oleh

VIDEO – Tiga Saksi Bisu Keraton Arya Wiraraja di Batuputih, Satu Mematikan

PortalMadura.Com, Sumenep – Keberadaan Keraton Arya Wiraraja di Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, sempat menjadi perdebatan hangat kebenarannya.

Tetapi, sekitar tahun 2010, keluarga Wang Bang Pinatih dari Bali yang mengaku keturunan Arya Wiraraja meyakini bahwa pertama kali Arya Wiraraja menginjakkan kaki adalah di Batuputih.

Tepatnya di sebuah bukit yang saat ini diberi nama Buras (Dusun Buras), Desa Batuputih Daya, Kecamatan Batuputih. Lokasinya, tidak jauh ke arah utara dari simpang 3 depan Koramil Batuputih.

Hampir setiap tahun, mereka datang dan berkunjung ke tempat tersebut. Rombongan melakukan ritual berdasarkan kepercayaan mereka. Warga sekitar tidak pernah mengganggunya, mereka bebas datang dan dipersilahkan melakukan ritual.

Status lahan atau tanah yang hasil meditasinya diyakini sebagai tempat Keraton Arya Wiraraja merupakan milik warga setempat. Tidak ada bangunan apapun di lokasi tersebut. Saat ini, menjadi lahan pertanian berbatu.

Arya Wiraraja yang juga disebut Banyak Wide adalah seorang tokoh pemimpin pada abad ke-13 masehi di Jawa dan Madura. Dalam sejarah, ia dikenal sebagai pengatur siasat kejatuhan Kerajaan Singhasari, kematian Kertanagara, serta bangkitnya Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Kediri tahun 1293 dan pendirian Kerajaan Majapahit.

Penelusuran PortalMadura.Com, di tempat yang disebut-sebut bekas Keraton Batuputih, Sumenep, tersebut terdapat tiga saksi bisu. Tiga hal ini berbeda dengan tempat lain di sekitarnya, yakni Bato Toladhân, Tambiyu dan Pohon Nome.

1. Bato Toladhân

 

download
dok. Bato Toladhân di Batuputih Sumenep, dekat bekas Keraton Arya Wiraraja, Batuputih-Sumenep (Foto. @portalmadura.com)

Warga setempat menyebut Bato Toladhân (Madura) secara kasat mata mirip tiang teras rumah. Tingginya separuh orang dewasa. Keberadaan Bato Toladhân ini kurang lebih 500 meter ke arah barat (di atas tebing) dari lokasi yang sering dikunjungi tamu dari Bali.

Jika berdiri dari dekat Bato Toladhân tersebut, maka dapat melihat ke laut (utara), kota Sumenep dan sekitarnya (selatan), hamparan bumi daratan Sumenep (barat). Sedangkan ke arah timur terhalang dengan bukit lain.

Salah seorang sejarawan Sumenep, Tajul Arifin pada PortalMadura.Com menjelaskan, Toladhân dalam bahasa Madura aslinya sama dengan “contoh” (yang baik), tetapi kata Toladhân pasti asalnya dari kata Pangoladhân (tempat melihat).

“Tempat melihat atau memantau kapal atau armada China (Khu Bhilai Khan) yang akan menyerang Singhasari.
Jadi, untuk gampangnya (pengucapan) maka masyarakat menyebutnya dengan Toladhân,” kata Tajul.

2. Tambiyu

 

tambiyu
dok. Batu ‘Tambiyu’ di Bekas Keraton Aryawiraraja Batuputih Sumenep. (Foto. @portalmadura.com)

Warga menyebutnya Tambiyu. Sepintas seperti tidak mempunyai keanehan apapun. Secara kasat mata, Tambiyu adalah sebuah hamparan batu berwarna hitam dan di tengahnya terdapat lubang dengan kedalaman 30 cm dengan diameter 15 cm.

Saat musim penghujan, Tambiyu tersebut akan berisi air (bukan sumber). Di saat ada airnya, sebagian warga mempunyai keyakinan jika air tersebut bisa dijadikan obat segala macam penyakit. Dalam perkembangannya, kepercayaan ini tidak semarak tahun 80-an.

Di Tambiyu inilah, keluarga dari Bali melakukan ritual dan hampir setiap tahun berkunjung. Biasanya, datang pada saat musim kemarau atau pasca panen jagung di wilayah tersebut.

Sempat dijanjikan akan di bangun, namun belum menemukan titik temu dengan warga setempat, terutama dengan pemilik lahan. Bahkan, ada pertimbangan lain dari sejumlah tokoh masyarakat setempat.

“Kalau itu benar Tambiyu, maka dulunya dijadikan tempat minum kuda para pejabat keraton. Di sekitaran Asta Tinggi (makam raja-raja Sumenep) juga ada Tambiyu,” terang Tajul Arifin.

iklan hari santri

3. Pohon Nomè

Video Pohon Nome

Bukti bisu lainnya adalah Pohon Nomè. Penyebutan pohon nomè tidak asing bagi warga setempat. Warga tetangga desa pun mengenal pohon yang satu ini. Namun, tidak semua warga tahu kelebihan dari pohon tersebut.

Kata Nomè, dalam kamus lengkap Bahasa Madura (Adrian Pawitra 2009) mempunyai arti Jânglot atau nama tumbuh-tumbuhan (pohon/ kayu) yang mengandung racun mematikan. Saat ini, keberadaannya hanya beberapa meter dari batu hitam berlubang yang disebut Tambiyu.

Salah seorang warga, Moh. Hairi (30) menjelaskan, buah dari pohon nomè tersebut sering dijadikan alat untuk menangkap ikan. Dari buah itu mengeluarkan getah. “Bila getah itu dipakai untuk mencari ikan, maka ikan-ikan itu bisa mati,” katanya pada PortalMadura.Com.

Tajul Arifin juga membenarkan jika pohon tersebut beracun dan mematikan. “Pohon itu getahnya memang mengandung racun mematikan, dan getah tersebut dibuat untuk pemoles pucuk anak panah saat terjadi peperangan di masa lalu, dan dampaknya langsung mematikan,” ujarnya meyakinkan.

Sayangnya, dari tiga saksi bisu tersebut tidak ada pemeliharaan dari warga maupun pemerintah setempat. Bato Toladhân dan Tambiyu dibiarkan tanpa dibersihkan. Sedangkan Pohon Nomè hanya dijadikan tempat berteduh beberapa saat ketika warga petani panen jagung atau palawija lainnya.

Sumber lain menyebutkan, ada 3 versi tentang kelahiran Arya Wiraraja. Pertama, versi dari penulis Sumenep bahwa ia dilahirkan di Desa Karang Nangka, Kecamatan Rubaru, Kabupaten Sumenep.

Kedua, versi tradisional Bali. Dalam Siddhimantar Tattwa (Mahakerta Warga Danghyang Bang Manik Angkeran Siddhimantar Tattwa Pusat Provinsi Bali), disebutkan, ia dilahirkan di Desa Besakih, Rendang, Karangasem, Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem, Bali.

Ketiga, Mansur Hidayat, seorang penulis sejarah Lumajang menyebutkan, bahwa ia dilahirkan di Dusun Nangkaan, Desa Ranu Pakis, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang.

Hal ini berdasarkan analisanya di mana Pararaton tentang pemindahan Arya Wiraraja ke Sumenep dalam rangka “dinohaken” yang berarti “dijauhkan”, sehingga dimungkinkan ia bukan berasal dari Madura.

Kelahiran Arya Wiraraja di wilayah Lumajang (Lamajang Tigang Juru) juga dideduksi berdasarkan pemindahan kerajaannya dari Sumenep ke Lamajang pada tahun 1292-1294 masehi.

Sebagai seorang politisi ulung, tampaknya ia sudah mengenal betul daerah Lamajang. Demikian pun di sekitar Dusun Nangkaan, terdapat sebuah situs besar yang pernah digali tim “Balai Arkeologi Yogyakarta” pada tahun 2007, di mana situs ini dimungkinkan adalah pemukiman dengan komplek peribadatannya.

Tentang kelahirannya tokoh ini diperkirakan lahir pada tahun 1232 masehi karena dalam “Babad Pararaton” dinyatakan ketika terjadi ekpedisi Pamalayu, ia berusia sekitar 43 tahun dan menjadi Adipati Sumenep pada usia 37 tahun.

Dalam perjalanan politik selanjutnya, nama Banyak Wide atau Arya Wiraraja lebih mencuat dalam sejarah politik di kerajaan Singhasari.

Penobatan Arya Wiraraja menjadi Adipati Sumenep tanggal 31 Oktober 1269 inilah menjadi titik awal lahirnya Kabupaten Sumenep dan ditetapkan menjadi Hari Jadi Sumenep oleh Pemkab Sumenep. (*)

Baca Juga :

Penulis : Hartono
Editor : Putri Kuzaifah

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.