oleh

Tanpa Rumah, Mbah Ini 21 Tahun Hidup di Pinggir Jalan Sumenep, Waliyullah?

PortalMadura.Com, Sumenep – Bila Anda melintas di Jalan Raya Ambunten, Dusun Mambang, Desa Bunbarat, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, akan melihat seorang kakek [mbah] yang hidup di pinggir jalan.

Mbah berambut gimbal sangat panjang itu, menempati sebuah warung kecil [bukan gubuk] yang penuh dengan botol bekas minuman, bungkus rokok, plastik dan benda-benda bekas lainnya. Sepintas berpenampilan seperti orang kurang normal atau gila [maaf].

Gempur Rokok Ilegal Pemkab Sumenep

BACA : Kapal Karam dan Dua Kerangka Jenazah Berhasil Dievakuasi Tim Sar Polda Jatim

Bahkan, saking penuhnya benda-benda bekas itu, tak ada tempat tidur atau sekedar untuk berselonjor. Mbah antik itu hanya bisa duduk di pojok warung yang berukuran sangat kecil. Namanya warung pinggir jalan, tentu tak ada tempat lain untuk kebutuhan hidupnya.

Lokasi warung yang di tempati mbah aneh itu, cukup dekat dengan permukiman warga. Namun, ia tidak pernah mendatangi rumah-rumah warga. Ia tidak pernah melakukan hal yang mengancam keselamatan lingkungan dan tidak pernah meminta-minta.

Setiap harinya, duduk diam saja di warung tersebut. Makanan dan minuman selalu ada warga atau pengendara yang memberi.

Mbah berkumis dan berjenggot panjang itu sebenarnya siapa?.

Saat portalmadura.com berkunjung, mbah itu berusaha diajak komunikasi dengan memanggil salam. Mbah memberikan isyarat dengan menganggukkan kepala dan menjawabnya dengan suara yang nyaris tidak kedengaran.

Berjabat tangan pun mau. Dan tak tercium bau apapun meski warung yang di tempati mbah itu terlihat kumuh. Rambut gimbal panjang mbah, juga tidak menyebarkan bau tidak enak.

Justru sebaliknya, raut muka mbah itu bersinar, terlihat tenang, ramah dan sesekali tersenyum menatap wartawan portalmadura.com. Sayangnya, ia susah untuk diajak komunikasi.

Mbah itu hanya menjawab dengan bahasa isyarat tangan yang selalu ditempelkan ke dadanya. Saat portalmadura.com minta didoakan kepada Allah, mbah itu sangat cepat mengangkat kedua tangannya.

Ia terlihat komat-kamit [membaca doa] dengan sikap kepala merendah. Namun, doa-doa yang dibaca sulit dipahami. Meski begitu, suasana tenang tercipta lantaran sikap sopan mbah tersebut.

Salah seorang warga Sumenep, Sugiyanto menyebutkan, mbah tersebut sudah 21 tahun hidup seperti orang gila. Ia sebenarnya tidak gila.

Siapa beliau? “Mbah wali Sayyid Abdullah bin Sayyid Abd Jalil Al Athos,” terang Sugiyanto.

Ia berasal dari Rembang Jawa Tengah, yakni keturunan Sayyid Abdullah Rembang, cicit Pangeran Joko Tingkir [Sayyid Abdurrahman Raja Pajang].

“Mbah itu dipanggil Mbah Dul [Abdullah],” katanya.

Menurut Sugik, sapaan akrab Sugiyanto, mbah Dul sengaja berpenampilan seperti orang gila atau gelandangan atas perintah gurunya. “Perintah gurunya, Nabi Khidir, AS. Wallahuaklam,” ujarnya.

“Insyaallah beliau [Mbah Dul] tingkatan jadzab,” katanya.

Jadzab adalah jalan khusus menuju ma’rifatullah yang tidak sembarang orang bisa mengamalkan, hanya orang-orang khusus yang memang terpilih yang dapat menempuhnya.(*)

Mbah Sayyid Abdullah 21 Hidup di Pinggir Jalan Sumenep

@portalmadura.tv##waliyullah ##waliyullahmadura ##ftypシ_ ##portalmadura.tv ##typ

♬ Sholawat Nabi

@portalmadura.tv##waliyullah ##sumenep♬ Rembulan Malam by Arief – Suprie Belenyon

Dapatkan Berita terbaru dari kami via Telegram

Komentar