PortalMadura.com– Dua tautan berjudul “Teh Pucuk 17 menit” dan “Teh Pucuk 1 menit 50 detik” mendadak Viral di media sosial sejak Jumat (13/2), memicu kegaduhan publik yang ternyata tak berdasar. Penelusuran fakta membuktikan fenomena ini merupakan praktik clickbait klasik yang sengaja dikemas ulang untuk mengeksploitasi rasa penasaran pengguna internet.
Berdasarkan pemantauan tim cek fakta pada Senin (16/2), viralnya kedua tautan bermula dari potongan video pendek berdurasi kurang dari dua menit yang menampilkan botol minuman teh dalam kemasan hijau. Video tersebut kemudian disematkan narasi sensasional dan dikaitkan dengan isu Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Lombok Timur serta tuduhan melibatkan mahasiswi Universitas Mataram.
Menanggapi penyebaran hoaks yang kian meluas, Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) Universitas Mataram mengeluarkan klarifikasi resmi pada Sabtu (14/2). “Perempuan dalam video tersebut bukan mahasiswi Universitas Mataram,” tegas pernyataan tertulis Satgas PPKS yang diterima ANTARA. Pihak universitas juga menegaskan video itu tidak direkam di wilayah Nusa Tenggara Barat dan telah beredar sejak awal 2025.
Kepala Pusat Studi Media Digital Universitas Indonesia, Dr. Rizky Pratama, menjelaskan pola penyebaran hoaks semacam ini sengaja dirancang untuk memancing klik. “Angka durasi spesifik seperti ’17 menit’ atau ‘1 menit 50 detik’ sengaja dipakai karena memicu rasa penasaran lebih tinggi dibanding judul umum,” ujarnya dalam wawancara daring, Senin pagi.
Tim keamanan siber juga mengidentifikasi risiko nyata di balik tautan tersebut. Ketika diklik, pengguna tidak diarahkan ke platform video resmi melainkan ke situs pihak ketiga yang meminta login ulang akun media sosial atau mengunduh file mencurigakan. Pola ini identik dengan teknik phishing yang berpotensi mencuri data pribadi hingga menyebarkan malware ringan.
Di platform TikTok, fenomena ini justru memicu tren baru yang tidak produktif. Ratusan pengguna mengunggah konten bertema “video Teh Pucuk viral” hanya dengan menampilkan foto produk minuman tanpa konteks faktual. Konten semacam ini justru memperparah penyebaran hoaks karena meningkatkan visibilitas narasi palsu melalui algoritma platform.
Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui akun resmi @kemkominfo pada Minggu (15/2) mengimbau masyarakat untuk tidak mengklik tautan mencurigakan dan selalu memverifikasi informasi melalui kanal resmi. “Jangan terpancing judul provokatif. Video durasi panjang dengan konten sensitif jarang dibagikan melalui tautan acak di grup WhatsApp atau media sosial,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Fenomena “Teh Pucuk viral” kembali mengingatkan pentingnya literasi digital di tengah derasnya arus informasi. Alih-alih menjadi korban hoaks atau kejahatan siber, masyarakat diminta membiasakan tiga langkah sederhana: tahan diri sebelum klik, telusuri sumber informasi, dan laporkan konten mencurigakan melalui kanal resmi seperti aduankonten.id atau aplikasi Aduan Siber Polri.







