PortalMadura.com–Di usia 24 tahun, Carina Hong telah menjadi salah satu tokoh paling menarik di industri kecerdasan buatan (AI). Ia membuat keputusan berani: meninggalkan program doktoral matematika di Universitas Stanford untuk mendirikan Axiom Math, startup berbasis AI yang bertujuan memecahkan persoalan matematika paling kompleks di dunia.
Didirikan pada Maret 2025, Axiom Math langsung menarik perhatian global. Hanya enam bulan setelah berdiri, perusahaan ini berhasil mengamankan pendanaan awal senilai US$64 juta pada September 2025. Kini, Axiom memiliki 17 karyawan inti—hampir semuanya berasal dari laboratorium riset AI terkemuka seperti Meta FAIR, Google Brain (kini bagian dari DeepMind), dan tim GenAI Meta.
Hong, yang lahir dan besar di Guangzhou, China, telah jatuh cinta pada matematika sejak kecil. Ia bahkan belajar bahasa Inggris sendiri hanya agar bisa membaca buku matematika tingkat lanjut. Prestasinya gemilang: saat SMA, ia menjadi satu dari empat perempuan yang lolos ke tim olimpiade matematika tingkat provinsi.
Pencapaian akademiknya membawanya ke Massachusetts Institute of Technology (MIT), tempat ia mengambil jurusan matematika dan fisika. Di sana, Hong menulis sembilan makalah riset dan menyelesaikan 20 mata kuliah matematika lanjutan—sebuah rekor luar biasa untuk mahasiswa sarjana.
Pada 2023, ia meraih Frank and Brennie Morgan Prize, penghargaan prestisius bagi peneliti muda di bidang matematika, atas kontribusinya di teori bilangan dan probabilitas. Ia kemudian melanjutkan studi sebagai Rhodes Scholar di Universitas Oxford, sebelum diterima di Stanford untuk program doktoral—dan sempat mendaftar di fakultas hukum.
Namun, semuanya berubah setelah pertemuannya dengan Shubho Sengupta, peneliti AI dari Meta, di sebuah kedai kopi dekat kampus Stanford. Diskusi mereka soal potensi AI dalam memecahkan masalah matematika tingkat tinggi menjadi cikal bakal Axiom Math. Sengupta pun menjadi karyawan pertama startup tersebut.
Terinspirasi nasihat CEO AMD Lisa Su yang mendorongnya mengejar “masalah paling menantang,” Hong memutuskan keluar dari Stanford begitu dana awal Axiom cair.
Nama “Axiom” diambil dari konsep matematika—yaitu kebenaran dasar yang menjadi fondasi suatu teori. Visi perusahaan ini jelas: menciptakan “AI mathematician”, sistem yang tidak hanya menjawab soal, tetapi mampu membuat, memverifikasi, dan bahkan menemukan teorema baru.
“Kami bukan bikin chatbot yang meniru jawaban,” tegas Hong kepada Forbes. “Kami mengajarkan AI membuktikan teorema.”
Dalam waktu singkat, Axiom berhasil merekrut para ahli kelas dunia. Selain Sengupta, timnya kini mencakup Francois Charton, yang pernah memecahkan masalah matematika berusia 100 tahun, Aram Markosyan—mantan kepala riset keamanan AI di Meta—dan yang paling mengejutkan: Ken Ono, matematikawan ternama dari University of Virginia yang dulu menjadi mentornya.
Ono menolak tawaran finansial lebih besar dari perusahaan AI mapan. “Saya ikut bukan karena uang,” katanya. Ia kini bertugas merancang soal-soal matematika yang mampu menguji batas kemampuan AI.
Menurut Hong, teknologi Axiom memiliki potensi komersial luas—mulai dari verifikasi perangkat lunak dan keras, keuangan kuantitatif, hingga kriptografi. Namun, yang paling menggerakkannya adalah tantangan intelektual: membangun fondasi menuju superintelligence melalui matematika.
“Kalau masalahnya cukup sulit, talenta terbaik akan datang,” ujarnya yakin.
Dan tampaknya, dunia mulai memercayainya.




