oleh

Sumenep Butuh Wirausaha Mandiri Berbasis Pesantren

PortalMadura.Com, Sumenep – Sedikitnya 334 lembaga pondok pesantren (ponpes) yang terdata di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Keberadaan ponpes yang sangat dominan itu menjadi perhatian serius Achmad Fauzi. Tokoh Sumenep yang saat ini maju pada Pilkada Sumenep 2020 sebagai calon bupati.

Achmad Fauzi pada wartawan menyampaikan, santri harus mendapat pelatihan dan materi secara langsung untuk menumbuhkan wirausaha muda berkompeten.

“Jadi, perlu dan harus dilakukan untuk menciptakan wirausaha mandiri yang berbasis pesantren,” tegas Achmad Fauzi, Jumat (13/11/2020).

Pria yang selama lima tahun mendampingi Bupati Sumenep, A Busyro Karim mengemukakan, santri masa kini dituntut tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga mampu berwirausaha.

“Santri tak melulu belajar soal agama. Tetapi juga perlu dibekali berbagai ilmu keahlian lain seperti wirausaha, teknologi hingga agrobisnis untuk menunjang masa depan santri agar mandiri,” ujarnya.

Suami Nia Kurnia ini menyampaikan, dirinya bersama Nyai Dewi Khalifah memasukkan program tersebut sebagai program unggulan. “Sehingga ketika sudah selesai mondok, santri sudah mempunyai keterampilan sesuai dengan keahliannya,” katanya.

Menurut dia, program yang mengedepankan pesantren wajib dilakukan di Sumenep, baik daratan maupun kepulauan mengingat Sumenep ini adalah kota santri. “Nyai Eva (sapaan Dewi Khalifah) punya impian yang sama, mencetak pengusaha atau santripreneur,” ucapnya.

Komitmen itu, kata dia, tidak lain sebagai cara dirinya berterima kasih kepada santri dan pengasuh pondok pesantren, Karena dirinya punya impian mencetak pengusaha santri atau santripreneur, sehingga muncul santri yang technopreneur, agropreneur hingga sociopreneur.

“Santri masa kini dituntut untuk pandai berusaha mandiri dan percaya dengan kemampuannya. Dengan sifat mandiri yang ada dalam diri santri, maka dengan sendirinya mereka akan membuat terobosan-terobosan baru berdasarkan spirit, mindset, dan keterampilan dalam diri mereka,” pungkasnya.(*)

Penulis : Raudatul Fitrah
Editor : Dwi Oktaviana KK

Komentar