakukan menjadi terganggu dan terabaikan.

Untuk mencegahnya, penderita asma banyak memilih untuk mengonsumsi obat-obat tertentu, salah satunya yaitu inhaler. Pasalnya, keberadaan inhaler di dekatnya akan sangat membantu apabila suatu waktu asma kumat mendadak.

Namun sama seperti obat-obatan lainnya, inhaler mempunyai efek negatif. Dampaknya itu terutama berakibat pada pemanasan global. Benarkah itu?.

Menurut peneliti Inggris, banyak orang dengan penyakit asma dapat mengurangi emisi karbon dan membantu menyelamatkan lingkungan dengan beralih ke obat yang lebih ramah lingkungan.

Penggantian bahan yang berdampak terhadap lingkungan ternyata memiliki dampak yang sangat besar, bahkan sama besarnya seperti ketika seseorang berubah menjadi vegetarian.

Baca Juga : Konsumsi 5 Makanan Ini Untuk Cegah Kumatnya Penyakit Asma

Tahukah Anda, hal itu disebabkan oleh beberapa inhaler yang melepaskan gas rumah kaca dan berdampak dengan pemanasan global.

Tetapi, tim Universitas Cambridge mengatakan kepada pasien BMJ Open harus memeriksakan diri ke dokter sebelum mengganti pilihan pengobatan.

“Beberapa pasien mungkin tidak bisa mengganti obat mereka dan hal itu tidak harus membuat mereka merasa bersalah,” ujar mereka seperti dilansir Liputan6.com, yang dikutip dari BBC.

Lebih dari lima juta orang menderita asma di Inggris. Karena hal itu, penelitian ini berdasar pada dampak lingkungan dari berbagai obat inhaler yang diresepkan untuk pasien di NHS di Inggris.

Pada 2017, sekitar 50 juta inhaler menjadi obat yang diberikan kepada pasien. Tujuh dari setiap 10 dari inhaler dengan dosis terukur, mengandung gas rumah kaca. Gas hydrofluoroalkane digunakan sebagai propelan untuk menyemprotkan obat keluar dari inhaler.

Perbedaan Inhaler Alternatif

Menurut para ahli, inhaler dosis terukur menghasilkan hampir 4% dari emisi gas rumah kaca NHS.

Para peneliti memperkirakan mengganti satu dari setiap 10 inhaler ini dengan jenis yang lebih ramah lingkungan (inhaler serbuk kering). Pasalnya ini akan mengurangi emisi setara karbon dioksida sebesar 58 kilotonnes.

Hal itu hampir setara dengan jejak karbon dari 180.000 perjalanan mobil dari London ke Edinburgh. Dan pada tingkat individu, setiap inhaler dosis terukur diganti dengan inhaler bubuk kering yang dapat menghemat hingga 150 kg sampai 400 kg (63 batu) karbon dioksida per tahun.

Rewriter : Putri Kuzaifah
Sumber : liputan6.com
Tirto.ID
Loading...

Komentar