oleh

Tanpa Disadari, Ini Bahaya Kebiasaan Berhutang Menurut Pandangan Islam

PortalMadura.Com – Saat seseorang membutuhkan pinjaman uang biasanya dia akan mengemis memohon pertolongan pada saudara atau rekannya. Berjanji untuk melunasi tepat waktu sesuai kesepakatan. Akan tetapi, saat janji itu terlewati kadang seseorang itu malah menjauh atau tidak memberikan kejelasan akan pembayaran hutangnya.

Sangat sakit hati bukan jika hal itu terjadi pada Anda?. Iya kalau memang memiliki banyak uang mungkin tidak akan kepikiran. Tapi jika sama-sama masih hasil keringat yang diperjuangkan tentu akan membuat Anda merasa marah atau jengkel.

Hidup di zaman sekarang, bukan hanya mencari pinjaman uang saja yang sulit tapi mencari orang yang bisa bertanggung jawab akan amanat dalam melunasi utangpun juga sangat sulit. Sebenarnya, ada banyak bahaya utang yang perlu Anda ketahui. Apa saja itu?. Berikut penjelasannya:

1. Akan Menyusahkan Dirinya di Akhirat Kelak
Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang mati dalam keadaan masih memiliki utang satu dinar atau satu dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham” (HR. Ibnu Majah no. 2414, shahih).

2. Jiwanya Masih Menggantung Hingga Utangnya Lunas
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan utangnya hingga dia melunasinya” (HR. Tirmidzi no. 1078 dan Ibnu Majah no. 2413, shahih).

Asy Syaukani berkata, “Hadits ini adalah dorongan agar ahli waris segera melunasi utang si mayit. Hadits ini sebagai berita bagi mereka bahwa status orang yang berhutang masih menggantung disebabkan oleh hutangnya sampai hutang tersebut lunas. Ancaman dalam hadits ini ditujukan bagi orang yang memiliki harta untuk melunasi hutangnya lantas ia tidak lunasi. Sedangkan orang yang tidak memiliki harta dan sudah bertekad ingin melunasi hutangnya, maka ia akan mendapat pertolongan Allah untuk memutihkan hutangnya tadi sebagaimana hal ini diterangkan dalam beberapa hadits” (Nailul Author, 6/114).

3. Diberi Status sebagai Pencuri Jika Berniat Tidak Ingin Mengembalikan Utang. Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri” (HR. Ibnu Majah no. 2410, hasan shahih).

4. Berhutang Sering Mengantarkan pada Banyak Dusta
Dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdo’a di dalam shalat: Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak hutang).” Lalu ada yang berkata kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kenapa engkau sering meminta perlindungan dari hutang?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Jika orang yang berhutang berkata, dia akan sering berdusta. Jika dia berjanji, dia akan mengingkari” (HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 589).

Jika Mampu Mengembalikan Utang, Segeralah Tunaikan
Jika sudah mengetahui bahaya di atas, maka tentu saja kita harus bersikap amanat. Jika mampu lunasi hutang, segeralah lunasi. Kita tidak tahu kapan nafas kita berakhir. Barangkali ketika kita mati, malah hutang-hutang kita yang sekian banyak belum juga terlunasi. Sungguh nantinya keadaan seperti ini akan menyusahkan diri kita sendiri. Ingatlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya yang paling di antara kalian adalah yang paling baik dalam membayar hutang” (HR. Bukhari no. 2393).

Sudah berniat melunasi hutang dan sekeras tenaga berusaha untuk melunasinya, itu pun sudah termasuk sikap yang baik. Allah akan menolong orang semacam ini dalam urusannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah akan bersama (memberi pertolongan pada) orang yang berhutang (yang ingin melunasi hutangnya) sampai dia melunasi hutang tersebut selama hutang tersebut bukanlah sesuatu yang dilarang oleh Allah” (HR. Ibnu Majah no. 2400, shahih).

Salah Memposisikan Dalil
Sikap orang yang berhutang seharusnya segera melunasi utangnya. Jangan malah memiliki sikap sebaliknya, yaitu beranggapan bahwa pemberi utang yang baik pasti akan memberi tenggang waktu. Barangkali ini dalil yang sering digunakan adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya), “Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (QS. Al Baqarah: 280).

Dalilnya memang benar, namun salah meletakkan. Dalil ini ditujukan bagi pihak pemberi hutang agar memiliki sikap yang baik dengan memberi tenggang waktu jika orang yang berutang berada dalam kesulitan atau bahkan lebih baik memutihkan utang tersebut. Sehingga dalil di atas bukanlah untuknya. Seharusnya yang jadi dalil baginya adalah dalil-dalil yang menyebutkan bahaya berhutang sebagaimana disebutkan di atas. Jadi, janganlah salah memposisikan dalil.

Pikir Matang-Matang Sebelum Berhutang
Jika Anda mengingat kembali bahaya berhutang di awal bahasan, maka sudah seharusnya setiap muslim memikirkan matang-matang sebelum berhutang. Usaha bisa maju tidak selamanya dengan modal uang. Sudah seringkali di Majalah Pengusaha Muslim dijelaskan mengenai berbagai usaha dengan modal minimalis atau bahkan ada yang tanpa modal sama sekali. Ini tentu bisa sebagai pilihan alternatif.

Jadikanlah prinsip, berutang di saat butuh dan merasa mampu mengembalikan. Sehingga dengan prinsip seperti ini tidak membuat Anda sulit di dunia dan di akhirat kelak.

Ingatlah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri selalu meminta pada Allah perlindungan dari banyak utang dengan doanya: “Allahumma inni a’udzu bika minal ma’tsami wal maghrom (Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari berbuat dosa dan banyak utang)” (HR. Bukhari no. 2397 dan Muslim no. 589).

Ibnul Qoyyim berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta perlindungan kepada Allah dari berbuat dosa dan banyak hutang karena banyak dosa akan mendatangkan kerugian di akhirat, sedangkan banyak utang akan mendatangkan kerugian di dunia” (Al Fawaid, 57).

Jadi, berhati-hatilah saat Anda hendak ingin berhutang, Jika dirasa sudah mencukupi atau mampu untuk membayar maka segeralah dilunasi. Semoga pertolongan Allah segera datang jika Anda benar-benar dan berusaha keras melunasi hutang-hutang Anda. Wallahu A’lam. (muslim.or.id/Putri)


Tirto.ID
Loading...

Komentar