oleh

Wanita Madura Sukses dengan Empat Kunci

SILVIA CRISTINA mempunyai cara ampuh dalam menghadapi era globalisasi. Sebagai perempuan Madura yang lahir di Sumenep, 11 Maret 1989 mengaku sudah waktunya ikut berperan aktif dalam segala hal. Tentu saja, sesuai dengan kodrat kewanitaannya serta kemampuan diri.

“Kunci utama, perempuan Madura itu harus mempunyai keinginan untuk selalu berbenah diri,” kata Silvia, biasa disapa.

Menurut alumi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) ini, tanpa ada usaha untuk berbenah diri, maka perempuan Madura itu akan selalu tersingkirkan. Padahal, potensi dalam dirinya tidak kalah dengan wanita lain.

Setidaknya, ada empat hal yang perlu dipersiapkan oleh wanita Madura. Pertama, motivasi dan semangat yang ada pada diri sendiri untuk merubah hidup, perempuan tidak melulu harus di rumah untuk masak dan lain-lain.

Wanita juga bisa menjadi pemimpin di sebuah perusahaan. “Kalau ada semangat dan motivasi, akan banyak perempuan yang tidak hanya tangguh tapi dia pasti bisa mandiri,” ujar perempuan yang hoby hijab style.

Hal kedua, berkaitan dengan peningkatan potensi diri dalam menghadapi persaingan. Keingintahuannya yang tinggi akan berdampak pula pada tergalinya potensi diri. Jadi, tidak harus bergantung pada orang lain.

“Kalau sudah punya semangat dan motivasi dalam diri, kemudian diikuti oleh potensi yang ada, Insyaallah wanita Madura dapat bersaing dengan orang luar,” kata Silvia sambil tersenyum ramah.

Ketiga, wanita Madura juga harus berbenah dalam berkomunikasi, memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, akan menjadi salah satu tolak ukur diri seseorang. Dengan cara berkomunikasi yang baik, akan banyak hal yang akan didapat dalam hidup ini.

Madura yang dikenal dengan masyarakatnya yang kuat agama, jangan pernah ditinggalkan. Karakter ke Madura-annya yang memang mempunyai budaya dan adat kesopanan yang selalu dijunjung ditengah kehidupan masyarakat, harus tetap menjadi bagian utama yang harus dipertahankan.

Oleh karenanya, pada poin keempat, wanita Madura harus mempunyai filter yang baik dalam menghadapi dampak negatif dari era globalisasi ini.

“Agama tetap nomor satu mas, budaya dan kultur yang kita miliki juga harus menjadi pembalut dalam hidup ini,” tegas Silvia yang beralamat di Jalan Pelabuhan Kertasada No.44, Kalianget, Sumenep.(htn)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.