PortalMadura.com – JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak fluktuatif cenderung melemah pada perdagangan Selasa, 9 Juni 2026, setelah anjlok signifikan pada penutupan sesi Senin.
Pada perdagangan Senin, 8 Juni 2026, IHSG ditutup anjlok 252,63 poin atau 4,52% ke level 5.342,14, mencerminkan tekanan berat yang membayangi pasar keuangan domestik maupun global.
Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tren negatif di mana IHSG juga tercatat turun 8,69% dalam sepekan periode 2–5 Juni 2026.
Berbagai sentimen negatif, baik dari eksternal maupun internal, diperkirakan akan terus menjadi pemicu pergerakan pasar saham besok.
Sentimen Global: Geopolitik dan Ekonomi AS
Ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memicu tekanan jual di pasar global.
Serangan rudal Iran ke arah Israel telah meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, mendorong harga minyak mentah naik, dan memicu risiko inflasi berkelanjutan serta pelebaran defisit APBN 2026.
Bursa Asia secara kompak melemah sebagai respons terhadap eskalasi konflik ini.
Dari Amerika Serikat, data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari ekspektasi juga menimbulkan kekhawatiran.
Hal ini meningkatkan spekulasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang berpotensi memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan Domestik: Rupiah Melemah dan Arus Dana Asing
Di dalam negeri, pelemahan nilai tukar rupiah terus menjadi sorotan utama bagi investor.
Pada Senin, 8 Juni 2026, nilai tukar rupiah ditutup melemah 0,84% ke level Rp18.188 per dolar Amerika Serikat, setelah sebelumnya menyentuh kisaran Rp18.200 per dolar AS.
Pelemahan mata uang ini secara langsung menekan minat investor terhadap aset berisiko di pasar domestik, mendorong derasnya arus keluar modal asing.
Investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp3,73 triliun pada 5 Juni 2026, dengan total jual bersih mencapai Rp61,36 triliun secara tahun berjalan.
Kekhawatiran investor juga muncul dari kebijakan fiskal pemerintah yang ekspansif serta lonjakan subsidi energi, yang menambah beban sentimen pasar.
Selain itu, distorsi likuiditas yang ekstrem di pasar saham juga menjadi perhatian, terutama dengan terkonsentrasinya sebagian besar transaksi pada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), yang mencapai 45% dari total transaksi bursa pada satu hari perdagangan.
Situasi ini menciptakan narasi psikologis “Sell Indonesia”, di mana pasar menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia.
Prediksi IHSG 9 Juni 2026 dari Para Analis
MNC Sekuritas, melalui Head of Research Herditya Wicaksana, memperkirakan IHSG masih berada dalam tren turun yang kuat, didominasi tekanan jual.
Namun, dalam jangka pendek, IHSG berpeluang mengalami penguatan terbatas dengan level support di 5.300 dan resistance di 5.386.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, melihat probabilitas 72% bahwa IHSG akan melanjutkan pelemahan untuk menguji level 5.080, dengan level psikologis berikutnya di 5.000.
Rentang pergerakan IHSG yang perlu dicermati oleh Pilarmas Investindo Sekuritas adalah antara 5.180 hingga 5.380.
Phintraco Sekuritas juga memproyeksikan IHSG akan menguji level 5.100, mengingat penutupan di bawah level MA200 monthly secara teknikal membuka peluang penurunan lebih lanjut.
MNC Sekuritas menyarankan investor untuk mencermati area koreksi berikutnya di 5.184-5.282, dengan level support di 5.517 dan 5.381, serta resistance di 5.941 dan 6.588.
Pilarmas Investindo Sekuritas juga mengindikasikan area pergerakan yang cenderung melemah pada rentang support-resistance di 5.370 hingga 5.730.
Analis teknikal dari Astronacci, Dr. Gema Goeyardi, mencatat bahwa tanggal 9 Juni 2026 merupakan ‘cluster waktu’ yang cukup kuat dan berpotensi menjadi area pembalikan arah pasar.
Namun, pembalikan arah ini memerlukan konfirmasi tambahan seperti munculnya reversal candle, terbentuknya reversal pattern, atau peningkatan tekanan beli yang signifikan.
Area 5.241-5.398 dianggap sebagai zona harmonic support yang krusial untuk diamati.
Beberapa analis juga melihat peluang technical rebound selektif, terutama pada saham dengan tekanan berlebihan namun memiliki fundamental dan likuiditas kuat, pasca koreksi mendalam.
Rekomendasi Saham dan Strategi Investasi
MNC Sekuritas merekomendasikan beberapa saham untuk dicermati, antara lain PT Astra International Tbk (ASII), PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dan PT Nickel Mines Limited Tbk (NICL).
Mitrapost.com juga menyebut PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) sebagai kandidat rebound potensial karena likuiditas tinggi dan karakteristik defensif.
Maybank Sekuritas menyoroti PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) yang masih dalam tren naik dan tertahan oleh support Fibonacci 50% di kisaran 2.100.
Investor disarankan untuk tetap berhati-hati dan mencermati perkembangan global serta domestik, mengingat volatilitas pasar yang masih tinggi.
Mengamankan modal dalam bentuk uang tunai (cash) atau mengoleksi saham perbankan berdividen tinggi yang harganya lebih terjangkau bisa menjadi strategi, tetapi tetap dengan riset mendalam.
Ahli pasar modal Hendra Wardana juga menyarankan investor untuk memperbanyak aset aman di tengah ketidakpastian kebijakan.
Pasar saat ini lebih takut pada ketidakpastian daripada berita buruk itu sendiri, sehingga kejelasan arah kebijakan menjadi krusial.
Secara keseluruhan, pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan besar yang memerlukan kehati-hatian dan strategi investasi yang adaptif dari para pelaku pasar.




