oleh

Tanaman Alternatif Belum Diminati Masyarakat Pamekasan

PortalMadura.Com, Pamekasan – Masyarakat Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur masih acuh tak acuh terhadap tanaman alternatif yang didengung-dengungkan pemerintah kabupaten (pemkab) setempat, seperti tanaman Tebu dan Serai.

Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Pamekasan, Ajib Abdullah mengatakan, untuk merubah persepsi masyarakat dalam bercocok tanam membutuhkan waktu lama. Apalagi, merubah tanaman tembakau menjadi lahan tebu. Sebab, tembakau bagi masyarakat dianggap tanaman yang memiliki keuntung besar meski setiap tahunnya selalu merugi.

“Jadi, tanaman alternatif itu membutuhkan jangka panjang untuk merubah kebiasaan nanam tembakau. Tanaman tembakau itu bukan cuman kebiasaan, masyarakat Madura dan Pamekasan khususnya sudah menganggap itu budaya,” katanya, Sabtu (21/3/2015).

Pihaknya akan tetap menawarkan tanaman alternatif kepada petani seiring merosotnya tata niaga tembakau setiap tahunnya. Yakni tanaman tebu dengan mencari investor guna membangun pabrik tebu di Madura dan Pamekasan pada khususnya.

“Tanaman Serai juga terus kami kembangkan, ini sebagai upaya memberikan pilihan tanaman alternatif kepada petani yang menganggap tembakau itu sebagai budaya,” katanya.

Dengan adanya tanaman alternatif ini diharapkan petani tidak lagi mengeluh rugi setiap kali panen. Saat ini, khusus tanaman tebu sebagian besar masih menggunakan lahan tidak produktif atau lahan ‘tidur’.

“Juga ada lahan yang biasa ditanami jagung atau singkong beralih ditanami tebu. Untuk merubah persepsi masyarakat beralih ke tanaman tebu itu perlu bukti,” imbuhnya.

Pihaknya akan mengevaluasi tanaman tebu di musim ini, guna memberikan kepercayaan terhadap petani. Hasil evaluasi itu nantinya akan diberikan kepada petani, sehingga masyarakat bisa memilih antara tanaman yang disukainya.

“Misalnya untung, untungnya dimana atau rugi, ruginya dimana. Sementara pemerintah daerah terus mendorong penunjang-penunjang. Seperti traktor dan lain-lain. Termasuk infrastrukturnya, tentu untuk menghemat biaya produksinya petani,” pungkasnya. (Marzukiy/choir)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.