Teroris Mengancam Madura?

  • Bagikan
Teroris Mengancam Madura
Diskusi publik (Ist)

PortalMadura.Com, Sumenep –Teroris Mengancam Madura (?)” merupakan tema pada diskusi publik yang diselenggarakan Pusat Kajian Pengembangan Madura (Pangara), Selasa (16/11/2021).

Direktur Pangara, Syamsul Arifin menyampaikan harapan besarnya untuk dapat menghidupkan kembali nuansa akademik di kalangan mahasiswa melalui diskusi dengan tema-tema terbaru.

“Diskusi publik dengan tema teroris ini sengaja diangkat dengan harapan dapat memunculkan kembali daya kritis mahasiswa terhadap fenomena yang terjadi di sekitar kehidupan mereka,” katanya.

Diskusi publik yang digelar secara tatap muka di salah satu kafe di Batuan itu, diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumenep dengan menghadirkan pembicara dari akademisi dan tokoh agama, yakni Dr. Mohammad Hidayaturrahman S.Sos., M.I.Kom (Unija) dan Kiai Ali Tsabit (tokoh agama), sebagai moderator Wildan Rasaili (Unija).

Mohammad Hidayaturrahman menyampaikan, Madura tidak akan bisa menjadi sarang teroris. Alasannya, karena tingkat toleransi masyarakat Madura yang tinggi dapat menjadi modal menolak tindak terorisme.

Selain itu, pria yang biasa dipanggil Mas Hidayat itu menyampaikan, terorisme sejatinya adalah korban perang pemikiran global. “Itu sangat berbahaya, utamanya bagi masyarakat yang belum memiliki dasar agama yang kuat,” katanya.

Sedangkan masyarakat Madura sudah dididik dengan dasar agama yang baik, bahkan telah dilakukan sejak usia dini.

Sementara, Kiali Ali Tsabit menuturkan, pentingnya belajar agama Islam secara kaffah atau tidak sepotong-sepotong.

“Belajar dari beberapa kasus tindak terorisme di Indonesia dimana aksi tindakan terorisme dilatar belakangi oleh pemahaman agama yang dangkal ataupun membaca ayat Alquran hanya setengah-setengah, sehingga menyebabkan kerancuan penafsiran terhadap Alquran,” katanya.

“Maka disinilah pentingnya berguru kepada orang yang ahli, supaya pemahaman terhadap agama Islam dapat menuntun tindakan dan pemikiran kita secara benar,” ujarnya.

Menurut dia, proses belajar agama yang benar dapat menciptakan masyarakat Madura yang keras “tape pakkun akerres“.(*)

Penulis: Putri KuzaifahEditor: Putri Kuzaifah
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.