oleh

Tak Lekang Zaman, Asta Agung Paregi Yang Jadi Jujukan Pasutri Sulit Keturunan

PortalMadura.Com, Sumenep – Asta Agung Paregi atau yang dikenal dengan Bujuk Tamoni, Kecamatan Batuan, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, menjadi jujukan pasangan suami istri (pasutri) yang sulit mendapatkan keturunan.

Keberadaan Bujuk Tamoni yang terletak di pinggir Jalan Raya Lenteng-Sumenep itu seakan tak lekang oleh zaman (tak surut waktu). Hampir setiap hari ramai pengunjung. Umumnya, pasutri yang sulit mendapat momongan (keturunan).

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Jelang Liga 3 Jatim 2021, Madura FC Masih Butuh Empat Laga Uji Coba

Mau apa ke Bujuk Tamoni?. Layaknya ziarah ke makam wali Allah. Mereka berdoa dan juga didoakan oleh juru kunci, agar atas izin Allah SWT, siapapun yang datang segera diberi keturunan. Memang diluar nalar normal.

Faktanya, tidak sedikit pasutri yang datang kembali karena sudah mendapat keturunan atas kekuasan Sang Pencipta. Mereka membawa ari-ari bayi (plasenta) untuk digantung di pohon kesambi atau pohon asam dekat makam tersebut.

Melansir PortalMaduraTV, ari-ari bayi menjadi bukti bahwa mereka telah dikarunia keturunan pasca melakukan ziarah atau berdoa di makam tersebut. Tumpukan ari-ari tampak menggunung di sebelah barat bangunan Bujuk Tamoni (tamoni/plasenta) adalah bukti kongkrit.

Tidak ada syarat lain yang harus dilakukan oleh pasutri yang sulit mendapatkan keturunan. Namun, saat Allah memberikan keturunan, disarankan untuk datang kembali sebagai wujud syukur dengan cara berdoa dan membawa ari-ari sang bayi.

Masyhur ke Luar Madura

Pasutri yang datang ke Bujuk Tamoni yang hanya berjarak 1,5 km ke arah barat dari pusat kota Sumenep tersebut tidak hanya warga Sumenep dan sekitarnya. Bujuk Tamoni masyhur ke luar Madura, seperti Banyuwangi, Jember dan kota-kota lain, khususnya tapal kuda Jatim.

Dihimpun dari berbagai sumber disebutkan, tradisi membawa ari-ari dan digantung pada pohon kesambi atau pohon asam dekat Bujuk Tamoni, konon berawal dari kedatangan pasutri bernama Abd. Gaffar dan Sofiyatul.

Mereka cukup lama tidak dikarunia keturunan sehingga melakukan ziarah ke Bujuk Tamoni dan bernadzar akan menggantung ari-ari bayi jika dikarunia anak. Beberapa bulan kemudian, Allah menjawab doa pasutri tersebut. Dan memenuhi nadzarnya untuk menggantung rai-ari bayi pada pohon kesambi dan pohon asam dekat Bujuk Tamoni.

Peristiwa tersebut menjadi asal mula tradisi menggantung ari-ari bayi pada pohon kesambi atau pohon asam besar dekat Bujuk Tamoni. Warga setempat juga menyebutnya, Asta Agung Paregi, karena merupakan makam sesepuh desa setempat.(*)

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar