oleh

Terjemahan ‘Jenggot’ Jurus Deradikalisasi Pesantren Tradisional

Memahami gerakan Islam radikal memang tidak terlepas dari konflik di Timur Tengah. Gerakan mereka yang cukup massif bahkan hampir tersebar di berbagai belahan dunia telah menjadi ancaman serius di beberapa negara. Namun nyatanya, gerakan ini masih bisa dibendung di Indonesia.

Padahal Indonesia adalah negara muslim terbanyak di dunia. Salah satu peristiwa yang cukup aneh menurut saya. Bahkan gerakan ini mengalami perlawanan hampir dari seluruh umat Islam di Indonesia. Tentu ada beberapa faktor dibalik gerakan deradikalisasi di Indonesia. Bahkan sangat mungkin salah satunya adalah tradisi budaya di pesantren.

Saya ingin mencoba mengurai salah satu tradisi budaya Islam di pesantren. Sebuah tradisi yang saya anggap sebagai kearifan lokal yang masih bertahan hingga sekarang, bahkan mulai dikenal oleh masyarakat luar.

Ya tradisi terjemahan jenggot namanya. Bukan tidak mungkin budaya terjemahan jenggot inilah yang membedakan gerakan Islam di Timur Tengah dengan Indonesia. Atau bisa jadi budaya ini yang menjadikan Islam di Indonesia terlihat lebih ramah dan toleran daripada di Timur Tengah.

Terjemahan Jenggot

Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah, salah seorang teman usil bertanya tentang bagaimana proses belajar mengajar di pesantren tradisonal. Saya jawab “pesantren tradisional itu identik dengan memaknai kitab kuning”.

Kedudukan pembelajaran kitab kuning di pesantren tradisional memang menjadi sentral dari semua kegiatan di Pesantren. Cara pembelajaran ini sudah turun-temurun selama berabad-abad sejak dimulainya pada abad 13.

Dimana dalam perakteknya seorang guru atau kiai akan membacakan buku-buku keislaman berbahasa Arab lengkap dengan terjemahan setiap kalimatnya, sedangkan para santri khusyuk mendengarkan dan menulis terjemahan kiai di kitabnya masing-masing.

Untuk mengawali penerjemahan kitab kuning, para kiai biasanya bertawassul terlebih dahulu dengan menggunakan bacaan al-Fatihah. Tawassul tersebut pertama kali diperuntukkan kepada Nabi Muhammad Saw, kemudian kepada guru-guru-nya dan pengarang kitab.

Setelah itu kiai maupun ustaz membaca kalimat Qâla al-mushannif rahimah al-Lâh ta‘âlâ wa nafa‘anâ bih wa bi ‘ulûmihfî al-dârayn, âmîn. (Pengarang kitab berkata -semoga Allah merahmatinya dan mudah-mudahan kitab ini memberi manfaat kepada kita, amin).

Barulah kemudian penerjemah membaca teks dan terjemahan kitab yang dikaji. Dan diakhir pengajian kiai dan ustadz menutupnya dengan membaca wa al-Lâh a‘lam bi al-shawâb (Allah yang Maha Mengetahui kebenarannya).

Setiap terjemahan itu ditulis dengan arab pegon dengan kemiringan 60 derajat dibawah redaksi asli dari kitab-kitab kuning yang dikaji. Cara penulisan ini memang menyerupai jenggot. Oleh karena itu pembelajaran ini diistilahkan dengan terjemahan Jenggot (disingkat TJ).

Istilah ini dipakai pertama kali oleh Martin van Bruinessen seorang antropolog berkebangsaan Belanda. Dia memakai istilah bearded translation yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia.

Istilah TJ sendiri sebenarnya jarang diketahui dikalangan para santri. Kami para santri biasanya memakai istilah yang cukup beragam. Misalnya santri Jawa Barat yang menggunakan istilah ngalogat, santri Jatim dengan makno utawi iki atau santri Madura dengan aderres ketab.

TJ tidak saja menjadi ruh dalam dunia pesantren tetapi juga memberikan sumbangsih besar pada kebudayan Indonesia. Ya, TJ bisa dianggap sebagai salah satu kearifan lokal yang khas pesantren. Tradisi TJ sudah mengakar selama berabad-abad lamanya.

Sebagai kearifan lokal ia memiliki nilai-nilai filosofis didalamnya, dimana nilai-nilai ini turut hadir dalam menciptakan pejuang-pejuang kemerdekaan bangsa ini.

Tidak sampai disitu, TJ pada era sekarang juga telah banyak melahirkan tokoh-tokoh bangsa yang sepak terjangnya tidak perlu diragukan lagi. Sebut saja misalnya Gusdur, Gusmus, dan KH. Sahal Mahfudz. Mereka semua adalah hasil dari pendidikan pesantren yang memakai metode TJ didalam pembelajarannya.

Nilai Filosofi

TJ sering kali diasumsikan hanya sebatas penerjemahan kitab-kitab klasik dari abad pertengahan Islam. Padahal jika kita mau sedikit menelisik, TJ sejatinya adalah proses transformasi pemahaman keislamanan abad pertengahan yang diadaptasikan dengan konteks kebudayaan di Indonesia.

Para kiai, gus, dan ustaz tidak hanya menerjemahkan secara pasif setiap kalimat yang ada di kitab kuning, tetapi juga bagaimana membahasakan makna itu dengan kondisi tanah air kita.

Menurut saya proses penerjemahan jenggotan sendiri adalah sebuah reproduksi makna dalam kitab kuning. Para kiai pesantren sejak dahulu mencoba untuk menyegarkan kembali istilah-istilah Islam dari abad pertengahan.

Mereka menginterpretasikan bahasa Arab klasik dengan konteks keindonesiaan yang kekinian. Sebagaimana yang kita tahu bahasa tidak ujug-ujug muncul dengan sendirinya. Ia hadir dengan konteks sosial budaya dimana bahasa itu muncul. Maka perubahan, penyesuaian, penyempitan dan perluasan makna karena faktor perbedaan sosial budaya adalah hal wajar dalam dinamika bahasa.

Proses translation ini sebenarnya sangat krusial, melihat bagaimana keluaran pesantren harus bisa mendakwahkan Islam dengan cara yang elegan. Pesan yang terkandung dalam kitab-kitab Arab dibahasakan kembali oleh kiai dengan bentuk yang lebih membumi.

Para kiai, gus maupun ustadz yang menerjemahkan kitab kepada para santri selain mumpuni dari ilmu nahwu (sintaksis), sharf (morfologi), balaghah (retorik) mereka juga ahli dalam ilmu kehidupan dan kemasyarakatan.

Saya contohkan begini, jika umumnya proses terjemahan terjadi secara pasif dan reseptif yakni hanya sebatas pemindahan teks bahasa sumber (BSu) kedalam teks bahasa sasaran (BSa). Maka didalam TJ para kiai mencoba untuk mereproduksikan kembali kata tersebut dengan padanan bahasa daerah yang lebih halus.

Misalnya pesantren Jawa umumnya memakai bahasa Kromo Inggil, pesantren Jabar yang memakai bahasa Undak Usuk Basa, dan pesantren Madura yang memakai bahasa Engghi Bunten.

Pemilihan bahasa halus dalam memaknai kitab di pesantren sesungguhnya mengajarkan nilai-nilai kesantunan dalam kehidupan, kesantunan dalam bermasyarakat, dan kesantutan dalam beragama. Dan kita tahu nilai kesantunan, adab dan akhlak sangat dijunjung tinggi dalam dunia pesantren.

Disisi lain pemilihan bahasa halus dalam TJ di pesantren tradisional memberikan manfaat yang positif pada pelestarian budaya unggah-ungguhing bahasa (tingkatan-tingkatan berbahasa). Karena sebagaimana yang saya sebutkan, para santri dituntut untuk mampu memahami dan menggunakan bahasa halus daerah.

Bisa dibayangkan, jika pengajian kitab kuning dengan metode TJ dipakai 3 kali dalam sehari dan setiap pengajian berlangsung selama 1 jam, maka para santri telah belajar bahasa halus daerah selama 3 jam setiap hari.Dengan begitu pesantren melalui metode TJ sesungguhnya turut menjaga warisan warisan leluhur.

Jurus Deradikalisasi

Reproduksi makna dalam TJ yang dilakukan oleh para kiai pesantren adalah sebagian dari bentuk inkulturasi antara agama Islam dan budaya Indonesia.Selain itu, TJ sejatinya adalah salah satu metode dakwah yang dipakai oleh para ulama dari dahulu. Dakwah yang selalu mengedepankan sikap moderat (washatiyah) dan menjunjung tinggi sikaprahmatan lil alamin.

Jika demikian, maka TJ telah banyak memberi sumbangsih besar pada bentuk keislamanan yang ramah di Indonesia. Karena sebagaimana yang saya sebutkan diatas TJ adalah ruh dari sistem pembelajaran di pesantren. Bahkankehadiran TJ tidak bisa dilepaskan dari pesantren.

TJ tidak saja menciptakan kultur budaya Islam khas Indonesia, lebih dari itu TJ juga bisa menjadi solusi yang efektif untuk menolak berbagai ideologi radikal. Arus radikalisme yang mulai pesat sebenarnya berangkat dari cara pemahaman kitab suci dan hadist yang kaku dan sempit. Mereka memahami ayat al-Qur’an dan hadist hanya sebatas tekstual tanpa melibatkan kontekstual dimana pesan agama itu didakwahkan.

Paham radikalisme sendiri memang berangkat dari pemahaman dalil agama secara sempit. Bahkan gerakan radikalisme sendiri terkadang berasal dari pemahaman yang salah mengenai teks keagamaan.

Mereka para radikalis umumnya hanya berpegangan pada buku terjemahan tanpa bisa merujuk pada kitab-kitab yang berbahasa Arab. Dan meskipun mereka bisa berbahasa Arab akan tetapi mereka cenderung salah dalam memahami dan menerjemahkannya. Hal ini karena teks-teks keagamaan dalam Islam biasanya ditulis tanpa menggunakan harakat, sehingga susunan bahasa dan struktur tulisannya menjadi sulit untuk dimengerti.

Hal ini berbeda sekali dengan proses pembelajaran melalui TJ di pesantren. Dimana para kiai maupun ustaz memerlukan bermacam-macam perangkat untuk memahami teks keagamaan. Perangkat-perangkat seperti nahwu, shorrof, balaghah, mantiq adalah prasyarat yang harus dimiliki kiai dan ustaz agar bisa menerjemahkan kitab kuning dengan benar.

Misalnya, TJ yang dilakukan pesantren tradisional menuntut adanya pembuktian bahwa terjemahan yang dilakukannya benar. Cara pembuktian ini adakalanya dengan pemberian simbol-simbol yangmengenai struktur bahasa. Seperti simbol utawi untuk kalimat subyek, dan eng untuk kalimat objek. Tidak hanya itu para kiai juga membutuhkan penguasaan bahasa daerah yang halus, sehingga pesan-pesan yang terkandung didalam kitab turast bisa tersampaikan dengan baik.

Apa yang dilakukan pesantren dengan metode TJ adalah kearifan lokal yang sangat perlu diperhatikan pemerintah. selama beberapa dekade TJ telah mengawal agama Islam dan keindonesiaan. TJ tidak saja menjadi suatu kearifan lokal yang dimiliki bangsa Indonesia. Tetapi peran TJ juga sangat terasa didalam mengawal keutuhan bangsa dari serangan radikalisme.(**)

*Penulis adalah alumni pesantren salaf yang saat ini melanjutkan studinya di Universitas Darussalam Gontor.


Tirto.ID
Loading...

Komentar