Waspada! Badai PHK Besar-besaran Intai Indonesia 3 Bulan Lagi, Ini Penyebabnya

Avatar of PortalMadura.com
Waspada! Badai PHK Besar-besaran Intai Indonesia 3 Bulan Lagi, Ini Penyebabnya
Waspada! Badai PHK Besar-besaran Intai Indonesia 3 Bulan Lagi, Ini Penyebabnya

PortalMadura.com – Sinyal bahaya menyelimuti sektor ketenagakerjaan Indonesia. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, memproyeksikan akan terjadi gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran dalam kurun waktu tiga bulan ke depan.

Pernyataan tersebut disampaikan Said Iqbal dalam konferensi pers daring pada Senin (6/4/2026). Ia menyebutkan bahwa stabilitas industri saat ini sedang terhimpit oleh tekanan global dan kebijakan domestik yang dinilai kurang berpihak pada buruh lokal.


Dua Faktor Pemicu Utama Badai PHK

Menurut Said, ada dua variabel utama yang mengancam nasib ratusan ribu pekerja di tanah air:

1. Lonjakan Harga Energi Akibat Konflik Global

Eskalasi ketegangan di Timur Tengah antara Iran dengan sekutu Israel dan Amerika Serikat telah memicu kenaikan harga energi dunia. Meskipun pemerintah masih menahan harga BBM subsidi, harga BBM industri terus melambung mengikuti pasar global.

“Panjangnya perang ini akan memberikan tekanan pada biaya produksi, terutama bahan bakar untuk mesin, turbin, dan listrik. Pengusaha kini kesulitan karena biaya produksi membengkak, namun tidak bisa menaikkan harga jual produk secara instan,” jelas Said Iqbal.

2. Kontroversi Impor Mobil Pickup

Faktor kedua yang disoroti adalah kebijakan impor 160.000 unit mobil pickup dari India untuk program Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdeskel) Merah Putih. Said menyayangkan langkah pemerintah yang lebih memilih produk impor dibandingkan memaksimalkan kapasitas produksi dalam negeri.

Ia mengestimasi, jika ratusan ribu unit mobil tersebut diproduksi di pabrik lokal, Indonesia mampu menyerap sekitar 20.000 hingga 50.000 tenaga kerja baru. “Peluang itu hilang begitu saja. Kita justru menghidupi tenaga kerja di India, sementara pekerja kita sendiri terancam dirumahkan,” tambahnya.


Pekerja Kontrak Jadi Korban Pertama

Said mengungkapkan bahwa para pemimpin perusahaan sudah mulai memberikan sinyal efisiensi kepada serikat pekerja di tingkat pabrik. Jika biaya operasional terus tak terkendali dan pesanan (order) menurun akibat kalah saing dengan barang impor, maka pekerja kontrak akan menjadi kelompok yang paling awal terdampak.

“Jika pesanan berkurang, otomatis kontrak karyawan tidak akan diperpanjang. Ini adalah dampak nyata yang sudah di depan mata,” tegasnya.

Kondisi ini menambah daftar panjang tantangan ekonomi nasional tahun ini, di mana beban biaya produksi dan kebijakan impor menjadi ujian berat bagi ketahanan industri manufaktur di Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses