oleh

Warga Berjatuhan, Rebutan Masuk ke Lokasi Prosesi Ritual Nyadhar

PortalMadura.Com, Sumenep – Prosesi upacara “Nyadhar” memang tergolong unik dan sakral. Semua warga yang mengikuti nyadhar di pemakaman Asta Buju’ Gubang, Kampung Kolla, Desa Kebun Dadap Barat, Kecamatan Saronggi, Sumenep, Madura, Jawa Timur rebutan mencari celah agar bisa masuk lebih awal ke dalam areal pemakaman Pangeran Anggasuto.

Mereka ingin mendapatkan tempat paling depan dan bisa dekat dengan nisan Pangeran Anggasuto yang diyakini telah memberi ilmu dalam budidaya pembuatan air laut menjadi garam. Akibatnya, saat rebutan masuk di pintu utama, banyak warga yang berjatuhan karena terdorong oleh warga lain.

“Warga memang selalu berebutan untuk masuk kedalam petilasan leluhur kami, karena bagi masyarakat yang bisa masuk lebih awal dan tempat duduknya dekat dengan nisan Pangeran Anggasuto, mereka meyakini akan mendapatkan berkah lebih ketimbang masyarakat yang duduknya agak jauh,” kata Nardi (40), warga Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, Sumenep, Sabtu (9/8/2014).

Sebelum masuk ke pemakaman, masyarakat membeli kembang (Bhabur – Madura) yang banyak dijual warga di sekitar lokasi. Saat masuk, mereka menyerahkan kembang tersebut pada istri panitia atau tokoh adat, yang kemudian dikumpulkan bersama kembang milik warga lain.

Pelaksanaan Nyadhar akan segera dimulai. Tumpukan kembang dan sarana lainnya, seperti tenong (tempat makanan, buah-buahan dan hasil panen tani lainnya) dibawa masuk ke dalam areal pemakaman.

“Saat itulah, mereka berebut masuk kedalam areal pemakaman, untuk mendapatkan tempat paling depan. Namun, untuk mendapatkan tempat paling depan sangat sulit dan harus saling dorong dengan warga yang lain. Jika apes malah akan jatuh tersenggol,” ujar Nardi.(dien/htn)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.